Elena'S Transmigration Story

Elena'S Transmigration Story
Tiga Puluh Delapan (Clouts)


__ADS_3

Tok.... Tok.... Tok....


"Ia bi?" Tanya Eli saat melihat bi Surti di depan kamarnya.


"Itu, pacar Eli ada di luar, sama teman-temanya." Kata bi Surti.


"Oke bi, nanti Eli turun." Jawab Eli.


"Ia. Bibi turun dulu." Pamit bi Surti, dan berjalan menjauhi kamar Eli.


Eli masuk ke dalam kamarnya, kemudian mengambil jaket berwarna biru laut.


"Gue cantik juga." Lirih Eli dengan menatap dirinya di cermin.


Eli mengambil hpnya di atas meja, lalu keluar dari kamar.


Saat taba di lantai dasar, Eli dapat melihat meja makan yang di penuhi oleh keluarga besarnya. Termasuk calon suami beserta keluarganya.


"Eli, sarapan dulu. Kemarin kamu melewatkan makan malam bersama dengan kami." Tutur papah Abson.


Eli diam di tempatnya, lalu mengangguk, kemudian berjalan mendekati meja makan.


"Bi." Panggil Eli saat melihat bi Surti yang akan ke taman belakang rumah.


Bi Surti melangkahkan kakinya untuk mendekati Eli, "Ia? Ada yang bisa bibi bantu?" Tanya Bi Surti.


"Suruh inti Clouts masuk. Dan anggotanya ke warjok untuk sarapan." Kata Eli, lalu duduk di kursinya.


"Baik." Jawab bi Surti dan melangkah keluar rumah.


"Kenapa kamu suruh mereka makan bersama?" Tanya papa Abson.


"Mungkin kakak ingin mengenalkan calon suaminya. Ia gak calon kakak ipar?" Tanya Monika dengan senyum manisnya, dan di balas anggukan kepala yang kaku.


"Jijay." Batin Eli.


"Oh, bagus itu." Jawab papah Abson.


Eli hanya diam sambil memakan buah apelnya, memperhatikan Monik yang sedang tersenyum pada calon suami.


"Selamat pagi." Sapa Arya dan Cakra bersama.


"Pagi." Jawab seluruhnya yang ada di meja makan, kecuali bang Uzi, Devin, dan Eli.


"Loh, kamu juga di sini?" Tanya Monik pada Leo yang baru saja datang bersama dengan inti Clouts.


"Dia mau lihat, ceweknya dekat sama calon suami ku, atau tidak." Kata Eli dengan memutar-putar kan apelnya.


"Jaga bicara kamu. Calon tunangan saya, tidak seperti itu." Tekan Leo.


Eli berdiri, "Oh, calon tunangan?" Taya Eli degan senyum sinis nya. Mata indah miliknya menatap Abi dengan tatapan yang tidak bisa di artikan.


"Baru calon, bagaimana kalau dia kecantol orang lain?" Tanya Eli, lalu menatap Leo dengan tatapan tajamnya.


"Sudah-sudah. Duduk sarapan." Kata bang Uzi.


Inti Clouts dan para sahabat abang twins, makan bersama, dengan keadaan yang hening.


"Kalian mau kemana?" Tanya bagian Uzi, Selesai makan, kini mereka semua berada di ruang keluarga, kecuali orang tua dan abang, mereka tidak mau mengganggu urusan para anak muda. Bang Uzi, Davin, dan Devin sajalah yang ikut nimbrung di ruang keluarga.


"Tugas Clouts tiap tiga bulan sekali." Jawab Abi.

__ADS_1


"Gue ikut." Kata bang Uzi dan Davin. kompak. Kemudian mereka berdua saling pandang dengan ekspresi yang tidak bisa di artikan.


"Ngapain?" Tanya Eli dengan bingung.


Bang Uzi dan Devin saling pandang lagi, "Ikut saja." Jawab keduanya.


"EHEM! Dehem Andre dan Arya kompak.


"Maaf nih para abang-abang, ini itu khusus anggota Clouts." Kata Arya dengan pelan, takut menyinggung perasaan abangnya ibu bos.


"Eli anggota Clouts?" Tanya bang Uzi dengan menaikan satu alisnya.


Andre menegakkan tubuhnya, "Ia. Karena dia pacar pak bos." Jawab Andre.


"Kitakan abangnya, jadi jelas anggota juga." Jawab bang Davin dengan smirknya.


"Gila lo?" Tanya Leo.


"Lo itu wakil Ambara. Mau berkhianat lo?" Tanya bang Devin yang sedikit emosi mendengar perkataan abang kembarnya itu.


Ambara, geng motor terbesar di Jakarta dari dua tahun yang lalu. Ketua Ambara adalah Leo, wakil bang Davin, dan anggota inti Devin, Panji, dan Cakra.


"Gue gak berkhianat." Tekan bang Davin. "Gue, cuma mau jaga adik perempuan, salah?" Lanjut bang Davin dengan pertanyaan di akhir kalimat.


Hening.


