
"Yah, jadi saya dan teman-teman, mau kita senam pagi. Supaya tubuh sehat dan kuat." Kata Zidan dengan menggunakan alat yang bernama toa.
Saat ini, semua penghuni di desa tersebut, telah berkumpul di satu tempat, untuk senam pagi.
"Arya! Putar musiknya!" Suruh Andre dengan teriakan menggunakan mik.
"Anjing!" Umpat Arya degan menutup kedua telinganya rapat-rapat.
"Napa lo?" Tanya Andre dengan menggunakan mik, tetapi suara yang biasa, tidak tinggi, ataupun rendah.
"Lo gak usah teriak! Telinga gue udah lobang, jangan sampai tambah besar!" Sahut Arya dengan menepuk-nepuk salon yang berada di sampingnya itu.
"Maksud lo itu apa sih?" Tanya Andre yang tidak mengerti.
"Lo teriak njing!" Ucap Arya dengan melempar kain serbet yang berada di atas salon. Kain itu basah, karena tadi Arya membersihkan salonnya.
"Gak jelas lo!" Kata Andre lalu melempar asal kain tersebut.
"Bangsat!" Umpat Zidan, karena kain itu mengenai wajahnya.
"Eh sorry." Kata Andre yang meminta maaf.
"CK! Putar musiknya!" Kata Lukas dengan lantang.
"Oke!" Sahut Arya dengan semangat.
DERRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRT....
"ANJING!"
"BANGSAT!"
"KURANG AJAR."
"ALLAHHUAKBAR."
"YA TUHAN!"
Dll.
Apa? Apa yang terjadi?
"CABUT KABELNYA COK!" Teriak Andre degan umpatan di akhir kalimat.
"LO AJA! GUE GAK MAU MATI!" Balas Arya dengan teriakan.
"Terus lo ngapain peluk meja yang salonnya ada di samping lo? Apalagi tuh cok-cok kan nya ada di bawah kaki lo....." Kata Andre dengan ekspresi seperti orang yang syok.
"Bawah warga menjauh dari halaman ini." Pandu Abi, dan di laksanakan oleh geng Clouts, kecuali Abi, Andre, dan Arya.
"Masuk ke dalam." Suruh Eli, dan berjalan ke arah Arya.
Abi melangkahkan kakinya ke dalam balai desa, tidak sengaja matanya menemukan bayangan hitam yang berlalu dengan cepat.
"Betulan ada hantu?" Tanya Abi dengan wajak cengonya.
Kembali ke keadaan yang berada di luar.
"Laki tapi...." Kata Eli, lalu memberikan jempolnya ke atas, tidak lama terbalik menjadi bawah.
"Gu-gue berani." Bantah Arya yang berusaha menormalkan nada bicaranya.
__ADS_1
"Alsan." Bantah Eli dan berjalan ke arah Andre yang sibuk mengotak-atik benda bernama toa itu.
"Kenapa?" Tanya Eli.
"Gak tahu, tiba-tiba mati." Jawab Andre dengan mata yang masi fokus pada benda bernama toa itu.
Eli hanya mengangguk, kemudian berjalan ke arah para warga yang sedang berkumpul itu. Dapat Eli lihat, tidak ada ketakutan di wajah mereka, tetapi malah, kegembiraan?
"Di apakan?" Tanya Eli yang berada di tengah-tengah antara Zidan dan Lukas.
"Kagetin." Kata Zidan.
"Apa?" Tanya Lukas.
"Maaf." Maaf Eli pada Zidan.
"Mereka" Jawab Eli pada Lukas.
Zidan mengangguk, Lukas menatap para warga yang sedang berkumpul di depannya. Ada yang berdiri dengan mengobrol, duduk-duduk menyalurkan tawa, dan lain-lain.
"Gak tahu." Jawab Lukas.
"Coba tanya." Suruh Zidan.
Eli mengangguk, "Ibu-ibu, bapak-bapak. Apakah kalian merasa takut, atau marah?" Tanya Eli dengan sedikit menaikan oktaf suaranya. Takut-takut jika para warga tidak nyaman berada di dekat mereka.
"Tidak." Jawab mereka dengan serempak.
Eli menatap Zidan dan Lukas, kemudian kembali mengarahkan pandangan pada para warga.
"Apa yang kalian rasakan?" Tanya Eli.
Eli mengerutkan keningnya dengan bingung, begitu pula yang lainnya.
