
"Hay cantik."
"Sendirian aja."
"Mau di temani gak?"
Hahahaha.
Anggun menjalan kan langkahnya dengan cepat. Tangan mungilnya ia gunakan untuk memeluk diri sendiri.
"Ya Tuhan, tolong Anggun." Batin Anggun yang berusaha menahan tangisnya.
Malam ini, jalanan begitu sepi, Anggun bukannya sengaja lewat sini, apalagi degan pakaian yang terbuka, seperti lengannya pendek, dan hanya sebatas paha atas.
"Ah! Lepas!" Teriak Anggun, saat salah satu preman berhasil menarik tangannya dengan kasar.
"Eh, jangan marah. Ayo, biar abang antar." Ajak preman tadi, mungkin ketuanya.
"Gak. Saya bisa sendiri." Bantah Anggun, dan berlari menjauhi tiga preman tadi.
"Tangkap!" Komando sang ketua.
"Baik bos!"
Mereka mengejar Anggun yang berlari dengan menggunakan high heels.
"Auh." Ringis Anggun karena jatuh dari larinya, membuat lutut putih berubah warna menjadi merah darah.
"Nah, mau kemana kaumu?" Tanya preman yang memiliki rambut panjang.
"Ka-kalian mau apa?" Tanya Anggun dengan menyeret tubuhnya sendiri ke arah belakang.
"Gak kok cantik. Mending ikut kita." kata preman yang satunya, dengan langkah yang mendekati Anggun.
"Gak. Saya tidak mau!" Kata Anggun dengan nada tingginya.
"Ssssst, jangan berisik. Udah malam, gak enak sama orang yang dengar." Kata preman yang memiliki rambut panjang, dengan mengelus pipi mulus Anggun.
Anggun menapis kasar tangan preman itu, "JANGAN PEGANG-PEGANG!" Kata Anggun dengan air mata yang suda mulai mengalir.
"Wish, sudah mulai kasar nih!"
"Heh! Kalian ngapain?" Tanya bos preman dengan mengatur nafasnya.
"Ti-tidak bos. Ini, suda kami tangkap." Kata preman yang memiliki kepala botak.
"APA SIH LO?! PEGANG-PEGANG TANGAN GUE? HIKS, MENDING LO PADA PERGI! ATAU.... ATAU...."
"Atau apa sayang?" Tanya bos preman.
"Atau gue teriak! TOLONG! TOLONG! SIAPAPUN TOLONG GUE!" Air mata Anggun semakin deras, bahkan sekarang di belakangnya hanya ada tiang. Tidak ada yang bisa ia gunakan untuk selamatkan dirinya.
"Tolong Anggun Tuhan." Batin Anggun dengan mata yang di pejamkan.
"Hahahaha." Tawa para preman, kemudian ber tos.
"Gak ada yang bisa tolongin kamu...." Ucap bos preman itu, kemudian mendekati wajahnya, Agun hanya menutup mata.
Saat Anggun membuka matanya. Bola matanya langsung menjadi besar, dia melihat bibir preman itu seperti mulut bebek.
Plak.
Dengan refleksnya juga, Anggun memukul kepala preman tersebut, kemudian berdiri lalu berlari.
"Kurang ajar! Tangkap dia, jangan berikan ampun!" Teriak bos, kemudian di lakukan oleh anak buahnya.
"Lepas! Lepas!" Suruh Anggun saat tangannya berhasil di pegang oleh kedua preman tadi.
Bos preman datang dengan wajah marahnya. Tanpa banyak bicara, dia membuka kancing baju Anggun dengan satu kali tarikan.
__ADS_1
Anggun dengan cepat langsung menutup dadanya, dia kembali mengeluarkan air matanya, dengan melangkah mundur.
"Pegang dia! Bawa ke gudang!" Suruh bos preman, dengan cepat, anak buahnya melaksanakan perintah.
Tangan Anggun kembali di pegang, membuat dadanya terlihat jelas oleh tiga preman dengan pandangan lapar mereka.
"Aku mohon, lepaskan." Kata Anggun dengan lirih, dia sudah tidak tahu harus menggunakan cara apa. Percuma berontak, tenaganya tidak sebanding degan tiga teman itu.
"Lepaskan?" Tanya bos preman, "Selesai bermain." Lanjutnya kemudian tertawa.
Mereka mendengar ada suara motor yang melaju ke arah mereka.
"Ada motor, ayo sembunyi." Titah bos.
Anggun hanya nurut saja, mengikuti mereka dengan tenang. Hingga motor tersebut lewat di depan tempat persembunyian mereka.
"TOLONGGGGGGGGGGGGGGG!!!!!!" Teriak Anggun menggunakan suara cemprengnya.
Cit.
Motor yang baru saja lewat langsung berhenti dengan jarak sepuluh meter dari tempat persembunyian para preman.
Plak.
Bos preman menampar Anggun dengan kuat, hingga membuat sebuah robekan di ujung bibirnya.
"Kurang ajar kamu!" Sentak bos preman itu.
Anggun diam, menarik nafasnya dalam-dalam, kemudian.
"TOLONGGGGGGGG! ADA PENCULIK!" Teriak Anggun lagi.
"Cept bawa dia, lewat jalan belakang." Perintah bos.
Anggun memberontak, dengan mulut yang di bekap oleh tangan preman.
"BERHENTI!" Teriak seseorang.
"Sial." Umpat bos preman itu.
"Heh bocil! Ngapain lo di sini malam-malam hah?" Tanya preman yang memiliki rambut pnjang itu.
