Elena'S Transmigration Story

Elena'S Transmigration Story
Lima Puluh Enam (Berusaha)


__ADS_3

Satu bulan berlalu dengan begitu cepat, tidak ada perubahan yang terjadi di kehidupan Elena dalam raga Elina. Hubungan Eli dan Abi pun saat ini tidak jelas, tetapi rasa sayang mereka ciptakan masih begitu terasa di dalam diri masing-masing.


Bang Uzi, Davin, Panji, Cakra, Ferni, dan Anggun yang sedang bekerja sama dengan empat orang itu, berjalan dengan baik. Sudah banyak hal yang mereka dapatkan, untuk itu.... Mereka tinggal menunggu satu bulan lagi untuk membongkar semuanya.


Kisah Anggun dan Cakra? Mereka berdua semakin dekat, dan membangun hubungan dengan pemikiran yang lebih lagi dewasa.


Arya dan Ferni? Mereka menjadi orang asing di saat bertemu. Bukan tidak mau tegur sapa, tetapi di sini, Ferni lah yang menghindar dari Arya. Ferni bukan gadis yang gampang mencintai dalam sekejap. Ferni bukan gadis yang gampang melupakan perasaanya dalam sekejap. Menjadi orang asing, atau menghindar dari Arya, adalah cara terbaik untuk melupakan perasaanya. Namun apakah bisa Ferni melupakan perasaanya? Apakah bisa, Arya memiliki perasaan untuk Ferni?


...----------------...


"Ferni." Panggil Anggun dengan sedikit berlari mendekati Ferni yang berdiri menunggunya.


"Gak sama-sama Cakra?" Tanya Ferni, kemudian berjalan dengan santai menuju kelas bersama Anggun.


"Gak, dia tadi sama Panji mau ke beskem dulu." Jawab Anggun yang di angguki Ferni.


Saat mereka akan berbelok ke koridor sebelah kanan, Arya datang dengan memegang sebuah benda kotak berwarna oren.


"Hay." Sapa Arya pada Ferni dan Anggun.


"Eh, Hay." Balas Anggun dengan senyumnya, sedangkan Ferni mengangguk, kemudian mengalihkan pandangannya.


"Em, Nggun. Ini bekal buat makan siang lo." Kata Arya dengan memberikan benda kotak itu.


Anggun menatap Ferni, sedangkan yang di tatap tetap mengalihkan pandangannya.


"Em, gak usah. Mending lo aja yang makan." Tolak Anggun.


"Gue ada bawa bekal kok. Tadi bibi gue masak kebanyakan, dari pada dibuang. Gue kasi lo aja." Kata Panji.


"Kenapa gue? Kan lo punya empat sahabat." Kata Anggun dengan bingung.


Arya terkekeh, "Tapi gue maunya kasi ke elo." Jawab Arya.


Anggun ikut terkekeh, kemudian mengambil kotak dari tangan Arya, "Oke lah. Terimakasih banyak yah." Kata Anggun.


"Ia, sama-sama." Jawab Arya.


"Oke. Kalau gitu gue ke kelas dulu." Kata Anggun, kemudian menggandeng tangan Ferni.


"Anggun." Panggil Arya.


Anggun berbalik, menatap Arya yang sedang memasang senyum manisnya, "Kenapa?" Tanya Anggun.


"Gue mau bicara sama lo." Kata Arya dengan menatap Ferni yang juga sempat melihatnya. Namun dengan cepat, Ferni memutuskan kontak mata itu.


"Ya udah, bicara saja." Kata Anggun yang mempersilahkan.


"Berdua." Kata Arya.


"Ke-"


"Gue duluan." Pamit Ferni, kemudian berjalan meninggalkan Anggun dan Arya berdua.


"Lo mau bicara apa?" Tanya Anggun yang kesal karena di tinggal oleh Ferni.


"Gue mau tanya, sore nanti lo ada waktu luang gak?" Tanya Arya.


Anggun nampak berpikir, "Gak ada sih. Emangnya kenapa?" Tanya Anggun.


"Hem, gue mau ajak lo ke mall sore nanti. Mau gak?" Tanya Arya.


Dengan cepat Anggun menganggukkan kepalanya, "Bisa. Gue sebenarnya ada rencana untuk beli sepatu soalnya." Kata Anggun.


"Oke, sore nanti gue jemput lo di rumah." Kata Arya.


