Elena'S Transmigration Story

Elena'S Transmigration Story
Tiga Puluh Sembilan (Anjay)


__ADS_3

Sesampainya di tujuan, mereka kembali berdoa mengucap syukur.


"Kayak ada yang aneh." Kata Arya degan memegang dagunya.


"Ia. Kayak...." Kata Andre dengan memutar otaknya.


Yang lain menatap Arya dan Andre dengan bingung.


"KITA KAN MAU NGINAP!" Teriak Arya dan Andre saat mengingat sesuatu yang di lupakan.


Geng Clouts menepuk jidatnya, begituan dengan inti. Kecuali Abi dan Lukas, mereka hanya menganggukkan kepala saja.


Eli dan dua abangnya saling pandang, kemudian menaikan bahunya dengan acuh.


"Minta anak-anak yang di Bandung untuk bawa baju kita." Kata Lukas pada Arnol.


"Oke." Sahut Arnol dan mengotak-atik hp nya.


"Yang lain, ambil sembako di mobil." Perintah Abi, dan di laksanakan oleh beberapa anggotanya.


"Lainnya, ambil sembako yang sudah di turunkan dari mobil, lalu bawa ke kantor desa." Titah Lukas, dan di lakukan mereka semua, tanpa terkecuali.


Geng Clouts berjalan dengan memegang sembako di tangan mereka masing-masing. Banyak candaan yang di keluarkan oleh mereka, membuat setiap langkah begitu rame.


"Selamat malam pak." Sapa Zidan saat melihat bapak-bapak yang sedang berjaga di pos.


Soal motor, mereka titip di kios besar yang berada di depan gang masuknya desa Dirgayu. Karena saat memasuki desa tersebut, harus melalui gang yang kecil, bahkan motor pun tidak bisa di bawa ke dalam.


"Eh malam. Kalian warga baru" Tanya salah satu bapak yang berada di pos itu.


"Tidak pak, kami di sini hanya berkunjung. Mungkin besok pagi, baru kami memperkenalkan diri di balai desa." Jawab Abi dengan ramah.


"Oh, baiklah, apa kalian sudah mempunyai rumah di desa ini?" Tanya bapak satunya lagi, karena setahunya, tidak ada pembangunan rumah baru.


Geng Clouts saling tatap, kemudian Lukas mengangkat suaranya, "Kami akan tidur di balai desa pak."


Bapak tersebut mengangguk, lalu menatap Eli yang hanya perempuan sendiri. Eli yang sadar akan tatapan itu, "Saya adik mereka." Tunjuk Eli pada bang Uzi dan Davin yang berdiri tepat di sampingnya.


Bapak tersebut mengangguk. "Jaga adik kalian." Kata bapak itu.


"Apakah kalian mau di antar?" Tawar bapak yang bertanya awal tadi.


"Em, gak usah pak. Kami sudah tahu." Jawab Arya yang tidak mau membebani.


Geng Clouts menatap Arya dengan bingung, lalu di jawab dengan anggukan kepala saja oleh orangnya, seolah menyakinkan.


"Kok gue gak yakin?" Batin Andre.


"Baiklah." Jawab bapak itu.


"Ini pak, ada makanan dan minuman. Bisa buat berjaga-jaga saat lapar ataupun haus." Kata bang Uzi degan memberi bungkusan makanan, snake, dan air.


"Ia, terimakasih nak." Jawab bapak itu.


"Sama-sama. Kami permisi dulu." Ucap Uzi, dan meminta Arya berjalan di depan untuk memimpin. Lalu mereka berjalan saat mendapatkan jawaban dari bapak-bapak penjaga pos itu.


Geng Clouts, Eli, bang Uzi, dan Davin, berjalan mengikuti langkah Arya yang terlihat sangat percaya diri.


"Lo yakin?" Tanya Andre pada Arya yang berada paling depan.


"Yakin lah." Jawab Arya.


Suara-suara binatang malam terdengar begitu jelas, membuat nyali mereka menciut, kecuali Eli dan Abi tentunya.


"Kok, hawanya kayak lain begini?" Tanya Arya dengan mengusap belakang lehernya.


"Lah, lo nanya siapa?" Tanya Andre dengan memegang erat barang yang di pegangannya.


"Lo pada lah." Jawab Arya dengan menatap semua yang mengikuti langkahnya, termasuk....


"ANJAY! APAAN TUH?!" Teriak Arya lalu berlari meninggalkan semua teman-temannya.


"Apa dah?" Tanya Zidan yang mulai merasakan hawa-hawa tidak enaknya.

__ADS_1


"EH!" Kaget Andre saat menatap Zidan.


"Kenapa lo?" Tanya Zidan dengan bingung.


"Gu-gue cabut, ikut Arya duluan." Kata Andre, dan berlari mengejar Arya.


"Ngapain kita lihat mereka lari?" Tanya Bayu.


"AYO LARI!" Teriak Arnol.


Anggota Clouts lari mengejar pimpinan jalan mereka, yaitu Arya. Sedangkan Eli, bang Uzi, Davin, para inti, kecuali Arya dan Andre, masih diam di tempatnya.


"Lo pada, ngerasa gak?" Tanya Zidan.


"Hem." Dehem Eli dan Abi.


"Yah." Jawab bang Uzi, Davin, dan Lukas.


"Gue rasa, ada yang ikutin." Kata bang Uzi, lalu mengedarkan pandangannya ke berbagai arah.


"Gue juga." Jawab Lukas, dengan menatap tajam jalan-jalan yang gelap itu.


