
PLAK.
Suara tamparan terdengar begitu keras di sebuah ruangan yang ramai. Seketika ruangan tersebut berubah menjadi hening, semua orang yang berada di sana memutar kembali apa yang baru terjadi.
"Devin! Apa-apaan kamu ini?!" Tanya mamah Fana dengan meninggikan oktaf suaranya.
"Tanyakan sama anak kesayangan mamah ini. Apa yang dia udah lakukan sama adik aku." Kata bang Devin yang berusaha menahan emosinya.
Yah, bag Devin yang menampar Eli, di saat seluruh anggota keluarga kumpul bersama. Abang twins dan sahabatnya, kecuali Panji, baru saja pulang sekolah, pukul 17.00 WIB. Saat pulang, bang Devin langsung menampar Eli, membuat seluruh anggota kaget dengan perlakuannya.
Pantesan perasaan gue gak enak saat mamah suruh kumpul untuk menghabiskan waktu di ruang keluarga. Pikir Eli.
"Maksud kamu gimana Devin?" Tanya papah Abson dengan bingung.
"Dan kenapa kamu baru pulang?" Lanjut paman Ardan.
"Monik kenapa? " Tanya tante Ghea dengan khawatir saat melihat Monik di gandeng oleh Leo dengan keadaan yang sangat tidak baik. Kemudian tante Ghea membawa Monik kedalam dekapan nya.
"Tanyakan pada dia." Kata bang Devin sambil menunjuk Eli.
Mamah Fana jalan menghampiri Eli, lalu memegang pundaknya. "Tatap mamah, dan katakan dengan jujur, apa yang di maksud dengan abang kamu." Perintah mamah Fana dengan mata yang berkaca-kaca.
Eli diam, dia menatap mamah Fana dengan penuh kasih sayang, kemudian menggeleng dengan pelan. "Eli gak tahu mah." Jawab Eli dengan lirih.
"Alasan lo! Bilang aja lo pura-pura lupa ingatan kan? Supaya kita semua baik kin lo, dan lupa kan semuanya yang terjadi? Ia kan?! Ngaku aja deh lo!" Kata bang Devin dengan penuh emosi. "Gue udah duga, lo emang hanya berpura-pura dari dulu!" Lanjutnya.
"Devin! Jelas kan apa yang terjadi!" Suruh opa Ragael dengan tegas.
"Biar Cakra opa." Tawar Cakra.
"Silahkan." Kata opa Ragael.
"Jadi, pas kita udah pulang, Devin ngajak untuk jemput Monik di kelas nya. Pas kita sampai, Monik nya gak ada, tiba-tiba ada yang hampir kita dengan buru-buru. Orang itu bilang, kalau Monik di kunci dalam gudang sama Eli. Kita semua segera ke gudang, pas sampai sana, Leo dobrak pintu nya. Saat pintu terbuka, kita lihat Monik yang udah acak-acakan, dengan keadaan pingsan. Jadi, Leo segera bawa ke dalam mobil, kita ikutin dari belakang. Pas sampai mobil, Monik nya baru sadar." Jelas Cakra panjang lebar.
Gimana Cakra bisa tahu? Karena habis dari taman, Cakra mau langsung pulang, tapi saat di koridor, bang Devin ajak untuk jemput Monik. Dan berakhir dengan Cakra yang ikut Leo dan bang Devin.
Sedangkan Panji? Dia baru sampai di rumahnya, langsung di kabari oleh Cakra, kalau Monik hilang.
Bang Davin? Dia pergi ke UKS untuk menjemput Eli agar pulang bersama. Sayangnya, Eli tidak berada di UKS, jadilah bang Davin tunggu kembaran beserta sahabatnya di parkiran. Cukup lama bang Davin tunggu, tiba-tiba mereka datang dengan Leo yang menggendong Monik, di ikuti kembaran dan Cakra yang berjalan dengan cepat.
