
Saat ini, Eli dan Abi berjalan sambil bergandengan tangan. Banyak pasang mata yang melihat ke arah mereka, tetapi tidak di hiraukan sama sekali.
Beruntung sekali saya ke sini hari ini. Bisa melihat yang bening-bening.
Kyaaa, ganteng banget sih.
Pengen juga gue di gandeng sama cowok ganteng.
Is, ceweknya ganjen.
Aduh, mata gue jernih.
Bisa daftar jadi pacar gak sih?
Yok pacaran neng.
Dll.
Abi yang mendengar ajakan pacaran cowok lain, terhadap kekasihnya jadi posesif. Tangannya dengan erat memeluk pinggang Eli.
"Kenapa pakai baju yang kurang bahan gini?" Tanya Abi dengan mata tajamnya.
"Pengen aja. Lagian, ini itu model." Jelas Eli.
"Model apa yang lobang-lobang? Kamu udah gak mampu beli baju honey?" Tanya Abi.
"Is." Kesal Eli.
"Ambil trolinya. Kamu dorong, ikutin aku untuk isi trolinya." Perintah Eli, dan langsung dilakukan oleh Abi.
Sepanjang perjalanan, mata Eli dengan teliti melihat-lihat rak yang di isi dengan berbagai macam. Saat ini, mata Eli sedang menjelajah pada bermacam-macam selai.
"Kamu mau selai yang mana Abi?" Tanya Eli, sambil melihat selai oreo dan coklat.
"Dua-duanya." Jawab Abi.
Eli hanya mengangguk sebagai jawaban.
Mereka terus menelusuri rak-rak tersebut, hingga berhenti di tempat sayur.
"Kamu mau kol kan?" Tanya Eli dengan mata yang melihat banyaknya kol.
"Ia honey." Jawab Abi.
Eli mengambil bermacam-macam sayuran, kemudian daging, lalu buah.
"Sudah?" Tanya Abi.
"Ia." Jawab Eli.
"Ayo bayar." Ajak Abi, kemudian tangannya yang satu menggandeng Eli. Dan yang satu nya lagi, mendorong troli.
"Mau bayar tunai atau pakai kartu kak?" Tanya kasir dengan lembut-lembut manja.
Tanpa menjawab, Abi langsung memberikan uang tunai kepada kasir tersebut.
"Ini kembalinya, dan terimakasih." Kata kasir itu dengan senyuman yang dibuat-buat manis.
Abi dan Eli melangkah keluar dari supermarket tersebut, dengan tangan Abi yang memegang dua plastik besar.
"Ini pak, minta bibi untuk langsung atur yah." Pinta Eli pada seorang pria lanjut usia. Dia pak Mamang, supir pribadi Abi.
"Baik non Eli." Jawab pak Mamang, dan pamit pada Eli lalu Abi, kemudian pulang ke apartment.
"Ayo." Ajak Abi.
Di dalam mobil, hanya ada keheningan.
"Honey, nanti aku langsung pulang atau ikutin kamu kumpul sama sahabat Eli?" Tanya Abi.
"Mereka juga sahabat aku Abi." Kata Eli.
"Baiklah." Jawab Abi.
"Kamu gak usah ikut, nanti aku pulang naik taksi aja." Kata Eli.
"Tidak." Jawab Abi dengan cepat.
"Kenapa?" Tanya Eli bingung.
"Gak mau pacar aku naik taksi." Jawab Abi.
__ADS_1
"Gak papa kok." Kata Eli menyakinkan.
"Kalau aku bilang tidak, artinya tidak honey." Kata Abi mutlak.
Eli hanya diam di tempatnya, menyandarkan dari pada sandaran kursi dengan kasar, kemudian menutup mata.
"Sayang, aku cuma gak mau kamu kenapa-napa. Selagi aku ada, kamu tetap sama aku." Kata Abi menenangkan.
"Tapi aku takut repotin kamu Abi." Kata Eli dengan mata yang masih setia terpejam.
"Kamu gak repotin aku. Aku malah senang kamu sama aku terus." Jelas Abi.
"Tapi kamu bukan supir aku Abi." Kata Eli dengan mata yang sudah terbuka, tetapi tidak mengarah pada Abi.
Abi menghentikan mobil nya di pinggir jalan, kemudian mengambil tangan Eli untuk di genggamnya. "Kamu adalah Queen ku Ele. Seorang Queen, akan di perlakukan sebaik mungkin oleh King nya. Tidak ada kata repot di dalam kamus King." Jelas Abi.
Eli hanya diam, dengan mata yang masih menatap Abi dalam.
"Kamu Queen ku." Kata Abi. Eli langsung memeluk Abi dengan erat.
"Maaf." Kata Eli.
"Ia." Jawab Abi. Abi melepas kan pelukannya, tetapi tangan Eli di genggam dengan erat.
"Nanti aku tunggu di cafe sama yang lain. Selesai dengan sahabat kamu, telpon aku." Jelas Abi.
"Ia." Jawab Eli.
Mobil yang di kendarai Abi dan Eli pun kembali meleset. Dengan tangan Abi yang tidak lepas dari genggamannya dengan Eli.
...----------------...
"Huhuy! Ini gimana soal rencananya?" Tanya Arya.
Saat ini, Abi dkk berada di kafe AR. Selesai mengantar Eli ke mall, Abi menyuruh sahabatnya untuk kumpul.
Soal AR, itu adalah sebuah nama dari bisnis seseorang. AR berkembang dalam dunia perkantoran, perkebunan, peternakan, kafe, dan mall.
"Oke, jadi setiap tiga bulan sekali, sudah jadi rutinitas, untuk pergi ke desa." Jelas Lukas memulai.
