Elena'S Transmigration Story

Elena'S Transmigration Story
Empat Puluh Delapan (Perang 2)


__ADS_3

"ABI! KITA KALAH JUMLAH!" Teriak Lukas dengan tangan yang sibuk menonjok orang-orang dengan pakaian serba hitam itu.


"MUNDUR SAJA KALI INI!" Teriak Zidan dengan menendang perut lawan, kemudian menonjok nya.


"DARI PADA KITA MATI KONYOL!" Teriak Arya, kemudian berlari untuk berlindung di belakang musuh, membuat teman tempur nya tadi salah menendang. Buka Arya yang di tendang, melainkan temannya sendiri. Hal itu membuat Arya puas, karena mereka saling berkelahi.


"Percuma lawan untuk menyelamatkan mereka, tetapi kita yang habis duluan." Kata Andre dengan datar tetapi tegas. Hal itu membuat perkelahian berhenti.


Arya menepuk jidatnya saat melihat Andre yang sedang santai, seperti tidak terjadi apa-apa.


Zidan dan Lukas saling pandang, kemudian menggelengkan kepala mereka.


"Pantas saja." Pikir Arya, Lukas, Zidan, dan Riyan.


Dan Abi? Abi menatap datar pada Andre, kemudian berjalan mendekatinya, "Kendalikan." Kata Abi dengan datar, tangannya memegang pundak Andre, saat dia berada di hadapannya.


Abi menatap mata Andre dengan serius. Sedangkan Andre? Andre menatap Abi dengan kilatan amarah. Hal itu membuat Abi harus bersabar agar tidak terpancing emosi.


"APA MAKSUD LO?!" Tanya Andre dengan menyingkirkan tangan Abi dari pundaknya dengan kasar.


Saat ini, Andre meletakkan kaki kirinya di atas dada tangan kanan penculik itu. Banyak darah yang keluar dari telinganya, hidung, mulut dan kepala tangan kanan penculik itu. Tidak tahu apa yang di lakukan Andre, sampai segitunya.


"Gue? Gue mau lo kendalikan diri lo! Karena lo bisa bunuh orang." Kata Abi dengan penekanan, seketika aura di sekitar menjadi mencengkram. Lukas, Zidan, dan Arya waspada.


Bang Uzi, dan Davin, sedang memperhatikan sekitar, "Seperti ada yang aneh." Pikir mereka berdua.


"GUE GAK BUNUH! LIHAT! DIA MASIH HIDUP!" Kata Andre dengan nafas yang memburu, dadanya naik turun dengan cepat. Tangan mengepal, rahang mengeras, dan urat-urat di lehernya sangat terlihat jelas.


"Tapi semakin lama, dia akan mati." Kata Abi dengan tenang, tidak mau ikut terpancing emosinya.


Andre yang sudah tidak tahan lagi, langsung menonjok Abi.


Bugh.


Lukas berlari mendekati Abi dan Andre, "Lo berdua diam!" Suruh Lukas dengan bentakan, berdiri di tengah-tengah Andre dan Abi, bukankah tindakan yang benar.


Bugh.


"Nah kan." Batin Lukas, saat mendapat bogem dari Abi, dan tendangan kuat Andre.


Zidan berlari mendekati Lukas, kemudian Bantu untuk berdiri, "Lo sih! Sok jagoan." Kata Zidan dengan memapah Lukas untuk menjauh dari Abi dan Andre.


"Dari pada mereka berkelahi." Ucap Lukas dengan sinis.


"Tapi sama aja! Mereka tetap berkelahi." Kata Zidan dengan mengarahkan pandangannya pada Abi dan Andre yang sedang adu jotos itu.


"CK! Arya mana kah?!" Tanya Lukas dengan mengedarkan pandangannya ke berbagai arah.


"Bang Uzi sama Davin juga ke mana?" Tanya Zidan saat menyadari tidak adanya bang Uzi dan Davin.


"ANJ*NG!" Umpat Andre.


Bugh.


"B*bi." Umpat Abi dengan duduk di tanah.


"BERHENTI!" Teriak Arya dengan berlari ke arah Abi dan Andre.


"Nah, tuh dia. Dari mana?" Tanya Zidan pada Lukas, dengan jari yang menunjuk Arya.


"Kalian berdua diam. Dengar, ini darurat." Ucap Arya dengan serius, tetapi nafas yang tidak teratur.


"Apa?" Tanya Abi dengan datar.


"Kenapa?" Tanya Andre dengan biasa, seperti tidak terjadi apa-apa.

