Elena'S Transmigration Story

Elena'S Transmigration Story
Enam


__ADS_3

Di suatu negara, tepat nya London. Terdapat empat wanita, dan lima pria, yang sedang duduk bersama di taman belakang rumah.


"Hufth. Gue kangen." Kata seorang gadis, dengan rambut sebahu.


"Sabar. Gue punya first, dia ada." Kata gadis satunya, yang memiliki rambut gelombang.


Semua menatap gadis itu, meminta penjelasan.


"Lihat saja nanti." Lanjut gadis itu.


"Semoga aja first lo benar." Kata pria dengan bola mata abu-abu.


"Eh! Sih kampret kita apakan?" Tanya pria yang memiliki rambut yang sedikit keriting.


"Buat dia mati secara perlahan." Kata pria yang memiliki mata setajam silet, saat melihat seseorang.


"Kita akan balas. Sesuai dengan apa yang dia buat." Ucap seorang gadis yang sedari tadi diam.


"Hem." Jawab mereka semua, dengan smirk yang berada di bibir masing-masing.


...----------------...


"Kita samapi sayang." Kata mamah Fana.


Saat ini, mamah Fana, papah Abson, para abang, dan sahabat Eli, termasuk dirinya, sedang berada di depan mension keluarga Prayaga.


Rumah yang memiliki tiga lantai, dan halaman depan yang luas. Entah bagaimana dalam dan belakang rumah ini.


Eli tidak udik, dia punya mension yang jauh lebih besar. Maksudnya adalah milik keluarga.

__ADS_1


"Ayo." Ajak papah Abson, dan mereka semua melangkah masuk ke dalam mension tersebut.


"Selamat sore. Sapa papah Abson dan mamah Fana, saat memasuki mension, tepatnya di ruang tamu.


"Sore." Serempak orang rumah menjawab.


"Akhirnya datang juga. Kami sudah menunggu dari tadi." Kata bibi Siska.


"Ayo sayang, duduk dulu. Kita akan kenalkan kamu sama mereka." Kata mamah Fana.


Kini, semua keluarga Prayaga, dan sahabat twins serta Eli pun bergabung.


"Oke. Kita akan kenalkan, siapa wanita dan pria lanjut usia itu, dan satu wanita beserta anaknya. Oh, abang kamu sama sahabatnya juga. " Kata grandma Esti.


"Lanjut usia gini, tapi masih kelihatan muda." Kata pria lanjut usia itu.


"Yah. Kau memang selalu tidak mau di bilang tua." Kata grandpa Arga.


"Sudahlah. Berhenti dengan pembicaraan kalian." Lerai wanita lanjut usia itu. Membuat kedua pria yang sudah berumur itu terdiam.


"Baiklah. Kenalkan, nama saya Ragael Hendrik. Papah dari mamah kamu, dan kamu memanggilku dengan sebutan opa." Perkenalan pria lanjut usia itu, yang ternyata opa Ragael.


Eli hanya diam, dia juga tahu, siapa semua yang ada di hadapannya ini.


"Kalau saya, Keysa Miftah, biasa kamu panggil oma." Perkenalan oma Keysa.


Eli hanya mengangguk.


"Kalau saya Ghea Gayatri, istri dari Rizky, menantu pertama keluarga Prayaga, aunty kamu." Perkenalan aunty Ghea.

__ADS_1


"Saya Davin Prayaga, anak pertama dari papah Abson dan mamah Fana. Abang kamu." Perkenalan bang Davin dengan muka cueknya. Cowok yang pakai baju oren.


"Saya Devin Prayaga, anak kedua papah Abson dan mamah Fana. Abang kedua kamu. Kambaran bang Davin." Perkenalan bang Devin, dengan muka sok cool nya. Cowok yang pakai baju merah.


"Saya Cakra Terix, sahabat abang twins lo." Perkenalan Cakra, cowok baju coklat.


"Saya Panji Prayoga. Sahabat abang twins lo." Perkenalan Panji, cowok yang memakai baju army.


"Leonald Felix Mith. Sahabat twins." Perkenalan Leo dengan datar. Cowok baju hitam, yang ternyata Leo.


"Saya, Monika Sendra. Kakak sepupu kamu. Adik bang Uzi, dari mamah Ghea, dan papah Rizky, aku juga pacarnya Leo." Perkenalan Monika. "Tapi aku yang manggil kamu kakak yah? Biarpun umur aku lebih tua dari kamu, cuma beda dua bulan aja kok." Lanjut Monika.


Eli mengangkat satu alisnya, apa-apaan ini? Dia tidak pernah memikirkan mempunyai adik, dan sekarang? Dia mau jadi kakak? Walau nyatanya dia tetap jadi adik.


Semua yang melihat ekspresi Eli hanya bisa bersabar, mungkin akan ada keributan nanti. Pikir mereka semua.


"Kamar?" Tanya Eli, malas berbicara ke orang yang mungkin buat dia marah?


Mereka semua cengo, biasanya Eli akan marah, tapi sekarang? Hebat. Pikir mereka semua.


Seakan sadar akan pikiran, "di lantai dua, sebelah kanan. Di sebelah kanan hanya ada tiga kamar, yaitu abang twins, dan kamu. Kamu punya di tengah." Jelas mamah Fana, dan langsung di angguki Eli, kemudian berlalu dari ruang keluarga."


"Kita juga pamit yah, mau ke kamar Eli." Pamit Anggun, dan langsung menarik Ferni, untuk segera mengikuti Eli.


Hening.


Hingga, satu menit kemudian.


"Mah, itu kan kamar Monika." Kata Monika tiba-tiba.

__ADS_1


Astaga. Bagaimana bisa lupa?


__ADS_2