
Selesai makan, keluarga Prayaga kembali ke ruang tamu bersama dengan Abi. Banyak canda tawa yang terlempar di ruang keluarga dengan hangat. Apa lagi ada Monika bukan?
"Orang tau kamu juga ikut pindah ke gang sebelah?" Tanya grandma Esti pada Abi.
"Tidak. Mereka masih berada di London." Jawab Abi dengan senyum tipisnya.
"Kalau gitu, sering main disini saja. Biar gak kesepian di rumah." Usul grandpa Arga.
"Saya tinggal di apartment selama bunda dan ayah di London." Jawab Abi.
"Apartment mu di mana?" Tanya mamah Fana.
"Dekat sekolah kok mah." Jawab Abi.
"Oh, kamu kalau kesepian main aja ke sini yah." Kata bibi Siska dengan senyum manisnya.
"Siap." Jawab Abi.
"Kak Abi sama kak Eli pacaran udah berapa tahun?" Tanya Monika tiba-tiba.
Perasaan pertanyaan yang gue dapat, kebanyakan itu. Pikir Eli bingung.
"Empat tahun." Jawab Abi datar.
"Oh. Lama juga yah." Kata Monika.
"Kamu sama Leo berapa lama?" Tanya grandma Esti.
"Baru lima bulan." Jawab Monika.
Hening. Hingga, "permisi. Itu di depan ada teman-temanya Eli sama aden twins." Kata bi Surti.
"Makasih bi." Jawab Eli dan berdiri dari duduknya dan berjalan keluar ruang keluarga.
"Em, saya juga sekalian pamit. Soalnya sudah malam." Kata Abi tiba-tiba. Membuat langkah Eli terhenti dan berbalik menatap Abi.
"Ia. Kapan-kapan main lagi ke sini yah." Kata grandma Esti.
"Siap grandma." Jawab Abi, dan mencium punggung tangan semua keluarga Prayaga, kecuali para abang Eli.
"Saya pamit abang, dan twins." Kata Abi dan berjalan keluar ruang keluarga bersama Eli.
"Kamu kok pulang cepat." Tanya Eli sambil jalan beriringan keluar dari mension Prayaga.
"Tadi pas antar kamu, aku bilang hanya sebentar." Jawab Abi dengan senyum manisnya.
"Kapan-kapan main lagi yah." Pinta Eli.
"Siap Queen." Jawab Abi.
"Eh." Kaget Eli, saat membuka pintu, dan mendengar teriakan maut.
"CAKRA!" Teriak Anggun.
"Aduh. Sakit telinga gue Nggun." Kesal Cakra.
"Yah lo nya ngapain dekat-dekat gue mulu?" Tanya Anggun kesal.
"Lah, ngerasa amat lo! Gue gak dekat-dekat lo yah." Kata Cakra.
"Heh Cacing! Lo ngapain nempel-nempel sama gue? Suka yah lo?" Tanya Panji pada Ferni.
"Sembarang!" Sinis Ferni.
"Lah terus?" Tanya Panji.
"Gak! I.. itu bu... bukan ap... apa-apa." Jawab Ferni gugup.
"Lo kenapa sih? Kok jadi gugup gitu?" Tanya Panji bingung.
"Gak... i... itu..." Gugup Ferni lagi.
"Apa?" Tanya Panji mendesak. Membuat semua memperhatikan Panji dan Ferni.
"Lo kenapa" Tanya Anggun pada Ferni.
"ADA CICAK!" Teriak Ferni yang sudah tidak tahan lagi, membuat Anggun ikut berteriak.
"Mana?" Heboh Anggun.
"INI!" Tunjuk Panji pada Cakra.
"ANJING!" Seru Panji.
"Ambil oy!" Teriak Ferni.
"Cak! Ambil! Lo kan sahabatnya!" Kata Panji sambil mendorong Cakra.
"Mana?" Tanya Cakra santai.
"Sudah pergi." Jawab Ferni malas.
"Terus kenapa teriak?" Tanya Anggun gemes.
"Lo pada berisik, buat gue gugup. Gue takut cicak ogeb!" Kesal Ferni.
"Kirain lo gugup karena dekat sama gue." Kata Panji sambil menaik turunkan alisnya.
"Gak." Jawab Ferni.
