Elena'S Transmigration Story

Elena'S Transmigration Story
Lima Puluh Empat (Truth or dare)


__ADS_3

"Kenapa gak ada yang ngajak?" Tanya Davin dengan datar saat melihat Eli dan bang Uzi yang berjalan dengan bergandengan tangan.


Bang Uzi dan Eli membalikan tubuh, lalu melihat Davin yang sedang berdiri di belakang mereka dengan menyilang kan tangannya di depan dada.


"Lo pagi-pagi udah hilang." Jawab bang Uzi dengan pandangan yang lebih datar.


"Menyeramkan. Gara-gara Panji sama Cakra tuh! Awas aja lo berdua." Batin bang Davin yang dapat di dengar oleh Eli.


"Ayo." Ajak Eli dan berjalan terlebih dahulu ke arah tokoh switer.


Bang Uzi dan Davin saling pandangan, kemudian berlari ke arah Eli yang sudah cukup jauh dari mereka.


"Apa?" Tanya Eli dengan langkah kali yang terhenti.


"Dah lah bang, lo ngalah." Ucap bang Davin dengan membawa Eli ke sampingnya.


"Gak." Jawab bang Uzi, dan membawa Eli ke sampingnya.


"Lo ngalah. Udah dari tadi lo sama Eli." Ucap bang Davin, dan memegang pergelangan tangan Eli, tetapi langsung di tapis orang nya begitu saja.


"Gak usah pegang-pegang." Ucap Eli, dan berjalan terlebih dahulu, meninggalkan bang Uzi dan juga Davin.


"Gara-gara lo." Kata bang Uzi dengan mata tajamnya, kemudian berjalan di samping Eli.


"CK! Jelas-jelas gue mau kongsi." Kata bang Davin dengan decakan di kalimatnya.


Kini, Eli, bang Uzi, dan Davin, sudah berada di depan banyaknya switer. Rencana nya, mereka akan membeli barang-barang yang kembar hari ini.


"Warna biru muda." Kata bang Davin dengan mengangkat switer polos berwarna biru muda.


"Army." Kata bang Uzi dengan mengangkat switer berwarna army.


"Biru muda, lebih bagus." Ucap bang Davin pada Eli.


"Gak. Army yang lebih bagus." Ucap bang Uzi yang menyakinkan.


"Gak! Itu warna apaan coba? Biru muda saja." Kata bang Davin.


"Lo diam. Army lebih bagus." Ucap bang Uzi.


Eli yang berada di tengah-tengah mereka hanya bisa menatapnya dengan datar.


"Biru muda." Kata bang Davin pada Uzi dengan penekanan.


"No! Army!" Ucap bang Uzi terhadap Davin dengan penuh penekanan.


"Biru muda"


"Army!"


"Kayak anak kecil." Ucap Eli dengan menatap kedua abangnya itu.


"Warna army." Ucap bang Uzi yang tidak menanggapi perkataan Eli tadi.


"Gak, pilih biru muda saja." Kata bang Davin.


Eli mengangkat bahunya dengan acuh, kemudian berjalan mengelilingi switer yang tergantung-gantung itu.


"Dah lah bang, lo ngalah sama adik sendiri." Ucap bang Davin yang tidak mau ngalah itu.


"Warna abu-abu saja." Kata Eli dengan mengangkat tiga switer kembar berwana abu-abu polos.


Bag Uzi dan Davin saling pandangan, kemudian menatap Eli, lalu mengangguk sebagai jawaban.


Ting.


Ponsel Eli berbunyi. Eli membuka layar ponselnya dan melihat ada nya pesan dari Abi.


Abi


Aku mau bicara sama kamu, di danau. Jam lima.


Eli hanya membaca pesan itu, kemudian mematikan layar ponselnya.


"Ayo." Ajak Eli pada para abangnya yang masih melihat-lihat switer.


...----------------...

__ADS_1


"Ngapain kamu di sini?" Tanya Rita dengan kesal.


"Kangen mantan ku." Jawab Cakra, lalu mengedipkan sebelah matanya.


"Mata lo rusak sebelah?" Tanya Rita dengan wajah polos nya.