"Kali ini kita akan ke desa Dirgayu." Tambah Zidan.
"Dananya sudah siap?" Tanya Abi.
"Markas, rapat." Kata Abi, dan berlalu pergi.
"Ha?" Tanya Andre.
"Ke markas, rapat." Jelas Zidan, dan berlalu dari sana bersama Lukas.
"Ayo! Malah bengong." Kata Arya, dan menarik baju belakang milik Andre.
...----------------...
"Ini mana yang bagus?" Tanya Anggun.
Eli, Anggun dan Ferni, saat ini berada di tokoh sepatu.
"Yang warna biru aja." Usul Ferni.
"Tapi yang pink bagus." Kata Anggun.
Eli duduk di kursi yang berada di tokoh tersebut dengan santai. Anggun memegang dua sepatu, dengan model yang sama, tetapi beda warna. Ferni yang berdiri sambil memegang sepatu berwarna putih, dengan menatap Anggun malas.
"Kalau yang pink bagus, ambil aja." Kata Ferni dan berjalan untuk duduk di samping Eli.
"Tapi tadi katanya warna biru." Kata Anggun polos.
"Ambil aja dua-duanya." Jelas Ferni.
"Tapi aku mau beli satu aja. Kalian kan tahu, sepatu di rumah gue itu banyak!" Kata Anggun yang ikut kesal sendiri.
"Pilih mana-mana saja." Kata Eli tiba-tiba dan berdiri dari duduknya.
"Cepat Anggun." Kata Ferni mendesak, dan ikut berdiri dari duduknya.
"Aduh. Gue ambil yang warna maron aja lah." Kata Anggun dan mengambil sepatu berwarna maron.
Eli menatap datar Anggun, sedangkan Ferni dibuat melongo.
"Kalau lo mau ambil yang warna maron, kenapa kasi pilihan warna biru dan pink Anggun?!" Gereget Ferni.
__ADS_1
"Hehe, gue gak tahu." Jawab Anggun dengan cengiran yang lebar.
Eli tidak menghiraukan kedua sahabatnya, dia memilih jalan menuju kasir.
"Ayo." Ajak Anggun pada Ferni, dan berjalan mengikuti Eli.
"Wish. Gue lapar nih, ayo cari makan." Kata Anggun tiba-tiba.
Selesai membayar sepatu di kasir, mereka masih mengelilingi mall.
"Makan apa?" Tanya Ferni, kaki mereka sudah berada di depan bermacam-macam kafe dalam mall itu.
"Gue pengen makan rendang." Kata Eli.
"Ya udah, ayo." Semangat Anggun.
Mereka kembali berjalan ke arah kafe dengan tulisan 'NUSANTARA.'
"Mbak!" Panggil Anggun pada waiters tersebut.
"Mau pesan apa?" Tanyanya.
"Rendang nya tiga. Jus mangga nya juga tiga." Pesan Ferni.
"Baiklah, permisi." Pamitnya dan berlalu dari tempat Eli dkk.
"Gimana soal Monika?" Tanya Anggun.
"Gak gimana-gimana." Jawab Eli.
"Ini si kuyang kita apain?" Tanya Ferni.
"Gue belum mikir. Masih mau istirahat." Kata Eli sambil menatap kedua nya dengan serius.
"Lo lebih bagus cepat bertindak. Si kuyang itu licik." Kata Anggun bijak.
"Karena itu lawan dengan otak, jangan otot." Jawab Eli.
"Yah, tapi lo belum mikir." Kesal Anggun.
"Kita harus ikut taktik dia dulu." Kata Ferni dengan ekspresi seriusnya.
"Dia itu berbisa." Kata Eli tenang.
"Ia. Mulutnya yang harus kita hancurkan." Kata Anggun menggebu-gebu.
"Dia punya banyak pawang." Jelas Ferni.
"Ha?" Tanya Eli tidak mengerti.
"Lo tahu? Pas pulang sekolah tadi, Monika lagi bermain di gudang." Jelas Anggun heboh.
"Main? Main apa?" Tanya Eli yang tiba-tiba blank otak nya.
"Pokoknya bermain. Gue sering lihat dia jalan di taman malam-malam." Kata Ferni.
"Lah? Sejak kapan dia keluar malam?" Tanya Eli bingung.
"Lo yang satu rumah dengannya masa gak tahu sih?" Tanya Anggun.
"Gue benar gak tahu." Jawab Eli acuh.
"Berarti dia sangat pintar main di rumah lo." Kata Ferni sambil mengeluarkan ponsel dari tas kecil miliknya.
"Lo harus cepat bertindak intinya Eli. Ingat, bukan hanya lo yang akan bebas. Namun semuanya." Kata Anggun dramatis. "Semuanya." Lanjut Anggun pelan, dengan muka yang mendekat pada Eli. "Semuanya!" Teriak Anggun tepat di hadapan Eli, dengan tangan yang direntangkan.
"Heh!" Tegur Ferni.
Ferni menatap semua pengunjung sambil menunduk sedikit, seolah mengatakan 'maaf.'
"Malu-maluin." Kata Ferni tajam.
Anggun hanya cengengesan menanggapi Ferni.
"Ini." Kata Ferni pada Eli dan Anggun, sambil melihat kan layar hp yang menyala.
"Aduh! Si kuyang teh buat bingung pisan!" Kata Anggun dengan memegang kepalanya.
"Permisi. Ini pesannya." Kata waiters yang tiba-tiba datang membawa nampan.
"Terimakasih." Kata Anggun dengan senyuman yang manis.
__ADS_1
"Sama-sama. Saya permisi." Kata waiters tersebut.
"Selamat makan." Girang Anggun.