"Lo ngapain tunjuk gue cicak tadi?" Tanya Cakra pada Panji dengan tatapan tajamnya.
"Lah, salah kah?" Tanya Panji dalam mode lemot.
__ADS_1
"YAH JELAS PANJI!" Teriak Cakra. "Udah jelas gue ganteng. Masih di sebut kayak hewan." Lanjut Cakra dengan kesal.
"Dih. Ganteng apaan coba?" Cibir Anggun.
"Tuh mulutnya jangan cibir-cibir yah!" Peringat Cakra.
"Emangnya kenapa?" Tantang Anggun.
"Atau, gue cium lo!" Kata Cakra dengan smirknya.
"Anjay!" Seru bang Devin dan Panji.
"EH!" Kaget mereka semua, kecuali bang Davin, Eli, dan Abi.
"Twins sejak kapan di sini?" Tanya Cakra heran.
"Ini juga, sejak kapan lo berdua ada di sini?" Tanya Anggun pada Eli dan Abi.
"Tadi." Jawab abang twins, Eli dan Abi bersama.
"Masuk." Suruh bang Davin.
Mereka masuk dengan berdesakan. Tidak sengaja, Cakra mendorong Panji, kemudian cium pipi Ferni yang mulus. Dengan refleks pula, Ferni membogem pipi Panji.
BUGH.
"Kenapa?" Tanya Cakra pada Panji.
"Lo kenapa Er?" Tanya Anggun pada Ferni.
"Dia cium gue." Kata Ferni dengan tatapan yang tajam.
"Sorry, gue gak sengaja. Si Cakra dorong gue tadi." Jelas Panji sambil mengusap-usap pipinya yang di bogem sama Ferni tadi.
"Lah. Gue gak sengaja." Kata Cakra cepat.
"Seneng banget buat emosi lo." Kata Anggun malas.
"Ya udah, sorry." Kata Cakra pada Panji.
"Sorry Ferni. Gue gak sengaja." Kata Panji pada Ferni.
"Masuk." Kata Eli tiba-tiba, membuat Ferni dan Anggun masuk.
"Lo pada juga." Kata bang Devin pada sahabatnya. Kemudian di susul oleh abang twins.
Ting.
Suara notifikasi dari hp Abi berbunyi, membuat Eli kepo. Abi segera membuka hp, dan melihat pesan dari para sahabatnya.
Five Handsome Boys.
@Andre_Ndre
@Arya_Ar
Ikut gak bos?
@Andre_Ndre
Ikutlah bos.
@Arya_Ar
Ayo bos.
@Lukas_Bram
Yok!
@Zidan_Zi
Ayo!
@Andre_Ndre
Bos!
^^^@Abdiel_El^^^
^^^Otw.^^^
@Arya_Ar
Di tunggu!
...Read...
"Siapa sih?" Tanya Eli penasaran.
"Grup ku dan empat sahabat gila." Jawab Abi.
"Gitu-gitu juga sahabat loh." Kata Eli.
"Yah." Jawab Abi.
"Emang kenapa?" Tanya Eli.
"Mau ke markas." Jawab Abi.
"Ngapain?" Tanya Eli bingung. Ada masalah kah? Pikir Eli.
"Anak-anak Clouts, minta BBQ." Jawab Abi.
__ADS_1
"Gue rasa, Arya sama Andre yang minta." Tebak Eli.
"Sepertinya." Jawab Abi.
"Aku mau ikut." Kata Eli dengan manja.
"Sahabat kamu?" Tanya Abi.
"Kapan-kapan deh." Jawab Eli dengan lesu.
"Ya udah. Aku pamit yah." Pamit Abi, kemudian cium puncak kepala Eli dengan sayang.
"Hati-hati. Kalau udah nyampe kabarin." Peringat Eli.
"Siap ibu negara." Jawab Abi dengan tangan yang mencubit pipi chubby milik Eli.
"Sakit tahu." Kesal Eli.
"Maaf." Jawab Abi sambil mengelus pipi Eli.
"Aduh jantung! Lo kenapa lari-lari di dalam?" Batin Eli dengan kesal.
"Ini lagi, kenapa muka gue jadi panas?" Batin Eli lagi dengan kesal.