Cakra mengusap matanya dengan pelan, "Masih aman." Jawab Cakra.


"Lo pulang deh, gue lagi malas bertemu dengan tamu. Apa lagi tamu gue sekarang itu lo." Kata Rita dengan kesal.


"Jangan ke makan omongan sendiri yah nanti." Kata Cakra dengan menggoda.


"Apaan coba? Mana mungkin...." Kata Rita dengan kesal.


"Masa sih?" Goda Cakra lagi.


"Dah lah. Lo pulang aja, nanti kalau Anggun lihat, kalian berdua gak bisa balikan lagi." Kata Rita dengan berusaha mengusir Cakra.


"Lo cemburu yah?" Tanya Cakra.


"Mustahil." Jawab Rita dengan cepat. Rita memasuki kembali rumahnya, kemudian menutup pintu dengan kasar.


"Dah lah. Gue udah di tolak, jadi mending kejar Anggun saja." Kata Cakra, lalu pergi dari rumah Rita.


Rita yang mendengar kata Cakra tadi hanya bisa nangis dalam diam, "Gue sayang sama lo." Kata Rita dengan pelan.


"Nak. Kamu kenapa?" Tanya wanita paruh baya dengan khawatir.


Rita berlari mendekati wanita paruh baya itu, lalu memeluk nya dengan erat, "Mah, Cakra...." Kata Rita dengan tangisan yang semakin besar.


Wanita paruh baya itu, yang ternyata adalah mamah Rita hanya bisa mengelus punggung anaknya dengan sayang "Maaf kan mamah nak." Kata wanita paruh baya itu.


...----------------...


"Lo suka sama siapa?" Tanya Ferni pada Arya.


Saat ini, Ferni dan Arya sedang berjalan santai di taman kota, banyak juga pengunjung yang datang.


Awalnya, mereka bertemu di tokoh kue, kemudian memutuskan untuk jalan ke taman kota bersama.


"Dih. Mau tahu yah lo?" Tanya Arya yang membuat Ferni kesal.


Ferni mengangguk, "Oke." Jawabnya dengan yakin, "Tapi gak ada botol." Kata Ferni dengan melihat sekitar nya.


"Suit aja." Jawab Arya dengan enteng.


Ferni berpikir, lalu mengangguk, "Oke. Ayo." Kata Ferni dengan semangat.


"Batu gunting kertas...." Kata Arya dan Ferni bersama.


Arya memperlihatkan kepalan jarinya. Dan Ferni lima jarinya yang terlihat.


"Yes!" Senang Ferni.


Sedangkan Arya hanya bisa menghembuskan nafasnya dengan kasar. "Nanti gantian gue." Kata Arya.


"Oke." Jawab Ferni.


"Hem, gue pilih dare." Kata Arya dengan senyum konyolnya.


Ferni memudarkan senyum nya, "Gak bisa gitu dong. Lo harus pilih truth." Kata Ferni yang seperti memaksa.


"Dih, kita kan main truth or dare. Itu kan pilihan, jadi terserah gue lah." Jawab Arya dengan enteng.


Ferni memberikan ekspresi datarnya, "Oke." Jawab Ferni.


"Lo pikir gue gak ada cara apa?" Batin Ferni dengan bertanya.


"Apa?" Tanya Arya dengan waspada.


"Cium Monik besok di sekolah. Di lapangan utama, depan para siswa-siswi." Jawab Ferni dengan smirknya.


"Gila lo! Ogah gue." Jawab Arya dengan malas.


"Kenapa?" Itu kan tangan dari gue. Jadi terserah gue dong...." Kata Ferni dengan mengibaskan rambutnya ke belakang.


"Gak. Dia sudah punya pacar, lo mau gue di gebukin?" Tanya Arya.

__ADS_1


"Yah, itu resiko lo. Kan gue hanya kasi tantangan." Jawab Ferni dengan tidak mau tahu.


"Ganti! Gue gak mau." Kata Arya dengan menawar.


"Hem, kalau mau di ganti, lo harus pilih jujur." Jawab Ferni.