"Oke. Kalau gitu gue ke kelas dulu." Kata Anggun, kemudian berjalan ke arah kelasnya.


"Yes!" Kata Arya dengan senang, kemudian berjalan ke kelasnya.


Saat Arya berada di kelasnya, ia melihat para sahabat yang sedang duduk bersama di meja paling pojok, tempatnya Abi.


"Lagi apa nih?" Tanya Arya yang ikut bergabung.


"Gak. Ini, sih bos katanya mau bicara baik-baik sama bu bos nanti." Kata Andre dengan memainkan game di ponselnya.


Arya menganggukkan kepalanya, "Gue nanti sore ada janji sama Anggun." Kata Arya dengan senyum konyolnya.


Andre dengan cepat menatap Arya, di ikuti Zidan, Lukas, kemudian Abi, "Serius?" Tanya mereka berempat bersama.


Arya mengangguk, "Serius." Jawabnya.


"Astaga." Kata Andre dengan menepuk jidatnya, dia sudah tidak perduli lagi dengan game yang sedang melakukan peperangan besar itu.


"Kenapa? Ini merupakan awal yang bagus kan?" Tanya Arya.


"Lo mau jadi perusak hubungan orang?" Tanya Andre.


"Emang gue merusak hubungan mereka?" Tanya Arya dengan bingung.


"Lo polos apa kop*ak?" Tanya Andre.


"Anj*ng." Umpat Arya.


"Mana?" Tanya Andre dengan dibuat-buat bingung.


Arya menunjuk Andre, "Itu." Katanya.


Andre menatap Arya, "Gue?" Tanyanya.


"Ialah, siapa lagi?" Tanya Arya dengan malas.


"Lo aja anj*ng nya. Soalnya gue itu manusia." Kata Andre yang membuat Arya memutar bola matanya dengan malas.

__ADS_1


"Lo jauhi Anggun. Jangan sampai lo di cap sebagai perusak hubungan orang." Kata Zidan dengan menatap serius pada Arya.


Arya diam, memikirkan kata-kata Zidan barusan. Tidak lama dari pembicaraan mereka, bel pertanda masuk telah berbunyi, memenuhi seluruh pendengaran penghuni AR School.


...----------------...


Ting.


Abi


Aku tunggu kamu di taman belakang sekolah sekarang.


Eli mengerutkan keningnya dengan bingung, "Ngapain?" Pikirnya.


"Siapa?" Tanya Ferni saat melihat ekspresi bingung di wajah Eli.


"Abi." Jawab Eli.


"Kenapa dia?" Tanya Ferni.


"Minta ketemuan di taman belakang sekolah sekarang." Jawab Eli dengan sedikit ragu.


Ferni mengangguk, "Mending lo temui. Kelarin masalah lo sama dia, sudah satu bulan kalian seperti ini." Kata Ferni yang memberikan saran.


Eli nampak mempertimbangkan, "Oke." Jawabnya dari sekian lama diam.


Ferni mengangguk, sedangkan Anggun yang mendengar dari tadi, hanya diam menyimak saja.


"Bu. Izin bolos." Pamit Eli, kemudian keluar dari dalam kelas dengan santai.


Teman-temannya menatap Eli tak percaya, "Terlalu santai bu." Batin mereka.


Bu Nita diam, tidak mempermasalahkan Eli yang izin membolos, "Eli kan sudah pintar." Pikirnya.


"Ferni, nanti sore lo bisa ikut gue gak?" Tanya Anggun dengan sedikit berbisik, takut bu Nita mendengar suara mereka.


"Ke mana?" Tanya Ferni dengan pandangan lurus memperhatikan bu Nita yang menulis contoh soal.


"Mall." Jawab Anggun.


"Hem. Lihat saja sore nanti." Kata Ferni, kemudian di angguki Anggun.


...----------------...


"Kenapa?" Tanya Eli yang baru saja tiba di samping Abi.


Abi menghadapkan tubuhnya ke arah Eli, kemudian menatap sebentar, "Aku mau tanya." Kata Abi dengan pandangan yang lurus ke depan.


"Apa?" Tanya Eli.


"Hubungan ini mau di lanjutkan atau tidak?" Tanya Abi.


Eli menatap Abi dengan datar, "Kenapa?" Tanya Eli.


Abi menatap Eli yang mengekspresikan wajah datarnya, "Hubungan dari satu bulan ini tidak jelas. Jadi aku tanya." Kata Abi.


