Elena'S Transmigration Story

Elena'S Transmigration Story
Dua Puluh Lima


__ADS_3

"Gak mampir dulu?" Tanya Eli.


"Gak. Aku mau ke markas." Jawab Abi.


"Ngapain?" Tanya Eli sambil memancing kan matanya.


"Em, cuma kumpul." Jawab Abi diiringi dengan jantung yang melompat-lompat.


Eli hanya mengangguk ragu sebagai jawaban.


"Ya udah. Sana masuk." Suruh Abi.


"Hati-hati, nyampe kabarin." Kata Eli dengan senyumnya.


"Ia." Kata Abi, kemudian Eli masuk ke dalam rumah. Abi memakai helmnya, kemudian menarik pedal gas, dan meninggal kan pekarangan keluarga Prayaga.


...----------------...


"Eh bos. Udah datang?" Tanya Andre.


"Kalau belum datang. Tidak akan ada bos di depan kita." Kata Arya.


"Oh. Oke." Jawab Andre.


"Lo kembali di tantang." Kata Zidan tiba-tiba.


Abi hanya mengangguk, dia sudah tahu itu.


"Lo dapat pesan dari dia langsung?" Tanya Lukas.


"Yah. Dia ngancam." Kata Abi.


"Ngancam apa?" Tanya Arya penasaran.


Abi mengeluarkan ponselnya, lalu memberikan pada Arya.


"Wah! Ini ngaco!" Kata Arya yang sudah membaca pesan nya.


"Abi, dia tidak pernah bermain dengan ucapannya." Peringat Zidan yang juga membaca pesan Abi dengan orang itu tadi.


"Lo harus hati-hati." Tambah Andre.


"Gue rasa, lo harus jauhi dia." Kata Arya tiba-tiba.


"Maksud lo apaan?" Tanya Abi datar.


"Sabar dulu bos, bukan gitu maksud gue." Kata Arya menenangkan.


"Duduk." Suruh Lukas yang lagi duduk dengan santai, sambil memainkan ponselnya.


"Gak nyadar gue!" Kaget Andre.


"Heleh. Baru berapa menit. Waktu itu noh, di hukum empat jam berdiri. Sambil hormat lagi." Kata Arya dan mengambil posisi untuk duduk di samping Lukas.


Abi dan Zidan duduk di karpet bulu, sambil menyandarkan tubuhnya di dinding.


Andre yang tidak di anggap hanya mendengus kecil, kemudian mendekati Lukas, untuk duduk di sampingnya.


"Lo berdua ngapain?" Tanya Lukas pada Andre dan Arya.


"Duduk." Jawab keduanya kompak.


Lukas hanya mendengarkan, kemudian melanjutkan kegiatannya, yaitu main game di ponsel.


"Maksud lo tadi gimana?" Tanya Andre pada Arya.


"Jadi bos, mending lo pantau dia dari jauh aja." Usul Arya pada Abi.


"Tujuannya?" Tanya Andre bingung.


"Supaya dia mikir, kalau bos udah gak perduli lagi. Karena lagi dekat sama bu bos." Jelas Arya.


"Gak ada salahnya untuk di coba." Kata Zidan.


"Ia." Kata Lukas yang pandangannya tidak lepas dari ponsel tersebut.


"Gue coba." Kata Abi.


"Lo gak usah tanya kabarnya, secara online." Kata Zidan.


"Supaya dia tambah percaya." Lanjut Arya.

__ADS_1


"Lo bisa tanya, saat bertemu dengan dia." Kata Zidan lagi.


"Walau hanya sebentar." Lanjut Lukas sambil mematikan layar ponselnya.


Abi hanya mengangguk saja sedari tadi.


"Masih ada setengah jam, sebelum lomba." Kata Zidan sambil melihat jam di pergelangan tangannya.


"Mending kita main dulu!" Usul Arya dengan semangat.


"Tidak!" Jawab Abi, Lukas, Zidan, dan Andre kompak, kemudian berlalu dari sana.


"Padahal gue ngasih usul." Monolog Arya sambil menggaruk tengkuk lehernya yang tiba-tiba gatal.


