
"Lah, kok aku disini?" Bingung Eli yang baru saja bangun dari tidurnya.
"Udah bangun?" Tanya Abi yang baru saja memasuki kamarnya.
"Ngapain di sini?" Tanya Eli dengan ketus.
Abi terkekeh mendengar suara ketus Eli, "Salah?" Tanya Abi, kemudian mendudukkan dirinya di samping Eli.
"Gak. Ini kamar kamu. Mungkin rumah kau juga." Kata Eli, lalu menurunkan kakinya dari atas kasur.
"Mau kemana?" Tanya Abi dengan memegang pergelangan tangan Eli.
"Pulang." Jawab Eli, lalu melepaskan tangan Abi dengan sedikit kasar.
Abi tersenyum kecut, melihat tingkah Eli yang seperti ini. "Kamu marah?" Tanya Abi.
Eli yang akan menarik gagang pintu pun terhenti. Tanpa membalikkan tubuhnya, "Ia." Jawab Eli, lalu keluar dari kamar Abi.
Abi melihat Eli yang sudah hilang di balik pintu, dia terkekeh kecil, mengingat kekasihnya yang sedang marah itu.
"Baru tahu aku di goda seperti ini. Gimana tahu yang paling aslinya?" Tanya Abi entah pada siapa.
Paling aslinya? Yah, soal Abi yang di goda pas lampu merah, itu benar. Jadi Arya saat menjelaskan pada Eli, tidak sepenuhnya berbohong.
...----------------...
"Halo Nona." Sapa seorang wanita yang memiliki umur dua puluh sembilan tahun.
Orang yang di sapa dengan sebutan Nona, hanya mengangguk dan terus berjalan ke arah ruangannya.
"Ke ruangan saya." Suruh Nona dengan ponsel di samping telinganya.
Tok.... Tok.... Tok....
"Masuk." Kata Nona.
"Permisi Nona." Ucap orang tersebut dengan sopan.
"Duduk." Suruh Nona itu.
Orang tersebut duduk di hadapan Nona dengan sopan.
"Cari tahu tentang dia." Suruh Nona, lalu memberikan satu lembar foto.
"Baik Nona. Kapan saya akan memberikan hasilnya?" Tanya orang tersebut, dengan tangan yang sudah memegang foto tadi.
"Gue mau urus yang lainnya satu minggu ini, alangkah baiknya membiarkan dia bermain. Kemudian akhir kan dengan mendadak, sepertinya sangat menarik." Batin Nona.
"Satu minggu." Jawab Nona.
Jawaban Nona tentu membuat orang tersebut bingung, "Bukankah itu paling lambat Nona?" Tanya orang itu.
"Ini perintah." Tekan Nona.
"Baik, saya akan lekukan. Saya permisi Nona." Kata orang tadi, dengan menundukkan kepalanya.
Selesai orang tadi keluar, Nona mulai mengotak-atik hp nya.
"Halo."
"Hem."
"Siapa?"
"Besok, datang kekantor pusat AR."
"Anda siapa?"
"Seorang penguasa."
"Ma-"
"Penerbangan Anda lima belas menit lagi."
__ADS_1
Tut... Tut.... Tut....
Telpon terputus secara pihak, dengan Nona yang mematikannya terlebih dahulu.
Nona kembali mengotak-atik hp nya, hingga.
"Halo Nona."
"Ke ruangan saya. Bawa berkas pengajuan kerja sama."
"Baik Nona."
Tut... Tut... Tut....
Panggilan kembali terputus, dengan Nona yang mengakhirinya. Nona mengotak-atik laptop, untuk mengontrol semua pekerjaannya dan para karyawan hari ini.
Tok.... Tok.... Tok....
"Masuk." Suruh Nona.
"Permisi." Kata seorang wanita yang baru saja masuk ke dalam ruangan Nona.
"Mana dokumen?" Tanya Nona dengan mata yang fokus pada laptop, dan tangan menari-nari diatasnya.
"Ini." Kata wanita tadi, lalu meletakkan dokumen yang cukup banyak di atas meja.