"Apa jangan-jangan...." Ucap Zidan yang menggantung. Kepalanya tidak sengaja menatap bulan yang cukup cerah malam ini, tetapi.


"ANJAY! CABUT YOK!" Teriak Zidan, lalu berlari mengejar para teman-temannya.


Eli, Abi, bang Uzi, Davin, dan Lukas mendongakkan kepala mereka mencari sesuatu apa yang di lihat Zidan tadi.


"ANJAY! GUE CABUT!" Teriak bang Davin, lalu berlari mengejar Zidan yang masi belum jauh dari nya.


Eli, Abi, bang Uzi, dan Lukas, menghadap belakang mereka, mencari tahu apa yang di lihat oleh Davin tadi.


Eli menatap Abi dengan pandangan seriusnya, kemudian mereka berdua mengangguk.


"Ayo." Ajak Lukas, dan berjalan terlebih dahulu.


Mereka berempat jalan dengan santai, Eli mendengarkan musik, Abi bermain hp, bang Uzi dan Lukas, memakan apel dengan memegang senter.


"ANJAY!" Kaget bang Uzi dan Lukas, kemudian berlari meninggalkan Eli dan Abi yang masih berjalan dengan santai.


Eli mengangguk saja sebagai pembenaran dari perkataan Abi. Eli menyalakan senter pada hp nya, lalu mematikan musik yang di dengarnya tadi.


Ting.


Eli membuka pesan yang baru saja di kirim untuknya. Eli mengerutkan keningnya, saat mendapatkan pesan dari nomor yang tidak di kenalnya.


6282298++++++


Halo sayang, besok ketemuan yuk.


Eli semakin mengerutkan keningnya, saat membaca pesan tersebut.


"Siapa?" Tanya Abi dengan menatap Eli.


"Ini." Eli memberikan hp nya pada Abi, dan di bacanya.


"Siapa?" Tanya Abi dengan mengembalikan hp Eli.


"Gak tahu." Jawab Eli.


"Gak usah balas." Suruh Abi, kemudian menggandeng tangan Eli.


Mereka berdua kembali berjalan, dan tidak terasa, sudah tiba di mana teman-temannya yang lagi duduk di jalanan.


"Lama bangat jalan lo." Kata Arya dengan nyolot.


"Kenapa?" Tanya Abi.


"Lo gak lihat?" Tanya Andre dengan mata yang kelihatan membesar.


"Mata lo nanti keluar...." Kata Arya kemudian terkekeh.


"Jaga-jaga, kalau dia ada gue kabur duluan." Jawab Andra.

__ADS_1


"Dia siapa?" Tanya Abi dan Eli bersama.


"Masa kalian berdua gak lihat?" Tanya inti Clouts, bang Uzi dan Davin bersama.


Eli dan Abi saling pandang, kemudian kembali menatap mereka semua dengan menggelengkan kepala.


"Gak." Jawab Eli dan Abi kompak.


"Lihat apa?" Tanya Bayu.


"Dari tadi kita tanya bilangnya nanti." Tambah Arnol.


"Tadi, gue lihat sosok berwarna putih." Kata Arya dengan pelan, takut sosok itu kembali, dan memakannya.


"Gue juga, di belakang Zidan." Tambah Andre, karena inti Clouts, Eli, bang Uzi, dan Devin berjalan di barisan paling belakang.


"Yang bener lo!" Sahut Zidan.


"Benar Zi!" Jawab Andre dengan mengangkat tangannya, seperti orang yang mau menyerahkan diri pada polisi.


"Gue juga lihat, tapi di atas pohon." Kata Zidan dengan pelan.


"Tapi kita lihat gak ada." Kata bang Uzi.


"Ada." Jawab Zidan dengan yakin.


"Tapi gue lihatnya di belakang Lukas." Tambah bang Devin.


"Jangan sembarang." Kata Lukas dengan datar.


"Suer." Sahut bang Davin.


"Gue sama Uzi lihat di balik pohon pas jalan di depan." Kata Lukas, dengan terpaksa mengeluarkan banyak kata.


"Bener tuh." Sahut bang Uzi.


Inti Clouts menatap Eli dan Abi yang terlihat bingung.


"Lo berdua gak lihat?" Tanya Zidan.


"Gak." Jawab Eli dan Abi kompak.


"Tapi kok kita gak lihat." Kata Arnol.


"Ia. Kita gak lihat kan guys?" Tanya Bayu pada teman-temannya yang lain.


"Ia!" Serempak anggota Clouts.


"Terus kenapa klian lari?" Tanya Arya dengan bingung.


"Kan lo yang pimpin jalan bang!" Sambar Arnol dan Bayu bersama.


Hening, mereka memikirkan sesuatu yang baru saja terjadi.


"Gue yakin, hantunya gak hanya satu." Kata Andre tiba-tiba.


"Hantu?" Beo Eli dan Abi.


"Yah, gak mungkin cuma satu." Kata Arya yang membenarkan.


Hening, mereka kembali berkutat degan pikiran masing-masing.


"Eh!" Kaget Arya, Andre dan Zidan bersama.


"Napa?" Tanya bang Uzi.


"Cabut!" Suruh Lukas dan berjalan terlebih dahulu.


Semuanya saling berpandangan, dan mengedarkan penglihatan di mana-mana, takut jika nanti hantu muncul dengan kepalanya saja.


"ANJAY!" Teriak mereka semua saat menyadari, jika di samping jalan tempat duduk-duduk itu, adalah kuburan.


Mereka semua berlari seperti orang yang sedang berlomba maraton.

__ADS_1


"EH!" Kaget mereka bersama lagi, saat di depan jalan mereka....


Bersambung....


__ADS_2