...----------------...


"Is. Nih Abi lama banget kasih kabarnya." Kata Eli yang duduk di depan meja rias sambil menyisir rambut lebat berwarna biru gelap miliknya.


"Apa belum sampai?" Tanya Eli entah pada siapa.


"Tapi masa ia sih! Udah setengah jam ini!" Kesal Eli, lalu tangannya terulur untuk mengambil ponselnya.


"Nah, belum di balas juga pesanku." Kata Eli yang semakin kesal.


"Padahal gue mau di temani tidur sambil video call." Lesu Eli, kemudian jalan keluar kamar, menuju dapur.


"Eh, kak Eli. Ngapain turun?" Tanya Monika pada Eli, yang kebetulan berpapasan di ruang makan. Eli yang mau memasuki dapur, sedangkan Monika keluar dengan membawa beberapa snck


Eli hanya melihat sekilas dengan langkah yang tidak berhenti. Eli berdiri di depan kulkas, kemudian membukanya, dengan bola mata yang meneliti semua isi dari benda persegi panjang itu.


"Eh, Eli mau cari apa nak?" Tanya bi Surti yang kebetulan memasuki dapur lewat pintu belakang.


"Yakult bi." Jawab Eli.


"Oh, Yakult nya gak ada." Kata bi Surti.


"Bukannya aku udah belanja Yakult yah?" Tanya Eli, "bahkan bukan hanya satu." Lanjut Eli.


"Itu... bibi kira Eli udah tahu." Kata bi Surti.


Eli menaikan satu alisnya, "tahu apa?" Tanya Eli.


"Kemarin, neng Monika bawa semua minuman itu ke kamarnya. Bibi sempat tanya, 'udah izin sama Eli belum? Terus neng Monik jawab 'sudah.' Jadinya bibi biarkan neng Monik bawa minumannya." Jelas Bi Surti.


"Maaf karena bibi gak minta neng Monik meletakan kembali minumannya pas mau di ambil." Maaf bi Surti. Eli hanya melihat bi Surti yang merasa ketakutan, kemudian berlalu pergi menuju ruang keluarga, di mana semuanya sedang kumpul bersama.


Eli melangkahkan kakinya menuju ruang keluarga, dengan auranya. Sementara bi Surti, mengikuti Eli dari belakang dengan gemetaran.


Apakah Eli marah? Pikir bi Surti dengan takut. Eli yang mendengarnya hanya diam saja. Sesuatu yang dia punya, tidak bisa di sentuh orang lain, tanpa seizinnya. Bukan salah dia, jika melukai seseorang karena menyentuh apapun yang menyangkut dengannya. Karena Eli sudah bilang dari awal bukan?


"Eli." Panggil bang Bagas yang kaget dengan kehadiran Eli, apa lagi aura yang dibawanya. Bukan hanya bang Bagas, nyatanya semua keluarga kaget.


"Aura ini?" Batin bang Uzi.


Eli menatap bang Uzi dengan datar, kemudian mengarahkan pandangannya pada Monika yang sedang menunduk.


"Kenapa aku rasa takut? Seharusnya kan pura-pura." Batin seseorang.


"Ada apa nak?" Tanya mamah Fana.


Eli tidak menghiraukan pertanyaan mamah Fana, tetapi melangkahkan kakinya menuju Monika yang sedang menunduk. Otomatis, semua waspada dengan tingkah Eli yang tiba-tiba menjadi sosok menakutkan.


"Bi, Eli kenapa? Sepertinya dia sangat marah." Tanya mamah Fana pada bi Surti yang sedang menunduk.


"Maaf nyonya, Eli sedang marah terhadap neng Monika." Jawab bi Surti.


"Ke-" perkataan mamah Fana harus terpotong.


"Apa hak lo?" Tanya Eli dengan datar, sambil mengangkat dagu Monika, agar menatap matanya.


"A- apa nya ka- kak?" Tanya Monika dengan gugup.


"Eli. Lo ngapain sih? Datang-datang merusak suasana aja lo!" Kata bang Devin sambil menapis tangan Eli dari dagu Monika dengan kasar.