__ADS_1


"Desa Dirgayu akan di serang. Mending kita cepat selamat mereka yang di sandra." Kata Arya dengan serius.


"Ayo." Ajak Abi, kemudian mereka semua berjalan bersama.


"Bang Uzi sama Davin mana?" Tanya Zidan pada Arya.


"Mereka nanti menyusul. Tadi mereka bertemu sama anggota Morgenster." Kata Arya.


Abi yang mendengar perkataan Arya langsung berhenti, "Morgenster?" Tanya Abi untuk memastikan.


"Ia. Katanya Queen mereka ada di sini." Ucap Arya, dengan langkah yang kembali berjalan.


"Eli membuka nama Morgenster di sini?" Pikir Abi, kemudian lanjut berjalan.


Di sini, inti Clouts tidak tahu jika Eli adalah ketua dari geng Morgenster, kecuali Abi.


"Helikopter?" Tanya Lukas saat melihat adanya helikopter di atas mereka. Enam orang turun dari helikopter, menggunakan tangga-tangga tali.


"Queen." Sapa Lukas, Zidan, Arya, dan Andre.


"Hem. Ayo cepat selamat kan mereka." Ucap Queen, dan berjalan memimpin di depan.


Mengapa berjalan? Karena mereka akan bertarung dadakan, jaraknya pun tidak jauh. Jika kalian berpikir para penjaga penculik itu mendengar suara helikopter, maka jawaban nya benar. Namun mereka tidak akan tahu, kapan lawan akan datang bukan? Walau mereka sebelum nya sudah waspada karena mendengar suara helikopter.


"Andre, Arya dan Lukas. Serang di bagian kiri. Zidan, Riyan dan Abi, serang bagian kanan. Dan kalian berlima, serang bagian belakang. Uzi dan Davin akan menyerang dari atas." Kata Queen, membuat mereka bingung, kecuali Abi


"Tahu dari mana nama kita?" Pikir mereka.


"Bukan saat nya berpikir. Cepat!" Ucap Queen dengan tegas, kemudian mereka berjalan ke arah yang sudah di tentukan, kecuali Abi.


"Jaga dirimu." Kata Abi, kemudian mencium pundak kepala Eli.


Eli memeluk Abi, "Kamu juga."


"CK! Kalau tidak karena Daniel tadi, ini sudah berakhir." Ucap Queen dengan kesal, kemudian berjalan terang-terangan di depan bangunan yang sudah tua. Banyak lawan yang menghadang Queen, tetapi dengan gampangnya di buat tumbang. Karena suara helikopter tadi, penjagaan di luar lebih ketat.


Ingat, Queen adalah Eli. Eli bukan gadis yang lemah, dan dia juga punya Kia yang menjaga dirinya. Eli dan Kia bisa bekerja sama, tetapi mempunyai dampak yang besar. Untuk itu mereka hanya dua kali melakukan kerja sama, dan kali ini Eli harus bisa menahan dirinya saat melihat, darah.


Melihat lawan yang tumbang, membuat Queen mengeluarkan smirknya. Langkah nya terus berjalan masuk, tidak mau membuat waktu lebih banyak lagi.


Sedangkan di tempat bang Uzi dan Davin.


"AH!" Teriak orang satu.


Bang Davin terkekeh di balik pintu, karena tadi dia di kaget kan oleh orang satu, saat baru saja mau keluar dari gudang. Dengan refleks, bang Davin menutup pintu.


Bang Davin membuka pintu nya perlahan, "Lah, tepar?" Tanya bang Davin, entah pada siapa. Tidak mau mengurus, bang Davin langsung pergi dari gudang.


Di tempat Arya, Andre, dan Lukas, mereka sedang melakukan adu jotos dengan lawan mereka. Tidak banyak, tetapi cukup untuk di lawan. Dan mereka melawan juga tidak sulit, "Bukan saingan ku." Pikir mereka.


"Ayo." Ajak Lukas, dan melangkahkan kakinya ke arah bangunan tua itu, di ikuti Arya dan Andre.


Di tempat Abi, Zidan, dan Riyan, sama dengan yang di depan. Karena ternyata, penjagaan di depan dan sebelah kanan bangunan, lebih ketat, bahkan Abi, Zidan, Riyan, sudah kelelahan.


"ABI! BAGAIMANA INI?! " Teriak Zidan.


"LAWAN SAJA!" Jawab Abi, dengan terus melawan musuh di hadapannya.


"INGAT! TANGGUNG JAWAB KITA BESAR SAAT INI!" Teriak Riyan, lalu menindih tubuh lawan.


