Elena'S Transmigration Story

Elena'S Transmigration Story
Empat Puluh Sembilan (Perang 3)


__ADS_3

"kemana para warga?" Tanya pria paruh baya, saat berada di tokoh sembako samping gang desa Dirgayu. "Kenapa saya masuk, sepi?" Lanjutnya.


"Kurang tahu pak. Tadi yang saya lihat, mereka pergi menggunakan bus." Jawab penjual sembako di depan gang masuknya desa Dirgayu.


"Bus?" Tanya nya lagi.


"Ia pak." Jawab penjual sembako tadi.


"Ke mana?" Tanya pria itu.


"Kurang tahu pak." Jawabnya lagi.


"Baik lah." Kata pria itu dengan menganggukkan kepalanya, "Ayo." Ajaknya pada banyak orang yang menggunakan baju serba hitam.


Saat pria paruh baya, dan orang-orang berbaju hitam pergi, ibu-ibu penjual sembako tadi bisa menghembuskan nafasnya dengan lega.


"Sudah pergi?" Tanya cowok dengan berisik, yang mengumpat di bawah meja.


Ibu penjual tadi menatap cowok tadi, kemudian mengangguk, "Sudah den." Jawabnya.


Cowok tadi keluar, dari tempat persembunyiannya, "Keluar, kita aman." Ucap Daniel pada anggota Morgenster.


Daniel? Morgenster? Yah, Daniel tidak jadi ikut anggota Clouts untuk membantu Eli dan yang lainnya. Karena ternyata, tugasnya berada di desa Dirgayu, untuk membantu anggota Morgenster dalam perang nanti. Dan Morgenster, cabang Bandung, sudah tiba dari sepuluh menit yang lalu, mereka masih menyiapkan rencana untuk perang nanti.


"Den." Panggil ibu penjual.


"Ada apa?" Tanya Daniel.


"Mereka tidak sedikit. Mereka sangat banyak, kalian kalah jumlah." Jawab ibu penjual tadi.


Daniel menatap anggota Morgenster yang tempat berpikir, "Kita memang tidak sebanding jika di lihat dari jumlah. Namun kekuatan kita jauh lebih besar." Ucap Daniel dengan smirknya.


"Maaf, tapi kita jangan pernah merendahkan diri orang lain dahulu. Atau meninggikan diri sendiri." Ucap salah satu anggota Morgenster.


Daniel tersenyum tipis, "Perkataan yang bagus. Namun arti dari ucapan ku adalah, kekuatan kita besar, karena mempunyai tujuan yang baik. Sebanyak apapun musuh di hadapan kita. Jika tujuan kita baik. Dan Tuhan bersama dengan kita. Maka sudah jelas kekuatan kita jauh lebih besar." Ucap Daniel.


"Yah. Itu benar." Ucap anggota Morgenster bersama.


...----------------...


"Sepertinya mereka sudah tahu tentang rencana kita." Ucap salah satu orang bertubuh besar, dengan baju yang berwarna hitam. Sebut saja, orang satu.


"Sudah ku duga." Batin pria tua itu.


"Apa kita kembali saja?" Tanya orang bertubuh kecil, dengan menggunakan pakaian serba hitam. Sebut saja, orang dua.


"Tidak." Jawab pria itu.


"Mengapa?" Tanya orang satu.


"Jika mereka mengetahui rencana kita yang akan menyerang desa. Pasti mereka juga tahu, tentang markas di dalam hutan." Ucap pria itu dengan senyum sinis nya.


"Berarti suara tadi?" Tanya orang dua.


"Helikopter." Jawab pria itu, lalu menerbitkan smirknya.


"Bos!" Panggil orang yang memiliki rambut gondrong, dengan menggunakan pakaian serba hitam. Sebut saja dia orang tiga.


"Ada apa?" Tanya pria itu.


"Ternyata, ada sekelompok orang di tokoh depan gang." Jawab orang tiga dengan panik.


"Jangan panik." Ucap pria itu agar orang tiga bisa tenang. "Apa mereka banyak?" Tanya pria itu.


"Tidak, mereka hanya sedikit orang." Jawab orang tiga yang berusaha untuk menenangkan diri.


"Lalu untuk apa panik?" Tanya pria itu dengan bingung.


"Mereka ada senjata lengkap." Jawab orang tiga.


"Bukankah kita juga mempunyai senjata lengkap?" Tanya pria itu.


"Punya, tetapi yang paling menjadi masalahnya adalah, mereka dari geng Morgenster." Ucap orang tiga, membuat jari-jemari tangan pria itu mengepal.


"Morgenster?" Tanya pria itu.

__ADS_1


"Ia." Jawab orang tiga.


