
...Maaf yah, karena aku tidak up kemarin. Kemarin saya tidak enak badan, sekarang pun juga gitu....
...Namun sekarang, saya usahakan up untuk kalian, terimakasih yang sudah mendukung karya ini....
HAPPY READING.....
.......
.......
.......
"Eh, Lukas." Ucap Riyan saat melihat Lukas memasuki ruangan VIP di AR Hospital.
Lukas mengangguk dengan langkah yang terus berjalan mendekati brangkar rumah sakit.
"Bagaimana kabar mu?" Tanya Lukas pada seorang gadis yang sedang menatapnya.
Gadis itu menerbitkan senyum nya, "Baik." Jawab gadis itu.
Lukas mengangguk, kemudian menatap Riyan yang sedang berjalan ke arah meja dan mengambil buah-buahan, "Lo sudah lihat yang lain?" Tanya Lukas pada Riyan.
"Sudah." Jawab Riyan dengan singkat, kemudian kembali berjalanan mendekati brangkar rumah sakit, dan duduk di sampingnya.
"Apa kabar?" Tanya gadis itu pada Lukas.
Lukas menatap gadis itu dengan senyum tipisnya, "Baik." Jawab Lukas dan di jawab dengan anggukan kepala.
"Duduk bro!" Suruh Riyan, dengan tangan yang mengupas buah apel.
"Terimakasih, tapi gue mau langsung balik." Ucap Lukas dengan melihat jam di pergelangan tangannya.
"Buru-buru banget lo. Duduk dulu sambil cerita kenapa?" Tanya Riyan.
Lukas memutar bola matanya dengan malas, "Gue ada urusan." Jawab Lukas.
"Oh, ya udah." Jawab Riyan dengan memberikan sepotong buah apel yang sudah di kupas pada gadis tadi.
Lukas mengangguk, kemudian menatap gadis tadi, "Cepat sembuh." Ucap Lukas, kemudian menatap Riyan, "Jaga dia." Ucap Lukas pada Riyan.
Riyan dan gadis itu saling pandangan, kemudian menatap Lukas, "Ia." Jawab mereka berdua, dan di angguki oleh Lukas.
"Gue balik." Pamit Lukas dan keluar dari ruangan tersebut.
Saat Lukas sudah keluar dari ruangan itu, Riyan dapat melihat wajah gadis yang di cintai nya menatap kosong pada pintu ruangannya itu.
"Kamu suka dia?" Tanya Riyan dengan memberikan sepotong apel yang sudah di kupas pada gadis itu.
Gadis tadi menatap Riyan, kemudian mengambil potongan apel itu, "Tidak." Jawab gadis itu.
Riyan terkekeh, "Kita sudah dua tahun bersama, dan aku sangat mengenalmu, Jihan Arsya." Ucap Riyan.
Yah, gadis itu adalah Jihan Arsya, perempuan yang pernah mengambil hati Lukas. Dan dia juga adalah cinta pertama Lukas. Dia juga merupakan gadis yang di sandra oleh Anes dan Hanes di dalam hutan saat itu.
Ternyata, bukan hanya Lukas yang mencintai Jihan, tetapi Riyan juga menaruh hati pada gadis itu. Namun sayang ternyata yang di pilih oleh Jihan adalah Riyan, dari pada Lukas. Dan Lukas menerima keputusan Jihan yang lebih memilih Riyan dari pada dirinya. Dan Lukas juga, memberikan tanggung jawab untuk menjaga Jihan.
"Sepertinya kamu sudah mencintainya." Batin Riyan dengan sedih.
...----------------...
Pagi ini, Monik dan Leo sedang berada dalam perjalanan kepuncak, menggunakan mobil.
"Kamu kenapa?" Tanya Leo saat merasakan Monik sedikit berbeda, apa lagi dari tadi hanya diam saja sepanjang perjalanan
Monik menatap Leo yang sedang fokus menyetir, kemudian menggelengkan kepalanya dengan pelan, "Gak papa." Jawab Monik, dan mengalihkan kembali tatapannya dari Leo.
"Kamu sakit?" Tanya Leo dengan sedikit menatap Monik, kemudian kembali fokus pada jalanan di hadapannya.
__ADS_1
"Tidak." Jawab Monik dengan pandangan yang mengarah pada pemandangan lewat jendela.
Leo hanya mengangguk, "Kalau begitu istirahat." Suruh Leo.
Monik mengangguk, "Hem, aku istirahat dulu." Ucap Monik, dan menurun kan jok mobil yang di duduki nya.
Ting.
Bunyi pesan dari ponsel Monik berdering. Monik yang sebelum nya akan masuki alam bawah sadar, menjadi kembali ke dunia nyatanya.
Dimas
Yang kamu kirim itu benar?
Monik membaca pesan itu dengan sedikit senyum di suruh bibirnya.
"Pesan dari siapa?" Tanya Leo saat tidak sengaja melihat senyum Monik.
Monik menatap Leo, "Bela." Jawab Monik, kemudian kembali menatap layar ponselnya.
"Chat apa?" Tanya Leo lagi.
Monik menghentikan ketikannya di atas keyboard ponsel, kemudian menatap Leo, "Traktir dia besok karena ulang tahun." Jawab Monik.