Jadi di sini, bang Davin dan Panji tidak tahu apa yang terjadi. Hanya bang Devin, Cakra, Leo, dan Monik lah yang tahu masalahnya.
"Apa maksud kamu Eli? Tanya tante Ghea pada Eli dengan air mata yang sudah bercucuran dengan deras.
Monik sudah di dudukan pada sofa oleh tante Ghea. Sedangkan uncle Rizky dan oma Keysa yang membersihkan luka-luka Monik.
"Eli...." Panggil mamah Fana dengan lirih. Ada tatapan kecewa yang di layangkan oleh Eli. Dan Eli tahu itu, kalau mamah nya saat ini sedang kecewa padanya.
"Mah...." Panggil Eli dengan lirih, berusaha menggapai tangan mamah Fana. Sayangnya, mamah Fana menjauhi Eli.
"Maksud kamu apa nak?" Tanya grandma Esti dengan sedih.
"Grandma, Eli tidak tahu." Kata Eli dengan berusaha mendekati grandma Esti. Sayangnya grandma Esti menjauhi Eli, sama seperti mamah Fana.
"Kalau kamu tidak suka dengan Monik, cukup diam. Jangan seperti ini." Kata grandpa Arga.
"Grandpa, Eli gak tahu apa-apa di sini." Kata Eli yang berusaha membuat seluruh anggota keluarga percaya padanya.
"Lo gak usah bohong! Kalau lo yang buat, ngaku aja!" Desak bang Devin.
"Bang, Eli gak tahu apa-apa!" Kata Eli dengan menaikan satu oktaf suaranya.
__ADS_1
"Tapi Monik juga bilang, kalau lo yang kunciin dia." Kata Cakra yang sedikit ragu pada Eli.
Eli menatap Monik yang sedang menutup matanya. Eli jalan menghampiri Monika dengan langkah anggunnya.
PLAK.
"ELI!" Bentak seluruh anggota keluarga beserta Leo, kecuali bang Uzi, Davin, dan Cakra.
Eli menampar Monika dengan begitu keras nya, membuat sudut bibirnya menjadi robek. Eli menatap Monik dengan tatapan membunuhnya, Aku sangat membencimu. Pikir Eli.
"Sakit kak." Kata Monik dengan meneteskan air matanya.
PLAK.
Bunyi tamparan kembali terdengar, dan pelakunya adalah papah Abson. Yah, papah Abson lah yang menampar Eli. Tamparan yang di layangkan sangat lah keras, membuat Eli menolehkan kepalanya.
Miris. Pikir Eli dengan senyum tipisnya.
Eli mengangkat kepalanya, agar bisa melihat papah Abson. Saat melihat papah Abson, Eli menatap seluruh orang yang berada di ruangan tersebut. Eli menunduk, bukan karena takut, tapi dia berusaha menahan gejolak amarahnya. Plis, jangan sekarang. Pikir Eli.
"Saya sangat malu mempunyai anak seperti mu!" Bentak papah Abson, membuat Eli kembali menatapnya.
"Mamah gak nyangka dengan perlakuan mu nak." Kata mamah Fana yang sudah meneteskan air matanya.
Eli menatap mamah Fana dengan ekspresi yang tidak bisa di artikan, tapi percayalah, perkataan itu sangat menyakiti hatinya.
"Awal nya uncle sudah memaafkan atas kesalahanmu Eli. Namun kamu membuat uncle kembali membencimu. Kamu berani melukai anak uncle? Kalau emang Monik salah, tegur dia. Jangan seperti ini." Kata uncle Rizky dengan dingin.
Eli mengalihkan tatapan nya menjadi ke arah uncle Rizky. Eli menatapnya dengan datar, seolah tidak memperdulikan perkataannya.
"Oma tidak nyangka." Kata oma Keysa dengan lirih.
Eli menatap oma nya dengan sedih, Apakah oma juga tidak percaya? Pikir Eli.