Inti Clouts menatap Abi yang sedari tadi dia, mending bosnya saja yang memberikan keputusan.


Abi yang merasa di perhatikan langsung mengangkat suara. "Silahkan." Ucap Abi.


"Maaf, saya boleh ikut juga. Eli calon istri saya." Kata Ando, calon suami Eli. Ando Putra Griland, anak pertama di keluarganya, dan hanya memiliki satu adik perempuan.


"Tidak!" Jawab inti Clouts dengan kompak, kecuali Abi.


"Kenapa?" Tanya bang Uzi, Davin, dan Ando dengan kompak.


"Ada pacar bu bos kok, malah calon suaminya juga ikut." Kata Arya yang tidak di filter.


"Kalau kayak gitu, kesannya kak Eli selingkuh dong." Kata Monik.


"Ia, kesannya Eli selingkuh." Kata Cakra.


"Ssssst. Ini biar urusan calon kaka ipar, pacarnya, dan abang ku." Kata Sila, adik perempuan Ando. Kersila Putri Griland, anak perempuan di keluarga Griland.


"Tidak perlu ikut campur." Lanjut Sila.


"Setuju." Sahut Panji.


"Eh, kita ke rumah lo, mau latihan basket Dav." Kata Cakra pada bang Davin.


"Gue Davin." Datar bang Davin.


"Ya elah Dav, gue gak akan panggil lo Dave kok. Dan anggap saja itu nama tersayang gue buat lo." Kata Cakra.


"Gue mau jaga adik perempuan." Kata bang Davin dengan penekanan.


"Kan lo bisa jaga Monik. Dia juga kan adik perempuan lo Dav." Kata Cakra dengan bingung.


"CK! Itu adik Devin." Kata bang Davin, lalu berjalan ke arah kamar, di ikuti bang Uzi.


"Sial, bang Davin sudah mulai mendekati Eli, gue gak akan biarkan itu berlangsung lama." Batin Monik.

__ADS_1


Eli yang mendengar batin itu hanya bisa tersenyum sinis, tanpa sepengetahuan siapapun, "Gue gak sabar. Lihat tuannya masuk dalam perangkap sendiri." Batin Eli.


"Em, apa aku boleh ikut kalian juga?" Tanya Eli dengan menatap inti Clouts penuh harapan.


"Monik." Tegur bang Devin dan Leo kompak.


"Aku mau ikut." Kata Monik dengan kepala yang menunduk.


"Tapi gak sama mereka juga. Kalau kamu mau, kita ke Bandung sekarang, sama anak-anak yang lainya." Kata bang Devin.


"Ke Bandung sekarang?" Tanya Leo dengan mengelus puncak kepala Monik.


"Gak mau. Aku maunya ikut mereka." Kata Monik dengan mata yang sudah berkaca-kaca.


"Sayang, meeka anggota Clouts. Dan Ambara tidak pernah bekerjasama dengan mereka." Kata Leo yang berusaha menyakinkan Monik.


"Ta-"


"Lo gak boleh ikut." Kata Arya.


"Lo orang asing." Tambah Andre.


"Dan pengganggu ibu bos." Kata Andre dan Arya dengan kompak.


"Jaga ucapan kalian." Tekan bang Devin.


Sila dan Ando saling pandang, lalu berjalan kearah kamar mereka, tidak ada gunanya berada di ruang keluarga untuk melihat perdebatan.


"Emang benarkan?" Tanya Arya.


"Monik suka cari masalah dengan Eli kan?"Tambah Andre.


"Jangan sampai pulangnya cacat." Peringat Zidan.


"Atau tinggal nama." Tambah Lukas.


"Ataupun debu." Datar Abi.


Semua menatap Abi dengan ngeri, inti Clouts sangat mengenali bosnya itu. Apapun yang di katakan oleh Abi, tidak pernah ada kata permainan semata. Bahkan Eli saja langsung menunduk saat melihat mata tajam Abi.


"Ayo!" Ajak bang Uzi dan Davin kompak, saat menuruni tangga dengan jaket yang melekat pada tubuh masing-masing.


Abi menggandeng tangan Eli dengan lembut, lalu berjalan dengan beriringan keluar dari rumah Prayaga.


Sampai di halaman rumah, mereka berkumpul untuk doa sebelum melangkahkan kakinya menuju tujuan.


"Sama Abi?" Tanya Lukas pada Eli.


"Tidak." Jawab Eli.


"Lalu?" Tanya Zidan.


"Sama bang Uzi." Jawab Eli lalu menghampiri bang Uzi.


Bang Uzi memakaikan helm pada Eli dan di terima dengan senyum manisnya.


"Naik." Suruh bang Uzi, dan Eli langsung menaiki motor ninja berwarna hijau itu.


Abi menatap Eli dengan sedih, lalu menyalakan mesin motornya, kemudian memimpin jalan di depan. Tepat perempatan, anggota Clouts yang lain menunggu di gang. Dan jalan terbuka lebar untuk geng Clouts, yang di kenal dengan nama baik.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2