Eli menatap bang Devin dengan datar, membuatnya seketika menciut.


"Biru laut?" Batin bang Devin.


"Bilang adik tersayang lo, untuk tahu apa itu kata izin." Kata Eli dengan penekanan, kemudian berlalu untuk keluar dari mension keluarga Prayaga.


"Eli." Panggil mamah Fana yang tidak di hiraukan oleh Eli.

__ADS_1


"Bi, maksud Eli apa?" Tanya bibi Siska.


"I- itu nyonya. Eli marah sama neng Monik, karena mengambil minuman tanpa izin." Jawab bi Surti.


"Minuman apa?" Tanya bang Uzi datar.


"Minuman Yakult. Kan Eli suka dengan minuman itu." Jawab bi Surti.


"Hanya karena minuman itu, dia sampai marah seperti tadi?" Tanya bang Devin sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Anak itu memang sangat suka mencari masalah." Kata papah Abson.


"Mas! Dia anak kamu!" Bentak mamah Fana.


"Anak aku tidak akan suka mencari masalah." Tekan papah Abson.


"Apakah dia mencari masalah tadi?" Tanya mamah Fana.


"Ku rasa tidak." Jawab uncle Rizky.


"Dan aku rasa, papah Abson terlalu menyalahkan Eli." Tambah bang Uzi, dan berlalu dari ruang keluarga untuk menyusul Eli.


"Kamu keterlaluan mas!" Kata mamah Fana, dan berlalu menuju kamarnya.


"Aku rasa, kamu terlalu menyiksa batin Eli." Kata bibi Siska, kemudian pergi menuju dapur.


"Selesaikan semuanya dengan baik-baik nak. Dia anak kamu, cucu terakhir yang di nantikan kehadirannya. Walau itu dulu." Kata grandpa Arga.


"Tapi kami tetap sayang padanya." Tambah opa Ragael melanjutkan ucapan grandpa Arga.


"Dia berlian Prayaga." Kata grandma Esti dan oma Keysa bersama, kemudian berlalu ke kamar masing-masing dengan suami mereka.


Para abang Eli kembali ke kamarnya, di ikuti oleh Monika.


"Dia sangat tersiksa." Kata uncle Rizky.


"Mas, kamu lupa dengan yang di lakukan nya dulu?" Tanya tante Ghea.


"Itu dulu bukan?" Tanya uncle Rizky dengan nada datar nya, kemudian berlalu pergi.


"Kak, apa aku salah?" Tanya papah Abson pada paman Ardan.


"Entahlah. Ikuti kata hatimu." Jawab paman Ardan kemudian berlalu ke kamarnya.


Sekarang sisa tante Ghea dan papah Abson yang berada di ruang keluarga. Mereka hanya duduk sambil berperang dengan pikiran masing-masing.


"Abson, masuk kamar." Kata bibi Siska sambil memegang ceret yang berisi air. "Istrimu sedang membutuhkan suaminya." Kata bibi Siska, yang membuat papah Abson segera bangkit berdiri dan menuju kamarnya.


"Kamu juga, istirahatlah." Kata bibi Siska pada tante Ghea, kemudian berlalu dari sana.


...----------------...


"Sudah ku duga. Ada yang lain dari mu Eli." Kata bang Uzi yang berada di belakang Eli.


Eli membalikan tubuhnya, jadi menghadap pada bang Uzi. Ada keterkejutan di ekspresi Eli, tetapi segera di ubahnya menjadi datar. Namun sayang, bang Uzi sudah melihat ekspresi terkejut dari Eli, kemudian menerbitkan smirknya.


"Siapa kau sebenarnya?" Tanya bang Uzi datar, dengan aura mengintimidasi.


...


**Hello, apa yang mau di bilang nih sama mereka pada part ini?



Eli.


Dia 1?.


Dia 2?.


Tante Ghea.


Bang Uzi**.




***Makasih yang udah mampir. Jangan lupa tinggalkan jejak***.


__ADS_1


***Salam hangat***,


***Fea***.


__ADS_2