Elena'S Transmigration Story

Elena'S Transmigration Story
Dua Puluh Enam


__ADS_3

"Jadi, lo Kia?" Tanya bang Uzi.


Eli hanya mengangguk sebagai jawaban.


Saat ini, Eli dan bang Uzi berada di taman. Setelah kejadian tadi, mereka memutuskan untuk membahas


nya bersama di taman.


Kejadian tadi? Yah, kejadian di mana saat Eli menyerang para preman di gang sepi. Lebih tepatnya, para preman lah yang menyerang Eli duluan, dan semua itu di saksikan oleh bang Uzi. Namun, bang Uzi hanya lihat, saat Eli menendang perut salah satu preman, sampai muntah darah.


"Setahu gue, Eli tidak punya alter ego." Kata bang Uzi, membuat Eli mengalihkan pandangannya.


Alter ego? Yah, Eli mempunyai alter ego, lebih tepatnya, Elena lah yang punya. Elena kira, alter ego nya tidak akan ia bawa, seperti kemampuannya yang bisa mendengar batin, dan membaca pikiran seseorang. Namun ternyata, alter ego nya tetaplah ikut berpindah.


"Kenapa lo gak jawab?" Tanya bang Uzi.


"Apa yang Anda ketahui tentang Eli?" Tanya Kia dengan datar. Dia, Zazkia, di panggil Kia, alter ego Elena, yang ikut nyasar pada tubuh Eli. Dia akan mengambil alih tubuh Eli, saat benar-benar marah, dalam kondisi yang gak baik, malas ladeni, atau Eli sendirilah yang memintanya. Sifatnya yaitu, gampang marah, dan sangat obsesi untuk melukai seseorang, tentunya orang yang salah. Cara membedakan dia Kia dan Eli adalah, warna bola mata. Kia memiliki bola mata berwarna biru laut, sedangkan Eli, hitam pekat.


"Saya abangnya. Dan dia adik ku. Aku berhak tahu tentang dirinya." Jawab bang Uzi dengan nada datarnya.


"Aku terlahir, karena dia yang sering tertekan." Kata Kia.


"Tertekan? Selama ini dia hanya baik-baik saja." Kata bang Uzi yang bingung dengan jawaban dari Kia.


"Hahaha, katanya Eli adalah adik mu. Namun kenapa? Kenapa kau tidak tahu jika Eli tertekan?" Tanya Kia dengan mengangkat satu alisnya.


"Selama ini dia bersikap, seolah sangat bahagia. Jadi gue simpulkan dari situ. Jika dia, tidak pernah tertekan." Kata bang Uzi dengan penekanan.


"Oh yah?" Tanya Kia dengan sisa tertawanya. "Maka lo buka abang Eli." Kata Kia dengan datar, kemudian bangkit dari duduknya.


"Lo mau bawa adik gue ke mana?" Tanya bang Uzi.


"Menenangkan diri." Jawab Kia dengan terus berjalan, tanpa berbalik untuk melihat bang Uzi.


"Sekarang lo jadi punya rahasia yah?" Tanya bag Uzi sambil menatap punggung Eli yang semakin kecil. "Berapa banyak lagi rahasia lo? Secret Queen?" Lanjutnya, kemudian menatap bintang yang bertaburan di langit.


Flashback on.


"Kamu suka bintang atau bulan?" Tanya seorang cowok yang sedang duduk di hamparan rumput yang hijau, di temani oleh banyaknya bintang pada malam hari, dia Uzi Prayaga.


"Aku suka bintang kak." Jawab seorang gadis cantik, yang memiliki rambut hitam pekat yang sangat tebal.


"Alasannya apa?" Tanya Uzi.


"Karena mereka banyak. Dan yah, mereka sahabat aku." Jawab gadis cantik itu.


"Kadang bintang tidak sebanyak itu." Jawab Uzi.


"Nyatanya, mereka tetap bersama, walau jauh." Jawabnya.


"Oke. Turus kenapa mereka bisa menjadi sahabat kamu?" Tanya Uzi.


"Karena mereka yang mendengar setiap keluh kesah ku. Mereka memang gak memberikan saran. Namun mereka membuat ku merasa sedikit lega." Jawab gadis itu sambil tersenyum manis.


"Oh oke." Jawab Uzi. "Kamu masuk sana. Udaranya udah terlalu dingin." Suruh bag Uzi.


"Oke. Kakak juga masuk yah." Pinta gadis itu, kemudian berjalan untuk masuk kedalam fila.


Flashback off


"Gimana keadaan kamu sekarang? Aku merindukanmu." Kata bang Uzi, tanpa di minta, air matanya terjun begitu saja. "Aku sangat merindukanmu, Rara." Lanjutnya, dan menghapus air mata, kemudian pergi dari taman.


...----------------...


"Mah, aku mau bicara." Kata papah Abson.


Saat ini, mamah Fana dan papah Abson sedang berada di kamar. Papah Abson yang sedang berbicara dengan mamah Fana tetapi hanya di cuekin.


"Mah." Panggil papah Abson lagi.


"Silahkan." Jawab mamah Fana yang lagi menonton drakor di laptop.

__ADS_1


"Tinggal dulu kegiatan kamu itu." Suruh papah Abson.


Dengan sangat kesal, mamah Fana mematikan laptopnya. "Apa?" Tanya mamah Fana ketus.


"Kamu marah aku?" Tanya papah Abson.


"Gak tahu." Jawab mamah Fana.