"Bela ulang tahun?" Tanya Leo dengan menaikan satu alisnya.
"Ia." Jawab Monik dengan gembira dan Leo hanya mengangguk saja sebagai jawaban.
Apa yang di katakan oleh Monik itu benar, jika Bela ulang tahun di esok hari. Namun, dia berkata bohong saat menjawab pesan itu dari siapa.
Dimas.
^^^Ia, lusa aku bahas lebih detail. Dah yah, aku capek, mau istirahat.^^^
Selesai membalas pesan dari Dimas, Monik meletakan ponselnya di dalam tas kecil, kemudian tidur.
...----------------...
Eli mengalihkan pandangannya dari layar ponsel, dan melihat bang Uzi yang berjalan ke arah nya, "Ada apa?" Tanya Eli dengan meletakan ponselnya di samping Ia duduk.
Bang Uzi duduk di samping Eli dengan kaki yang di masukan ke dalam kolam, "Mau ke mal?" Tanya bang Uzi.
Eli berpikir sebentar, dan kemudian mengangguk sebagai jawaban.
"Ya udah, siap-siap saat, abang tunggu di mobil." Ucap bang Uzi dengan mengacak rambut tebal milik Eli.
Eli mengangguk, kemudian berlari ke arah kamarnya.
"Sedikit lagi, kamu akan menjadi adik yang abang rindukan selama ini, Eli." Ucap bang Uzi degan senyum manisnya, kemudian berjalan ke luar rumah.
Ting.
Ponsel bang Uzi berbunyi, saat mendapatkan pesan dari Panji.
Panji
Jadi bertemu gak bang?
^^^Jadi. Jam lima, selesai gue habiskan waktu sama Eli.^^^
Selesai membalas pesan dari Panji, bang Uzi memasuki mobilnya, dan membawa keluar dari garasi.
Delapan menit berlalu, dan Eli sudah memasuki mobil milik bang Uzi dari dua detik yang lalu.
"Ayo bang!" Ucap Eli dengan semangat.
"Ayo!" Jawab bang Uzi juga dengan penuh semangat, kemudian membawa mobilnya keluar dari pekarangan Prayaga.
__ADS_1
...----------------...
"Katanya jadi." Ucap Panji, kemudian mengambil PS di lemari kacanya.
"Jam?" Tanya Cakra dengan memainkan game di ponselnya.
"Lima, selesai habiskan waktu bersama Eli." Jawab Panji.
Bang Davin yang sedang meminum Coca-Cola langsung menatap Panji dengan serius, "Bang Uzi habiskan waktu bersama Eli?" Tanya bang Davin, takut terdapat kesalahan dalam pendengarannya.
Panji menatap bang Uzi, "Ia." Jawabnya.
"Ke mana?" Tanya bang Davin.
"Gak tahu." Jawab Panji.
Bang Davin meletakan Coca-Cola nya di atas meja, kemudian berjalan ke luar dari kamar bernuansa biru muda milik Panji.
"MAU KEMANA LO?" Tanya Panji dan Cakra bersama dengan teriakan.
"HABISKAN WAKTU BERTIGA!" Jawab bang Davin dengan teriakan juga.
Tadi, bang Davin, Panji, dan Cakra, sedang menghabiskan waktu sambil membicarakan sesuatu.
"CK! Tuh anak main pergi aja." Decak Cakra dengan meletakan ponselnya dengan kesal.
"Kalau lo?" Tanya Panji dengan pandangan yang fokus pada layar tv di hadapannya.
"Biasa lah." Jawab Cakra.
"Eh, lo gak ke puncak?" Tanya Panji pada Cakra. "Leo ajak kita loh." Lanjutnya.
"Gak ah. Gue mau selesai kan masalah ini dulu. Lagian, bang Uzi, Davin, Eli, tidak pergi." Jawab Cakra, kemudian mengambil ponselnya, lalu membuka aplikasi Instagram.
"Rita? Kangen juga gue sama lo." Ucap Cakra dengan pelan, saat melihat postingan Rita yang baru saja di upload.
"Panji! Gue pergi dulu. Bay!" Pamit Cakra, dan keluar dari kamar Panji dengan sedikit berlari.
...----------------...
"Ia pak, waktu itu gadis yang di tolong tanya seperti itu." Jawab orang itu dengan menundukkan kepalanya sopan.
"Oke, silahkan kembali bekerja." Jawab bapak itu.
Bapak itu mengambil ponselnya di saku celana, kemudian mencari kontak seseorang.
Tut.... Tut.... Tut....
"Halo pak."
^^^"Tolong cari tahu tentang orang ini. Saya akan kirim lewat wa."^^^
Tut tut tut....
Bapak tadi memutuskan sambungan telponnya, kemudian berjalan ke arah ruang pribadi.
Tangan nya menari-nari di atas keyboard laptop nya, "Perempuan cantik, sepertinya aku jatuh cinta pada mu." Ucapnya dengan senyum manis yang di terbitkan, membuat lesung pipi di sebelah kiri terlihat jelas.
.......
.......
.......
.......
.......
__ADS_1
Bersambung....