Di tempat bang Uzi, "Banyak sekali ruangan nya." Kata bang Uzi dengan kesal, kakinya terus melangkah untuk menyelusuri lorong-lorong.


TOK! TOK! TOK!


Suara ketukan pintu yang di ketuk sangat kuat, membuat bang Uzi melangkah untuk mendekati ruangan tersebut.

__ADS_1


"BUKA!" Teriak seorang gadis dari dalam ruangan yang terlihat gelap itu.


Bugh.


"Bang*e!" Umpat bang Uzi saat ada yang menendang bokongnya.


"Siapa kamu?!" Taya penjagaan ruangan itu sambil menyodorkan gagang sapu.


"Saya temanmu." Jawab bang Uzi degan kesal, tangan kirinya ia gunakan untuk membersihkan celana yang di tendang tadi.


"Oh, maaf. Tolong jaga ruangan ini, sedang ada penyerangan di luar. Saya akan membantu yang di luar terlebih dahulu." Ucap orang tadi, dan di angguki oleh bang Uzi.


Orang tadi pergi dengan terburu-buru membuat bang Uzi menatap dengan tambah kesal, "Awas aja lo! Untung bukan naga kecil gue." Kata bang Uzi, kemudian membuka pintu berwarna coklat itu.


"Pakai di kunci segala!" Kesal bag Uzi, dengan kepalan tangan yang memukul pintu.


"KALIAN MENJAUH DARI PINTU! SAYA AKAN DOBRAK." Ucap bang Uzi dengan sedikit berteriak.


Dugh.


Pintu berhasil di buka, dan betapa terkejutnya Zidan, saat mendapatkan banyaknya anak kecil, "Raya? Raya mana?" Tanya bang Uzi dengan panik.


"Ta-tadi di bawa." Jawab anak laki-laki berusia empat tahun.


"Jihan! iringi anak-anak kecil itu." Suruh bang Uzi, kemudian anak-anak tersebut keluar dari ruangan gelap itu.


"Baik kak." Jawab gadis yang bernama Jihan itu.


Mengapa hanya anak kecil laki-laki itu saja yang di gendong? Karena anak itu yang paling kecil sendiri, di tambah adanya luka di kaki kiri.


Bang Uzi membawa anak-anak keluar lewat jalan belakang, ini sudah di atur oleh Queen, dan anggota Morgenster.


"Pak!" Panggil bang Uzi, saat mendapatkan bapak-bapak suruhan Queen.


"Cepat bawa ke AR Hospital." Ucap bang Uzi dengan cepat, takut ada yang melihatnya.


"Baik." Jawab bapak itu, dan pergi menuju helikopter.


"Jangan sampai Eli tahu Raya di bawa." Ucap bang Uzi, dan berlari ke kanan bangunan, kemudian membantu Abi, Zidan, Riyan, yang sudah terlihat lelah itu.


Kembali ke Queen, "Dimana Raya?!" Tanya Queen dengan datar, dan aura di dalam ruangan itu menjadi mencengkram.


"Wah wah wah. Lihatlah. Queen Morgenster berada di sini." Ucap pria paruh baya, dengan memegang rokoknya di tangan sebelah kiri. Tangan kanannya dia gunakan untuk memutar gelas berukuran kecil.


Pria paruh baya itu berusaha untuk tetap bersikap seperti biasa, tidak mau terlihat lemah, ketakutan, dan lain-lain.


"Di mana Raya?" Tanya Queen dengan datar, kakinya melangkah ke arah pria paruh baya yang sedang duduk di kursi kebesaran nya.


Piria paruh baya itu menghisap rokoknya, "Anak kecil yang manis itu?" Tanyanya tetapi tidak di jawab oleh Queen.


"HAHAHAHA." Tawa pria paruh baya itu, membuat Queen semakin mengepalkan tangannya. "Dia sudah di bawah pergi." Lanjutnya dengan serius, bahkan tidak ada sisa tawa dalam ucapannya.


Bugh.


Queen menendang pria itu sampai terjatuh dari kursi nya, "Di mana dia?" Tanya Queen dengan aura mengintimidasinya.


"Sudah ku bilang! Dia sudah di bawa!" Jawab pria itu dengan membentak.


Queen menonjok wajah pria tadi, kemudian menarik topeng yang di gunakan nya.


Queen mengeluarkan smirknya saat melihat wajah pria paruh baya itu, "Sudah ku duga." Ucap nya, kemudian mengganti ekspresi wajahnya menjadi datar.


DOR.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2