"Kalau boleh tahu, apa yang buat kalian merasakan bahagia." Tanya Eli dengan hati-hati, takut menyinggung perasaan para warga.
"Kami senang, pagi ini kalian membuat hal yang menurut kami semua, merasa lucu. Itu buat kami bahagia, karena sebelumnya, setiap pagi selalu di awali dengan kecemasan." Jawab ibu-ibu dengan menggandeng tangan anak kecil yang mungkin baru berusia satu tahun setengah.
"Cemas? Apa yang buat cemas?" Tanya Eli dengan kaki yang melangkah dekat ke arah para warga, di ikuti Zidan dan Lukas.
Anggota Clouts yang lainnya entah ke mana, tiba-tiba menghilang begitu saja.
"Kami cemas karena, selalu ada anak-anak yang hilang." Jawab ibu tadi degan memeluk erat putri kecilnya itu.
Para warga sudah duduk melingkar di bawah pohon yang rindang. Ada ekspresi sedih yang sangat tertangkap oleh mata tajam Eli, Lukas, dan Zidan.
"Selain mencuri harta benda, Anak-anak juga ikut serta?" Tanya Zidan.
"Ia." Jawab suami dari ibu tadi.
"Apa kalian sudah lapor pada pihak kepolisian?" Tanya Lukas dengan memegang jari mungil anak kecil tadi.
"Sudah, tetapi mereka tidak mendapatkan petunjuk apa-apa." Jawab warga satu.
"Lalu?" Tanya Eli.
"Khusus di tutup." Jawab warga dua.
Eli mengepalkan tangannya dengan erat, lalu berdiri dari duduknya dan melangkah ke arah Abi yang baru saja keluar dari bangunan balai desa.
"Abi." Panggil Eli saat mereka sudah berhadapan.
__ADS_1
"Ada apa?" Tanya Abi.
"Selidiki kampung ini. Aku rasa maling itu tidak jauh dari tempat ini." Ucap Eli dengan mengedarkan pandangannya ke berbagai arah.
"Maling?" Tanya Abi dengan bingung.
"Ia." Jawab Eli.
Dert.... Dert..... Dert....
Eli mengambil hp nya, lalu berjalan sedikit menjauh dari hadapan Abi.
"Oma?" Tanya Eli pada dirinya sendiri dengan kening yang mengkerut. Jari jempol Eli menggeser tombol hijau pada layar hp nya.
"Halo oma."
"Kamu masi lama di sana sayang?"
"Ia oma."
Terdengar helaan nafas yang cukup panjang.
"Ada apa oma?" Tanya Eli dengan melangkahkan kakinya ke arah tempat duduk yang terbuat dari kursi.
"Opa dan oma sedang dalam perjalanan menuju Paris, dua jam lagi akan tiba."
Eli diam di tempatnya, mencerna perkataan sang oma.
"Perjalanan? Kapan oma dan opa jalan?"
"Kemarin. Oma sama opa telpon kmu, tapi gak bisa. Jadinya kami berdua berangkat tanpa sepengetahuan mu."
Eli menghembuskan nafasnya dengan pelan, kemudian mengangguk walau tidak di ketahui oleh oma opanya.
"Baiklah, tidak masalah. Oma dan opa hati-hati di saat yah."
"Ia sayang."
"Eli tutup telponnya dulu yah. Dah opa oma."
"*Dah."
Tut.... Tut.... Tut*....
Panggilan terputus, dan Eli kembali melangkahkan kakinya mendekati Abi yang sedang berbincang dengan Arya dan Andre.
"Apa?" Tanya Eli saat sampai di hadapan ketiga cowok tampan itu, dan mendapatkan ekspresi serius di wajah mereka.
"Ini loh, tadi Abi katanya lihat bayangan warna hitam di dalam bangunan balai desa." Jelas Arya dengan tangan yang di gerak-gerakkan, sampai mengenai wajah Andre.
"Tangan lo bau." Kata Andre lalu menghempaskan tangan Arya dengan kasar.
"Sakit Andre! Lo gak ada rasa kemanusiaan?" Tanya Arya dengan dramatis.
"Di mana?" Tanya Eli pada Abi, tidak menghiraukan Arya dan Andre yang berdebat.
"Bayangan itu dari luar, cuma tertangkap karena kaca yang transparan.
"Ayo." Ajak Eli pada Abi, dan melangkahkan kakinya menuju dalam bangunan balai desa itu.
Bersambung....
__ADS_1