"Siapkan diri, kita akan bertempur. Bawa anak perempuan kecil itu kesini. Dan salah satu dari kalian, panggil mereka datang." Ucap pria tadi dengan tegas, kemudian memasuki gedung bali desa.


...----------------...


"Raya?!" Ucap Daniel dengan panik.


"Ada apa?" Tanya salah satu anggota Morgenster.


"Mereka tahu keberadaan kita." Jawab Daniel dengan mengepalkan tangannya.


"Dari mana?" Tanya salah satu anggota Morgenster yang lainnya.


"Sepertinya ada yang mengintai tempat ini tadi." Jawab Daniel.


"Lalu kita bagaimana?" Tanya anggota Morgenster yang lainnya lagi.


"Ubah rencana. Kita akan menyerang terang-terangan, dan membentuk kala jengking. Himpit mereka dari sudut-sudut, kemudian satu kan di pusat nya, yaitu perut. Habiskan mereka, ketuanya, saya yang urus. Ayo!" Ucap Daniel, kemudian mengajak anggota Morgenster untuk memasuki desa Dirgayu, untuk menyerang para penjahat.


Sesampainya di dalam desa, mereka dapat melihat orang-orang berbaju hitam yang sedang berdiri dengan gaya angkuhnya.


"Morgenster." Ucap pria paruh baya, ketua dari penculik, pencuri, dan hantu abal-abalan itu. "Ternyata ada di sini juga." Lanjut pria itu.


"Di mana Raya?" Tanya Daniel.


"Apa kah ketua kalian ada di sini juga?" Bukannya menjawab, pria itu malah bertanya kembali.


"Di mana Raya?" Tanya Daniel lagi, dengan pertanyaan yang sama.


"Uh, apa kah kamu tidak bisa mendengar pertanyaan ku?" Tanya pria tadi.


"Seharusnya saya yang bertanya. Apa kah Anda tidak bisa mendengar pertanyaan ku?" Tanya Daniel dengan nada yang naik dua oktaf.


"CK! DASAR BODOH." Umpat pria tadi.


Daniel mengeluarkan smirknya, "Maaf, tetapi Anda yang bodoh, karena tidak bisa menjawab, jika ada yang bertanya." Ucap Daniel.


Pria tadi mengepalkan tangannya, "JANGAN SOK KAMU ANAK MUDA!" Teriak pria itu.


"TERLALU BANYAK BACOT!" Ucap pria tadi, membuat suatu kemenangan bagi Daniel.


"SERANG!" Lanjut pria tadi pada anak buah nya.


Pertempuran kembali terjadi, dengan tempat yang berbeda. Para anggota Morgenster, telah melakukan rencana dengan membuat bentuk kala jengking dalam peperangan ini. Rancana mereka berhasil, para lawan banyak yang tumbang, dan sisanya terhimpit di tengah.


Pria tadi berdiri di samping pohon besar, dengan memegang anak kecil yang bernama Raya. "Sial, anak buah ku banyak yah tumbang." Ucap pria itu dengan mengeratkan genggaman tangannya pada Raya membuat gadis kecil itu menangis.


"DIAM KAMU!" Bentak pria itu pada Raya, dengan semakin mempererat genggaman tangannya pada Raya.


Bukannya diam, Raya malah semakin menangis. Anak kecil mana yang tidak menangis, jika di genggam pergelangan tangannya dengan kuat? Apa lagi anak kecil itu baru berumur satu tahun setengah.


"KENAPA TIDAK DIAM?! SAYA SURUH KAMU DIAM! BUKAN NANGIS!" Bentak pria itu.


Bugh.


Pria tadi tersungkur ke tanah, dengan tidak elitnya. "Sialan!" Umpat pria itu.


"Siapa yang menyuruh mu menyakiti anak kecil ini?" Tanya cowok itu dengan datar.


Pria tadi berdiri, kemudian menatap cowok itu dengan dalam, tidak lama, timbul seringai jahat milik nya, "Wow! Apa kah kau sudah menghancurkan markas ku, ketua Clouts?" Tanya pria paruh baya itu. Yah, cowok tadi adalah, Abi.


Abi, Lukas, Zidan, Andre, Arya, bang Uzi, Davin dan juga pasti nya Eli, telah tiba di desa Dirgayu. Sedangkan Riyan, dan anggota Clouts yang terluka parah pergi ke AR Hospital, menggunakan helikopter yang di gunakan Queen tadi.


Sedangkan yang terluka ringan, berada di bangunan tokoh samping gang desa Dirgayu itu.


"Yah, markas mu telah menjadi debu, arang, dan gosong." Jawab Abi.


Pria tadi menatap Abi degan tajam, "Sialan!" Umpat nya, kemudian memukul wajah Abi yang tampan itu.