"Kenapa pipi kamu merah El?" Tanya Abi dengan pura-pura tidak tahu.
"Gak tahu." Jawab Eli, sambil memalingkan wajahnya kesamping.
"Kamu lihat apa hem?" Tanya Abi sambil mengarahkan wajah Eli, agar melihat Abi.
"Aku baper Abi!" Kesal Eli, dan langsung menenggelamkan kepalanya di dada bidang milik Abi.
Tawa Abi seketika pecah, membuat Eli semakin mempererat pelukannya.
"Abi... " Rengek Eli.
"Ia sayang?" Tanya Abi.
"Is." Kesal Eli sambil melepaskan pelukannya dari Abi. Namun sayang, Abi malah kembali menarik tubuh Eli, dan memeluknya dengan erat.
"Maaf." Kata Abi, kemudian melepas pelukannya.
"Ya udah sana." Usir Eli.
"Ngusir?" Tanya Abi.
"Ia." Jawab Eli. Sungguh, jantungnya sangat tidak aman jika terus dekat Abi saat ini.
"Ya udah. Aku pergi dulu. Dah. " Pamit Abi, dan berjalan menuju mobilnya, kemudian berlalu dari hadapan Eli.
Eli masuk ke dalam rumah, kemudian menutup pintu. Saat tiba di ruang keluarga, hanya ada abang twins, sahabatnya, Anggun, Ferni, dan Monika. Sedangkan yang lain, mungkin sudah kembali ke kamar masing-masing.
"Eli." Panggil Anggun, membuat mereka semua melihat Eli.
Eli jalan dengan santai menuju Anggun dan Ferni, yang sedang bergosip ria.
"Ayo ke kamar lo! Gue mau tanya banyak hal." Kata Anggun.
"Ayo." Ajak Eli, dan berjalan beriringan dengan sahabatnya.
"Kak Eli." Panggil Monika.
Langkah Eli dan sahabatnya berhenti, kemudian berbalik untuk melihat Monika. Sedangkan abang twins dan sahabatnya ikut memperhatikan Monika.
"Apa?" Tanya Eli dengan datar.
"Ada tugas yang harus aku lalukan kak?" Mungkin ada PR Bahasa Inggris." Tanya Monika.
"Dek. Lo kok mau kerja tugas Eli? Dia kan punya tangan, pasti bisa nulis!" Kata bang Devin.
"Lo gak usah cari gara-gara yah!" Emosi Anggun.
"Aku cuma tanya. Kan biasanya kak Eli minta bantuan kerja tugas." Kata Monika sambil menunduk.
"Lo gak usah emosian juga dong Nggun." Kata Cakra yang juga ikut tersulit emosinya.
"Lo kok jadi emosi ke gue?" Tanya Anggun yang berusaha menenangkan emosinya.
"Dia udah gue anggap kayak adik sendiri!" Bentak Cakra tampa sadar.
"Lo kok malah bentak?" Tanya Anggun tanpa ekspresi, membuat Cakra tidak bisa menjawab.
"Bodoh lo Cakra! Ngapain pakai bentak segala?" Batin Cakra dengan sesal.
"Bodoh!" Batin Eli, entah pada siapa.
"Lo lupa, Eli pernah ke London?" Tanya Ferni tiba-tiba pada Monika. Membuat mereka semua diam, dan mencerna perkataan Ferni.
"Bukankah dia juga yang gantikan Bela lomba Matematika?" Tanya Ferni lagi, saat tidak mendapat jawaban dari Monika.
"Jadi, dia pasti bisa kerja tugasnya sendiri. Lo gak perlu cari muka!" Tajam Ferni.
"Ayo!" Ajak Anggun pada Ferni.
"Tunggu." Cegah Eli.
"Kenapa?" Tanya Anggun.
"Gue ada tugas buat lo." Kata Eli pada Monika.
"Lo apa-apaan sih? Lo kan pintar! Bisa kerja tugas sendiri." Kata bang Devin sinis.
"Udah bang. Gak papa." Kata Monika pada bang Devin. "Apa kak?" Tanya Monika pada Eli.
__ADS_1
"Jauhi gue." Datar Eli dan berlalu dari sana, membuat mereka semua saling memandang. Sedangkan Anggun dan Ferni segara mengikuti langkah Eli, menuju kamarnya.