Elena'S Transmigration Story

Elena'S Transmigration Story
Empat Puluh Tiga (What is your secret?)


__ADS_3

Pagi ini cuaca begitu cerah, dan jalanan cukup padat. Sesuai dengan kesepakatan kemarin, keluarga Prayaga akan ke Puncak pagi ini.


"Huh, yang minta ke Puncak malah nyusul sore nanti, memang yah tuh anak." Kata tante Ghea dengan kesal.


"Sudah lah kak, Monik akan menyusul sore nanti sama Leo dengan sahabatnya kan? Jadi gak masalah." Kata papah Abson yang sibuk berkonsentrasi membawa kendaraan.


Monik akan menyusul sore nanti dengan Leo beserta sahabatnya? Ia, mereka akan menyusul nanti, karena Monik yang tiba-tiba mendapatkan panggilan dari guru kesiswaan. Hal itu yang membuat Monik tidak berangkat bersama dengan keluarga nya pagi ini.


"Hem. Kita mampir ke minimarket dulu." Kata tante Ghea, dan di angguki oleh papah Abson.


Kendaraan yang di bawa oleh papah Abson terdapat empat orang. Dan kendaraan yang di bawa uncle Rizky terdapat lima orang. Yah, mereka menggunakan dua mobil untuk pergi ke Puncak. Mobil pertama, ada uncle Rizky, tante Ghea, papah Abson, dan mamah Fana. Mobil kedua, ada paman Ardan, bibi Siska, bang Devin, Bendra, dan Bagas.


"Kenapa berhenti?" Tanya paman Ardan saat keluar dari mobil. Yap, mereka sudah sampai di minimarket.


"Berenang. Yah belanja lah." Jawab tante Ghea, dan berlalu dari parkiran.


"Ayo." Ajak uncle Rizky, dan berjalan mengikuti istrinya itu.


"Ngapain?" Tanya bang Bagas.


"Lo gak dengar tadi bang?" Tanya bang Bendra dan Devin.


Bang Bagas memutar bola matanya dengan malas, lalu kembali memasuki mobil.


"Lo gak mau masuk bang?" Tanya bang Bendra dengan berteriak, membuat mereka manjadi sorotan.


"Mulut mu Dra." Peringat bibi Siska, lalu menggandeng tangan paman Ardan, dan berjalan masuk.


"Ayo." Ajak papah Abson pada mamah Fan, kemudian mengikuti kakak-kakaknya.


"Vin, lo mau ikut masuk?" Tanya bang Bendra.


Bang Devin memutar-putarkan otak nya agar berada di posisi yang baik, "Ia! Mumpung tante Ghea yang belanjakan, ambil sebanyak-banyaknya." Jawab bang Devin dengan semangat, lalu berlari ke dalam minimarket.


"Kapan tante Ghea ngomong kayak gitu?" Tanya bang Bendra dengan bingung.


"Bodoh lah! Ngikut-ngikut aja gue!" Jawab bang Bendra sendiri, lalu berlari mengejar Devin yang sudah berada di dalam supermarket.


"Ck! adik siapa sih lo berdua?" Tanya bang Bagas dengan memainkan ponselnya. Percakapan kembaran nya dengan adik sepupunya itu jelas di dengar oleh bang Bagas.


...----------------...


"Benar gak mau di antar?" Taya Leo dengan memastikan.


Saat ini, Monik dan Leo berada di rumah keluarga Prayaga. Rencananya Leo akan mengantar Monik ke sekolah, tetapi tidak jadi atas paksaan dari kekasihnya itu.


"Ia. Kamu pulang aja dulu, besok pagi ke sini sama teman kamu juga, kita berangkat sama-sama." Kata Monik di sertai senyum nya.


"Hem, aku ke sini saat kamu pulang dari sekolah. Atau aku Jemput kamu di sekolah?" Ucap Leo beserta pertanyaannya.


"Hem, aku ada janji sama Bela untuk di jemput, sekalian main dirumahnya." Jawab Monik dengan lesu.


Leo menghembuskan nafasnya dengan sedikit kasar, lalu mengangguk sebagai jawaban. "Aku pulang." Kata Leo, dan langsung berjalan ke arah mobilnya yang terparkir rapi di halaman rumah keluarga Prayaga.


"Leo." Panggil Monik dengan berdiri dari duduknya.


Leo berbalik, menatap Monik dari jauh, "Yah?" Tanyanya.


"Kamu marah?" Tanya Monik dengan melangkahkan kakinya ke arah Leo.


"Tidak." Jawab Leo.

__ADS_1


Monik mengangguk, kakinya terus berjalan mendekati Leo yang sudah berada di samping mobilnya.


"Terus, kamu kenapa?" Tanya Monik dengan pelan, saat tepat berada di hadapan Leo.


"Gak papa. Aku pamit yah, kamu juga cepat ke sekolah." Kata Leo dengan memberikan senyum nya, lalu memasuki mobil berwarna putih.


Monik melambaikan tangannya dengan menatap mobil Leo yang semakin jauh. Saat mobil Leo sudah tidak terlihat lagi, Monik Menghembuskan nafasnya dengan kasar, lalu mengambil hp di saku celana.


"Makasih bu, saya akan transfer sekarang." Kata Monik.


"Baik, terimakasih." Jawab orang yang berada di sebrang telpon.


Tut.... Tut.... Tut....