"Aku minta maaf." Kata papah Abson dengan menunduk.


"Aku mau tanya kamu deh." Kata mamah Fana, papah Abson yang menunduk tadi segera melihat istrinya itu.


"Kamu senang mempunyai seorang putri?" Tanya mamah Fana dengan serius.


Papah Abson segera mengangguk, "ia, aku senang." Jawabnya.


"Tapi yang kayak Monika kan?" Tanya mamah Fana sinis. Papah Abson hanya bisa diam.


"Dia putri kamu Abson! Dia seorang putri yang kita tunggu kehadiran nya. Namun kenapa? Kenapa kamu malah membencinya? Kamu membedakannya. Kenapa?" Tanya mamah Fana dengan air mata yang sudah terjun dengan bebas.


"Fana, aku, tidak tahu." Jawab papah Fana dengan penyesalan.


"Apa yang kamu tidak tahu? Kamu tidak tahu jika dia putri mu? Keluarga Prayaga?" Tanya mamah Fana.


"Fan-" Perkataan papah Abson yang harus terpotong.


"Aku gak tahu lagi mas, kamu melukai putriku. Artinya kamu pun melukai ku!" Kata mamah Fana, dan merebahkan dirinya di kasur.


"Aku minta ma-" Perkataan papah Abson yang lagi-lagi harus terpotong.


"Kalau mau minta maaf, pergi pada putri ku!" Kata mamah Fana kemudian mulai memejamkan matanya.


...----------------...


"Sayang, kamu kenapa sih? Kok dari tadi cuek?" Tanya paman Ardan.


Yah, sekarang beralih pada paman Ardan dan bibi Siska. Dengan keadaan bibi Siska yang membaca komiknya. Dan paman Ardan yang memangku laptop nya.


"Kamu marah?" Tanya paman Ardan.


"Yah jelas lah!" Kata bibi Siska dengan menaikan oktaf suaranya, membuat paman Ardan kaget.


"Karena apa?" Tanya paman Ardan.


Bibi Siska menutup bukannya dengan kasar, lalu menatap suaminya dengan tajam. "Kenapa kamu gak bela keponakan tersayang ku?" Tanya bibi Siska.


"Monika?" Tanya paman Ardan.


"Yah jelas bukan lah!" Jawab bibi Siska dengan cepat.


"Terus? Eli?" Tanya paman Ardan.


"Ia." Jawab bibi Siska.


"Apanya yang mau di bela?" Tanya paman Ardan dengan kembali memainkan laptopnya.


"Dia keponakan kamu, masa gak ada sedikitpun untuk bela dia? Jelaskan, masalah tadi itu karena Monik?" kata dan tanya bibi Siska.


"Siska. Kamu tahu betul, bagaimana perasaan aku sama Eli." Kata paman Ardan dengan nada datarnya.


"Terserah." Jawab bibi Siska lalu memasuki kamar mandi.


...----------------...


"Apa aku yang berubah?" Tanya bang Devin.


Sekarang beralih pada bang Devin. Saat ini, bang Devin sedang duduk di meja belajar, sambil menggambar sesuatu di bukunya.


"Tapi kenapa dia juga berubah?" Tanya bang Devin, lalu meletakan pensilnya di atas buku gambar dengan kasar.


"Kenapa gue seakan tidak mengenalinya?" Tanyanya sambil mengacak-acak rambutnya frustasi.

__ADS_1


Flashback on.


"Bang Dev senang punya adik perempuan?" Tanya papah Abson pada Devin kecil.


"Ia pah." Jawab Devin kecil.


"Kalau bang Dav?" Tanya mamah Fana.


"Sangat senang." Jawab Davin kecil sambil mencium pipi gembul milik bayi perempuan yang baru berusia satu tahun.


"Mau janji sama mamah gak?" Tanya mamah Fana pada bang Davin dan Devin kecil, yang baru berusia dua tahun.


"Apa?" Tanya Devin kecil, sedangkan Davin hanya mengangguk.


"Jaga adik kalian." Kata mamah Fana.


"Siapa mah!" Seru Davin dan Devin kecil.


"Papah juga." Suruh mamah Fana.


"Ia." Jawab papah Abson.


"Ingat, dia berlian kita." Kata mamah Fana.


"Ia." Jawab papah Abson, Davin dan Devin kecil. Mereka keluarga bahagia. Bahkan sekarang menjadi sangat bahagia, saat kehadiran putri dari keluarga Prayaga. Dia, Ferelina Marselena Prayaga.


Flashback off.


"Maaf." Lirih bang Devin.


...----------------...


"Maaf, abang tidak bisa menjagamu Eli." Kata bang Davin.


Sekarang kita beralih pada bang Devin. Saat ini, bang Davin sedang duduk di sofa, sambil melihat album foto.


"Di sini, kita terlihat sangat bahagia." Kata bang Davin sambil mengelus foto Eli saat kecil.


"Di sini, kita masih saling jaga." Kata bang Davin sambil mengelus foto Eli, dia dan kembarannya.


"Semoga kita bisa kayak dulu lagi." Kata bang Davin, kemudian menutup albumnya.


...


**Apa nih yang mau di bilang sama mereka pada part ini?



Eli.


Bang Uzi.


Rara.


Paman Ardan.


Bang Devin.


Bang Davin.


Dll**.




***Thanks buat yang udah mampir. Jangan lupa tinggalkan jejaknya***.



***Salam hangat***,

__ADS_1


***Fea***.


__ADS_2