Eli menatap papah nya, kemudian mengangguk sebagai jawaban. "Mengalah untuk kali ini, bukan seterusnya." Batin Eli.
"Kamu akan papah jodohkan." Kata papah Abson, membuat Eli menjadi tegang.
"Maaf nak." Batin mamah Fana sedih, dengan menatap Eli penuh rasa sesalnya.
Eli yah mendengar batin itu, menatap mamah Fana sambil menggelengkan kepalanya, tidak nyangka bahwa pelindungnya, merusak ke percayaan Eli dengan begitu mudah.
Monik berusaha menahan senyumnya, "Aku menang." Batin Monika yang masih bisa di dengar oleh Eli, tetapi tidak dihiraukannya.
Bang Uzi dan Davin menatap papah Abson dengan tidak percaya, mereka tidak setuju dengan hukuman yang di beri untuk Eli.
Eli menatap papah Abson, "Aku tidak mau." Kata Eli dengan penekanan.
"Kamu harus mau!" Kata papah Abson dengan menaikan oktaf suaranya.
"Papah tahu, aku udah punya pacar!" Kata Eli yah tidak habis pikir dengan hukuman yang baru saja di berikan untuk nya.
"Papah gak perduli." Jawab papah Abson dan melangkahkan kakinya menuju kamar, diikuti mamah Fana.
"Pah!" Panggil Eli.
"Ini keputusan terakhir!" Kata papah Abson yang terus berjalan, tanpa berbalik menatap Eli.
Tante Ghea dan uncle Rizky, berjalan dengan memapah Monika menuju kamar, diikuti oleh seluruh anggota keluarga, kecuali bibi Siska, abang Uzi, Davin, Leo dan Cakra.
"Bibi kecewa sama kamu Eli." Kata bibi dan berjalan menuju dapur.
__ADS_1
Eli diam dengan pandangan kosong nya. "Maaf, aku tidak bisa membuat mereka percaya." Batin Eli dengan senyum getirnya.
"Itu pantas buat lo!" Kata Leo dengan penekanan.
Eli yang mendengar perkataan Leo, langsung menatapnya dengan datar. Eli berjalan dengan santai ke arah Leo, tanpa di duga.
BUGH.
Eli membogem pipi Leo, membuatnya tersungkur ke lantai.
Semua menatap Eli tidak percaya. Setahu mereka, Eli tidak akan memukul orang yang sangat berpengaruh dalam hidup nya.
"Itu buat lo! Yang kemakan kata cinta!" Kata Eli dengan datar.
"Lo akan tahu, apa itu arti dari penyesalan!" Tekan Eli lalu pergi ke kamarnya.
"Untung bukan gue yang di bogem." Batin Bang Uzi, Davin, dan Cakra.
"Entah kenapa, gue seperti merasakan hal yang namanya bersalah terhadap Eli." Kata Cakra tiba-tiba.
"Lo pihak dia sekarang?" Tanya Leo dengan sinis, sambil memegang pipi nya yang habis di bogem oleh Eli tadi.
"Entah." Jawab Cakra. "Gue balik." Lanjutnya dan melangkahkan kaki untuk keluar.
"Lo sebaiknya balik. Obati luka lo." Suruh bang Davin dengan datar.
Leo mengangguk, "Gue balik." Pamitnya dan keluar dari rumah Prayaga.
"Kita bantu Eli." Kata bang Uzi dengan menatap serius pada adiknya itu.
"Ia benar bang." Jawab bang Davin.
"Aku juga." Kata dua orang yang melihat aksi tersebut.
...
**Hello, apa nih yang mau di bilang sama mereka pada part ini?
Eli.
Monika.
Bang Davin
Bang Uzi.
Bang Devin.
Dll**.
***Thanks yang udah mampir, jangan lupa tinggalkan jejak***.
***Salam Hangat***,
__ADS_1
***Fea***.