Panggilan terputus, Monik kembali memasuki rumah untuk mengambil kunci mobil, dan pergi ke suatu tempat.


...----------------...


"Di mana?" Tanya Abi dengan pelan takut membangunkan Eli yang berada di dalam bekapannya.


"Belum mendapatkan jejaknya." Jawab Zidan dengan mata yang terus fokus pada layar di hadapan nya itu.


Abi menghembuskan nafasnya dengan pelan, dia takut Eli terbangun dan kembali memikirkan hal yang tidak-tidak. Eli menjadi orang yang paling banyak pikiran saat tahu jika Raya hilang. Pasalnya Eli juga sedang di datangi oleh tamu tiap bulan, membuatnya tambah banyak pikiran.


"Sepertinya kita tidak perlu mencari dengan cara melacak seperti ini." Kata bang Uzi tiba-tiba.


Semua menatap bang Uzi dengan bingung, kalau tidak dengan meretas, lalu apa? Mencari dengan mengelilingi desa, dan hutan di samping kanan, kiri, belakang? Tentu itu membutuhkan waktu yang sangat banyak.


"Apa itu lebih baik?" Tanya Lukas dengan serius.


"Yah. Kalian kan geng Clouts, dan dari keluarga terpandang. Correct?" Ucap bang Uzi dengan menaikan satu alisnya.


Inti Clouts saling pandang, kemudian mengangguk bersama dengan wajah serius mereka. Bahkan Arya dan Andre yang selalu memasang wajah konyol, sekarang di ganti dengan serius.


"Maksudnya?" Tanya Andre dengan bingung.


"Kita bawa helikopter?" Tanya Arya.


"Kemana?" Tanya Andre dan Arya bersama.


Zidan memutar bola matanya dengan malas, lalu menepuk dahi Andre dan Arya, hingga membuat mereka meringis.


"Apa sih?" Tanya Andre dan Arya bersama, dengan tangan yang masing-masing mengusap dahi.


"Lo berdua bisa bawa helikopter?" Tanya Zidan dengan malas.


"Kita?" Tanya Andre dan Arya bersama lagi.


"Yah." Jawab Zidan dengan malas.


"Yah tentu saja ia ndak." Jawab Andre dan Arya dengan tertawa besar, membuat mata Abi seketika menjadi tajam.


(Arti ia ndak itu adalah tidak).


"Diam." Suruh Lukas dan bang Uzi bersama.


Tawa Andre dan Arya seketika terhenti saat mendengar suara Lukas dan bang Uzi. Apa lagi di tambah dengan sorotan dari mata Abi yang tajam itu, tidak lupa tangan yang mengepal di udara ke arah mereka berdua.


"Ia, maaf." Kata Andre dan Arya dengan pelan.


"Ayo." Ajak bang Uzi, lalu berdiri dari duduknya.

__ADS_1


"Ke mana?" Tanya Zidan.


"Cari pakai helikopter." Jawab bang Uzi.


"Siapa yang bawa?" Tanya Andre.


"Helikopter nya di mana?" Tanya Arya.


"Pilot, saya." Jawab bang Uzi, dan keluar dari tenda, di ikuti oleh Arya, Andre, bang Davin, dan Zidan. Lukas dan Abi masi di dalam, menyiapkan apa saja yang akan di bawa.


"Ayo." Ajak Lukas dan Abis saat baru keluar dari tenda.


"Eli?" Tanya bang Uzi.


"Tidur, nanti akan di jaga sama ibu nya Raya." Jawab Lukas yang di setujui oleh Abi melalui anggukan kepala.


"Ya udah, ayo!" Semangat Arya, dan memimpin Jalan di depan.


"Lo mau kasi kita jalan yang salah lagi?" Tanya Andre dengan tangan yang menarik kaos polos milik Arya.


Arya terkekeh, tangan kirinya ia gunakan untuk menggaruk kepalanya yang tiba-tiba saja gatal.


"Is! Lo ketombean atau kutuan?" Tanya Andre dengan wajah jijiknya.


Plak.


Arya menggeplak kepala Andre dengan cukup keras, "Pala gue gatal karena tangan lo." Jawab Arya ngasal.


"Idih. Tangan gue pegang kaos lo ye! Bukan pala lo!" Jawab Andre yang membela diri.


"Sama aja! Ta-"


"Lo berdua tinggal?" Tanya Zidan dengan sedikit berteriak.


"Njir di tinggal kita." Kata Arya dan berlari mengejar teman-temanya, di ikuti Andre dari belakang.


"Pakai helikopter nya siapa?" Tanya Lukas.


"Saya." Jawab Uzi, entah kenapa dia menjadi formal.


Bang Davin menatap Uzi dengan pandangan yang tidak bisa di artikan, kemudian mengambil hp nya, lalu mengetik sesuatu.


Ting.


Pesan masuk di hp bang Uzi, dahi nya mengkerut saat tahu yang mengirimnya adalah Davin.


Davin


Sejak kapan lo punya helikopter? Dan dari mana?


Bang Uzi menerbitkan senyum tipisnya, lalu membalas pesan dari Davin


^^^Rahasia. ^^^


Selesai membalas, bang Uzi memasukkan hp nya ke dalam saku celana.


Bang Davin yang mendapatkan balasan seperti itu menjadi tambah bingung.


"Sejak kapan lo jadi tertutup sama gue bang?" Pikir bang Davin.


"What is your secret?" Tanya bang Davin dengan pelan.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2