"Ini lagi apaan?" Tanya Arya dengan jengah, "Gue minta ganti tantangannya saja. Bukan pilihan awal." Lanjut Arya.


"Lo tinggal pilih di antara dua-duanya." Kata Ferni yang memberikan dua pilihan.


"Mending gue gak pilih dua-duanya." Kata Arya, dan berdiri dari duduknya.


"Lo melangkah. Wajah lo gue warnai." Ancam Ferni dengan melihat kan tinta printer di tangannya.


"Wish, lo ngancam nih ceritanya?" Tanya Arya dengan tertawa hambar.


Ferni menaikan bahunya acuh, kemudian berdiri dari duduknya lalu berhadapan dengan Arya, "Pilih truth, atau gue siram." Kata Ferni dengan mengancam.


"Ais. Lo sebenarnya mau apa sih dari gue?" Tanya Arya.


"Lo pilih." Jawab Ferni dengan santai.


"Oke-oke." Jawab Arya dengan pasrah, "Gue akan pilih truth." Lanjutnya.


Ferni tersenyum penuh kemenangan, "Nice." Katanya.


"Cepat elah!" Sambar Arya.


Ferni menarik nafasnya dengan dalam, "Siapa yang lo suka?" Tanyanya dengan ekspresi serius.


"Dih lo ke-"


"Jawab." Kata Ferni dengan datar, malas mendengar basa-basi yang di lontarkan Arya.


Arya menarik nafasnya, "Anggun." Jawab Arya.


Ferni menegang di tempat, menatap Arya tidak percaya, "Serius?" Tanya Ferni.


"Ia." Jawab Arya.


"Lo kan tahu dia di kejar sama." Kata Ferni yang terhenti.


"Cakra." Sambung Arya, "Gue tahu. Dan gue juga akan kejar dia." Lanjut Arya dengan penuh keyakinan.


"Hem." Dehem Ferni.


"Tolong jangan kasih tahu Anggun soal ini." Pinta Arya dengan memohon.


Ferni mengangguk, "Yah." Jawabnya.


"Oke, sekarang gantian gue yang tanya." Kata Arya dan di balas anggukan kepala oleh Ferni.


"Siapa yang lo suka?" Tanya Arya, "Jawab jujur." Sambung nya.


Ferni menatap Arya, siapa untuk menjawab dengan jujur, "Lo." Jawabnya


Arya diam di tempat, "Lo siapa?" Tanya Arya yang ingin memastikan jawaban Ferni.


"Arya." Jawab Ferni.


Arya berdiri dari duduknya, "Lo? kenapa bisa? Lo kan udah tahu kalau gue suka Anggun." Kata Arya dengan suara pelan tetapi menekan.


"Ia, gue tahu. Dan gue baru tahu sekarang." Jawab Ferni dengan mengepalkan jari-jemarinya di belakang tubuh.


Arya mengacak rambutnya, "Maaf, tapi gue gak suka lo. Gue suka nya sama Anggun." Jawab Arya yang ingin Ferni mengerti.


Ferni menganggukkan kepalanya, "Gue ngerti." Jawab Ferni, lalu berdiri di hadapan Arya.


"Maaf Ferni, gue gak bermaksud." Kata Arya dengan pelan.


Ferni menerbitkan senyumnya dengan manis. Senyum manis aslinya, karena selama ini, dia memalsukan semua senyumnya. Dan itu pertama kalinya Arya melihat senyum manis Ferni, "Ia. Tidak masalah, lagian gak ada yang tahu kapan rasa suka itu hadir kan?" Kata Ferni. "Gue akan berhenti suka sama lo. jadi lo bisa kejar Anggun dengan bebas. Tenang aja." Sambung Ferni.


Arya mengangguk, "Thanks karena lo udah ngertiin gue." Jawab Arya.


Ferni mengangguk, "Gue duluan." Pamit nya dan pergi dari hadapan Arya.


Saat Ferni berbalik, air matanya langsung menetes dan terjun begitu saja dengan bebas, "Thanks untuk hari ini Tuhan." Kata Ferni dengan pelan, lalu menghapus air matanya.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2