Hening.


Abi diam memikirkan sesuatu, sedangkan Eli, pandangan dan juga pikirannya kosong begitu saja.


"Aku, lanjut." Katanya, yang membuat Eli dengan cepat menatap Abi.


Eli mengangguk, "Hem." Dehem nya.


"Kamu mau lanjut atau tidak?" Tanya Abi.


"Aku mau tanya dulu." Kata Eli dengan menatap serius pada Abi.


"Apa?" Tanya Abi.


"Kamu masih sayang aku?" Tanyanya.


Abi tersenyum manis, "Kalau tidak sayang, aku gak akan mau lanjut." Jawab Abi, sedangkan Eli mengangguk saja.


"Lalu Adel?" Tanya Eli.


Abi menghirup udara dengan penuh, lalu menghembuskan nya begitu saja, "Dia sudah ku anggap sebagai adik El." Kata Abi yang berusaha membuat Eli percaya.


"Terus kenapa kamu jadi kan aku bahan taruhan?" Tanya Eli dengan sedih.


Abi mengambil pergelangan tangan Eli, "Maaf." Maaf Abi yang kesekian kalinya. "Aku cuma mau jebak dia." Lanjut Abi.


Eli menatap Abi dengan bingung, "Menjebak?" Tanya Eli.


"Ia." Jawabnya, "Dan kamu pikir aku bodoh? Untuk menjalankan rencana sendiri di belakangku sayang?" Kata Abi dengan suara rendahnya di akhir kalimat.


Eli bergidik ngeri kerena mendengar suara rendah Abi, "Yah? Rencana apa? " Tanya Eli dengan pura-pura tidak tahunya.


Abi menerbitkan smirk nya, "Yakin tidak tahu? Atau pura-pura tidak tahu?" Tanya Abi dengan mendekat pada Eli.


Eli memundurkan langkahnya, "Hah? Yah, yang mana?" Tanya Eli dengan langkah yang terus mundur.


Abi mengangkat satu alisnya, kemudian menarik tangan Eli. Eli yang tidak berdiri dengan benar pun harus menabrak dada bidang Abi. Abi memeluk pinggang Eli dengan mesra, kemudian menenggelamkan wajahnya sendiri di leher Eli.


"A-Abi, ka-kamu ngapain sih?" Tanya Eli yang berusaha menutupi kegugupannya.


"Gak." Jawab Abi.


"Kalau gitu lepas." Kata Eli degan mendorong tubuh Abi. Namun sayang, tenaga Eli tidak begitu besar untuk mendorong tubuh Abi. Apa lagi dalam keadaan seperti ini.


"Diam, atau aku gigit?" Kata Abi dengan datar.


Eli diam di tempatnya, takut Abi akan benar-benar menggigit dirinya. Itu bukanlah hal yang lucu untuk di jadikan bahan candaan bukan?

__ADS_1


...----------------...


"Yeh, nih Eli lama bener dari taman." Kata Anggun dengan mengaduk-aduk es tehnya.


"Lepas rindu dengan Abi mungkin." Kata Ferni lalu memasukkan sepotong siomay dalam mulutnya.


"Mungkin." Kata Anggun.


"Halo sayang......" Kata Cakra yang baru saja datang membawa nampan berisi bakso dan juga es teh.


Ferni yang melihat Cakra hanya bisa memutar bola matanya dengan malas, "Gak bisakah pelan kan sura lo itu?" Tanya Ferni dengan sedikit kesal.


Cakra menatap Ferni, "Suka-suka gue. Ini kan mulut gue, bukan lo." Jawab Cakra, lalu bermesraan degan Anggun.


Ferni yang melihat Cakra dan Anggun bermesraan hanya bisa menatap datar, "Lo di mana Eli?" Batin Ferni dengan gemas, rasanya ingin sekali ia memakan Eli.


"Sudah mesra-mesra aja lo." Kata Panji lalu duduk di samping Cakra.


"Suka-suka gue." Jawab Cakra.


"Wah, semenjak lo pacaran lagi sama Anggun. Sepertinya lo semakin melonjak yah." Kata Panji dengan sewot, tetapi tidak di hiraukan oleh Cakra.


Ferni menatap bang Davin dan juga Devin yang baru saja datang dengan membawa nampan berisi makanan mereka masing-masing, "Tumben." Kata Ferni dengan pelan, tetapi masih bisa di dengar oleh Panji.