Perkelahian antara Abi dan pria tua itu terjadi. Sedangkan perkelahian yang di pimpin Daniel tadi, telah usai. Daniel membawa anggota Morgenster ke tokoh samping gang desa Dirgayu, untuk di obati. Karena hanya luka kecil yang mereka dapat kan.


Sedangkan Eli memeluk Raya, tidak perduli apa yang sedang terjadi saat ini.


"Queen." Panggil bang Davin.

__ADS_1


Eli mendongak kepalanya untuk menatap bang Davin, "Kenapa?" Tanya Eli.


"Izin membawa Raya ke tokoh di samping gang desa ini. Karena di sini bukan tempat yang bagus untuk menjadi tontonan Raya." Ucap bang Davin dengan memperhatikan Abi dan pria tua itu yang sedang berkelahi.


Eli melihat Abi dan pria tua, kemudian menerbitkan smirknya, bola matanya terganti menjadi warna biru laut. Namun dengan cepat, warna bola mata itu berubah menjadi hitam pekat.


"Bawa Raya." Suruh Eli, dan di lakukan oleh bang Davin.


"ABI!" Teriak Arya dan Andre, saat melihat pria tadi akan menancapkan belati pada kepala Abi.


Dengan cepat, Abi melintir tangan pria itu, dan menendang perut nya. Pria itu mundur beberapa langkah, tetapi Andre menendang kembali perutnya, membuat dia jatuh tersungkur ke tanah.


Andre menghajar habis-habis pria itu, sepertinya jiwa psikopat lagi bekerja, dengan cepat Arya menahannya.


Arya membawa Andre menjauhi pria itu, Abi melangkah mundur mendekati Lukas dan bang Uzi. Sedangkan Eli? dia berjalan pelan mendekati pria itu yang sedang tidak berdaya. Jangan lupakan, jika Eli masi berstatus sebagai Queen Morgenster saat ini.


"Bertemu lagi, Anes." Ucap Queen dengan datar.


"Y-yah. Ki-kita ber....temu lagi, Qu-Queen." Jawab pria tadi dengan susah payah.


Queen mengangguk, "Mengapa masih berbuat jahat Anes?" Tanya Eli.


"Ba-balas den-dam." Jawab pria itu.


"Dengan membunuh kepala desa ini?" Tanya Eli dengan smirknya.


"TIDAK!" Jawab pria itu dengan cepat, yang ternyata bernama Anes.


"Sayangnya, adik kembaran mu Hanes, susah tiada." Jawab Eli dengan nada yang di buat sedih.


Anes? Hanes? Hanes, kepala desa Dirgayu, adalah adik kembar Anes, yang berjabat sebagai bos kejahatan.


"Ke-kenapa?" Tanya Anes.


"Karena dia jahat." Jawab Queen.


"Ka-kau, apakan di-dia?" Tanya Anes yang berusaha berdiri.


"Cuma, tembak kepalanya saja." Jawab Queen dengan santai, membuat Anes melotot kan matanya debut sempurna.


Queen berjalan untuk menjauhi Anes, sekarang sisa lima meter jarak mereka berdua. "Dan sekarang, giliran mu." Ucap Queen dengan datar, tangannya mengarahkan pistol ke arah kepala pria itu.


"Ja-jangan." Ucap Anes dengan takut.


"Kenapa?" Tanya Queen dengan menurunkan pistol nya.


Tidak ada jawaban yang didapatkan oleh Queen, "Mengapa menyia-nyiakan hidup mu, dengan menghilangkan kesempatan dari ku?" Tanya Queen.


Kesempatan? Yah, dulu, Anes adalah orang yang sangat di percayai oleh Eli, untuk menjadi tangan kanan pekerjaannya. Namun sayang, Anes malah berkhianat, dengan mengorupsi uang lebih dari empat miliyar.


"INI BUAT MU YANG SUDAH MENYIA-NYIAKAN KESEMPATAN!" Teriak Queen.


*Do*r.


Peluru dari pistol, mengenai dada kiri Anes.


"INI BUAT MU YANG SUDAH MEMASUKAN ELENA KE DALAM RUANG OPERASI!" Teriak Lukas.


Dor.


Peluru dari pistol Lukas, mengenai dada kanan Anes.


"KARENA MENCOBA MEMBUNUH RARA, CINTA KU." Teriak bang Uzi, membuat keadaan menjadi mencengkram.


Dor.


Peluru dari bang Uzi, lepas dan mengenai kepala Anes, yang sudah pecah dan berlumuran darah.


Semua menatap bang Uzi dengan ngeri, seperti ada yang lain.


"Akbar.?" Batin orang satu.


"Rara?" Batin orang dua.


"Siapa kau." Ucap bang Uzi dan Queen bersama.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2