"Suka-suka gue lah." Tutur Cakra dengan santai. Kakinya melangkah mendekati Anggun kemudian, mendorong anak buah preman.
Cakra membuka jaketnya, lalu memakaikannya pada Anggun.
"Izin, bawa teman gue pergi." Izin Cakra, dan langsung membawa Anggun ke arah motornya.
Bugh.
Bos preman itu menendang belakang Cakra, membuatnya maju berapa langkah ke depan.
"Cakra." Teriak Anggun degan panik.
"Anji*g." Umpat Cakra, lalu memukul bos preman itu tanpa ampun.
Tepuk tangan selalu menyahut. Sudah bayak tanda tangan yang di terima Cakra dan bos preman itu.
"Kalian juga mau?!" Tanya Cakra dengan urat-urat yang terlihat jelas di leher, dan tangannya.
"Ti-tidak." Gagap anak buah preman itu, kemudian membantu bosnya, lalu melarikan diri.
Cakra menarik tangan Anggun menuju motornya, kemudian naik dengan memberikan helm pada gadis yang dicintainya itu.
Anggun menerimanya, kemudian memakai lalu naik ke atas motor KLX milik Cakra.
Sampi di depan Apotek, mereka mampir untuk membersihkan luka.
"Lo kenapa?" Tanya Anggun yang sudah kesal dengan Cakra karena hanya diam saja.
__ADS_1
Cakra yang di tanya tidak menjawab, dia fokus membersihkan luka Anggun yang berada di lutut.
"Cakra!" Panggil Anggun degan menaikan oktaf suaranya.
"Diam." Suruh Cakra.
"Yah lo tahu, gue gak bisa diam." Ucap Anggun.
Selesai mengobati luka Anggun, Cakra berjalan ke luar Apotek, tanpa berbicara apapun.
Anggun cepat-cepat, untuk menyusul Cakra yang berjalan dengan langkah lebarnya. Anggun berusaha menahan ringisannya karena luka yang berada di lututnya itu.
"Cakra, lo gak obati tuh pipi?" Tanya Anggun yang berusaha sabar menghadapi Cakra.
Cakra tidak menjawab, dia menaiki motornya dengan santai.
"Cakra, lo kenapa? Gak ikhlas bantuin gue?" Tanya Anggun dengan nada pelannya.
Cakra menatap Anggun, tangannya menggenggam stir motor dengan erat. Matanya menyorot dengan tajam, seprti ingin memakan mangsanya.
"Ca-Cakra, lo marah?" Tanya Anggun dengan menundukkan kepalanya.
Cakra mengusap wajahnya dengan kasar, lalu memukul stir motornya sendiri. Cara Cakra tentu membuat Anggun kaget.
"Lo bisa gak sih? Dengar gue? Ini udah yang kesekian kalinya gue lihat lo pkai baju kurang bahan!" Kata Cakra dengan nada bentaknya.
"Lo, bentak gue?" Tanya Anggun dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
"IA! GUE BENTAK LO!" Bentak Cakra, yang membuat air mata Anggun turun begitu saja.
"Lagian kenapa? Kenapa lo harus larang-larang gue pakai baju seperti ini?" Taya Anggun dengan lirih.
"Supaya lo belajar, jaga diri." Jawab Cakra dengan penekanan.
"Gue bisa jaga diri kok." Balas Anggun degan cepat.
"Jaga diri? Jaga diri mana yang lo maksud? Yang tadi? Yang mau di bawa preman tadi? Oh, itu namanya jaga diri?" Tanya Cakra dengan senyum sinisnya.
Anggun diam, dia tidak bisa membalas pertanyaan Cakra itu.
"Kenapa diam? Gak bisa jawab?" Tanya Cakra lagi.
Cakra menyalakan mesin motornya.
"Lo siapa gue emang?" Tanya Anggun.
Pertanyaan Anggun mampu membuat hati Cakra terluka.
"Teman bukan. Sahabat bukan. Pacar bukan. Tunangan bukan. Suami pun bukan. Karena bagi gue, lo.... Hanyalah orang asing." Kata Anggun, sungguh dia tidak memikirkan apa yang baru saja diucapkannya.
Cakra tersenyum kecut, kemudian menganggukkan kepalanya, "Yah. Gue memang orang asing buat lo, gak pantas ikut campur. Namun masalahnya di sini, gue berperan sebagai orang yang sayang sama lo! Orang yang perduli sama lo! Orang yang mau lindungi lo! Kenapa lo gak pernah pikir, bahwa cara gue itu untuk menjaga diri lo? Karena apa? Karena yang ada di pikiran lo itu, gue sebagai orang yang paling hina! Gak pantas di ikuti." Kata Cakra dengan tangan yang memegang erat stir motornya.
"Gue emang hina! Namun gue masih bisa menjaga orang yang paling berpengaruh. Gue ingin, orang yang gue sayang itu tidak di sentuh sama pria brengsek!" Lanjut Cakra.
Anggun diam, kepalanya menunduk dengan suara tangisan yang terdengar.
Cakra turun dari motornya, memeluk Anggun dengan erat.
"Gu-gue minta maaf. Maaf." Ucap Anggun.
"Gue yang minta maaf, udah buat lo nangis. Sorry, ini yang kesekian kalinya lo nangis karena gue." Tutur Cakra dengan lembut.
Anggun melonggarkan pelukannya, menatap Cakra dengan wajah merahnya.
"Di-dia yang turunin aku di jalan Cakra." Adu Anggun dengan tiba-tiba.
"Siapa?" Tanya Cakra dengan mengepalkan tangannya, tanpa sepengetahuan Anggun.
"D-"
__ADS_1
Bersambung.