Panji mendekatkan mulutnya pada telinga Ferni, "Biasa." Katanya.


Ferni menatap Panji dengan bingung. Sedangkan Panji, menatap malas pada Ferni yang masih loading otaknya.


Kursi yang di duduki Anggun dan Ferni memang sangat panjang, karena mereka bertiga nanti rencananya akan bermain game. Namun sepertinya itu tidak akan terjadi.


"Eli?" Tanya bang Davin.


Ferni menatap bang Davin, "Gak tahu." Jawabnya.


Bang Davin mengerutkan keningnya, "Kemana?" Tanyanya pada Anggun.


"Taman belakang, tapi gak tahu sekarang, mungkin dikit lagi datang." Jawab Anggun.


Bang Davin yang mendengar jawaban Anggun hanya mengangguk saja.


Panji menyenggol tangan Ferni yang sedang nganggur, "Dengar? Itu baru jawaban yang benar." Katanya yang hanya di acuhkan oleh Ferni.


Mereka makan dengan hening, tetapi kembali ada yang datang di meja mereka, siapa lagi kalau bukan Lukas dan sahabatnya?


"Wish, siapa nih?" Tanya Cakra saat melihat Lukas dan para sahabatnya.


"Orang." Jawab Andre, lalu duduk di samping Ferni.


"Siapa yah suruh lo duduk?" Tanya Cakra.


"Kenapa? Gue kan duduk di samping Ferni, bukan lo. Ataupun pacar lo." Kata Andre dengan menekan di kata 'Pacar.'


"Siapa yang suruh lo duduk dengan kita?" Tanya Cakra.


"Gak ada, tapi kan ini kantin, berarti umum kan." Jawab Andre.


"CK! Lo mending pergi deh!" Kata Cakra dengan tidak santainya.


"Diam. Lo juga tadi datang ke sini dan main duduk saja kan. Lalu salahnya Andre apa?" Tanya Ferni, "Lo gak ada beda jauh kan sama Andre?" Tanya Ferni lagi.


"Lo belah dia?" Tanya Cakra.


"Lo kenapa sensi sama dia?" Tanya Ferni.


"Gue gak ada sensi. Gue cuma gak suka kehadiran mereka di tengah-tengahnya kita." Jawab Cakra.


"Ya udah sih, lo mending pergi aja." Kata Ferni dengan enteng.


"Gak bisa lah, Anggun kan pacar gue. Pacar gue itu kan sahabat lo. Jadi gak masalah lah." Jawab Cakra dengan menggandeng tangan Anggun.


"Lo lupa, mereka sahabat pacarnya Eli?" Tanya Ferni.


"Kan sahabat, bukan pacarnya." Kata Cakra dengan terkekeh konyol.


"CK! Terus sahabat lo yang duduk di sini juga apa?" Tanya Ferni.


Cakra diam, memikirkan jawaban yang pas, "Davin, Devin, kan kakaknya Eli, Panji, saudara lo. Jadi gak masalah kan....." Kata Cakra dengan seringai nya.


"Anj*ng." Batin Ferni dengan kesal.


"Skakmat kan lo?" Tanya Cakra yang tidak di hiraukan Ferni.


"Kalau gue bilang Eli sebagai adik kandung, gimana?" Tanya Lukas.


"Kalau gue bilang sudah menganggap Eli sebagai adik, gimana?" Tanya Zidan.


"Kalau gue bilang Ferni sebagai pacar giman?" Tanya Andre.


"Dan kalau gue bilang Anggun sebagai pacar, gimana?" Tanya Arya.


"Lo gak akan bisa pacaran sama Anggun. Karena dia milik gue." Kata Cakra dengan cepat.


"Lo berdua, tetap tidak bisa menjadi kakak Eli. Apa lagi kandung." Tekan bang Davin dengan menatap ekspresi datar Lukas.


"Dan lo. Harus hadapi gue, kalau mau pacaran sama Ferni." Kata Panji dengan serius pada Andre.


"Siapa juga yang mau pacaran?" Tanya Ferni dan Andre bersama.


"Siapa tahu." Jawab Panji dengan acuh.


"Itu kenyataan. Dia adik gue, Elena, buka Elina." Batin Lukas.


"Dia adik gue, Elena." Batin Zidan.

__ADS_1


"Gue akan berusaha untuk jadikan Anggun sebagai pacar." Batin Arya.


Bersambung....


__ADS_2