Nona itu menghentikan aktivitasnya, kemudian menatap wanita di depannya, yang berjabat sebagai sekretaris.
"Aku akan memindahkan mu." Kata Nona.
"Ke, ke mana?" Tanya sekertaris itu dengan gugup.
"London." Jawab Nona.
"Ta-"
"Aku tahu, kau menginginkan kakimu melangkah di sana." Kata Nona kemudian melipat kedua tangan lalu menyandarkan pada kursi kebesarannya itu.
Sekertaris itu diam, dengan kepala menunduk, "Ba-baik. Terimakasih Nona." Kata sekertaris itu.
"Hah?" Tanya sekertaris dengan bingung.
"Tiket di mejamu." Kata Nona lagi, kemudian menghadap ke arah jalanan di bawah. Melihatkan banyak kendaraan yang berlalu lalang.
"Ngapain masih di sini?" Tanya Nona dengan pandangan yang terus menghadap ke arah jalanan.
"I-ia Nona. Terimakasih, dan saya permisi." Kata sekertaris itu, kemudian keluar dari ruangan Nona nya.
Jujur saja, Nona tidak dekat dengan para sekertaris nya kecuali yang ada di London, karena itulah dia menukarnya.
...----------------...
"Kenapa baru pulang?" Tanya papah Abson, saat melihat Eli yang baru saja masuk rumah.
Eli melihat jam di pergelangan tangannya, kemudian menatap sang papah tersayang itu. "Aku sudah bilang dari awal." Kata Eli dengan tenang.
"Masuk. Calon mu sedang menunggu." Kata papah Abson, kemudian jalan menuju ruang keluarga.
"Apakah papah di ruang tamu sedari tadi untuk menungguku?" Batian Eli dengan bingung, kemudian melangkahkan kakinya menuju ruang keluarga.
"Baru pulang?" Tanya bang Devin dengan sinis.
Eli tidak menghiraukan perkataan bang Devin, saat ini matanya menatap lekat pada sosok lelaki yang ternyata calonnya.
"Eh, ini calon menantu? Cantik sekali kamu sayang." Kata sang mamah dari calon suami.
Eli hanya bisa mengangguk degan senyum kecilnya.
"Duduk sini Eli." Kata mamah Fana, kemudian di lakukan oleh Eli.
"Kamu baru pulang sekolah?" Tanya papah dari sang calon.
Eli menggelengkan kepalanya dengan pelan, "Tidak." Jawabnya.
__ADS_1
Papah tadi mengerutkan dahinya dengan bingung. "Lalu, kamu dari mana? Dengan menggunakan pakaian yang formal." Tanyanya lagi.
"Ada urusan pribadi." Jawab Eli dengan datar.
Hening.
"Hay calon kakak ipar." Sapa seorang gadis cantik, yang memiliki umur sama seperti Eli.
Eli menatap gadis itu degan pandangan datarnya, kini senyum tipis pun sudah hilang dari wajahnya.
"Saya permisi." Kata Eli, kemudian bangkit dari duduknya.
...----------------...
"Gila aja. Masa harus dia calonnya." Gerutu Eli yang berada di kamar mandi. Saat ini dia sedang menyikat giginya.
"His! Ogah lah." Kata Eli lagi dengan wajah masamnya.
"Terus kalau terjadi gimana?" Tanyanya lagi.
"Gak ada jalan. Salah satunya menyuruh Abi nikahin gue." Kata Eli dengan serius. "Yah, harus." Lanjutnya.
Saat ini, Eli sudah keluar dari kamar mandi, dengan menggunakan baju tidurnya.
"Halo sayang."
"Aku mau kamu nikahin aku."
Hening. Abi tidak menjawab permintaan Eli. Abi? Yah, Eli menelpon Abi, keputusannya sudah bulat.
"Kamu dengar."
"Ah, ia. Aku dengar kok sayang."
"Terus kau mau kan nikahin aku?"
"Kenapa mendadak gini bilangnya?"
"Yah karena situasinya mendadak."
"Situasi apa?"
"Aku mau di jodohkan, tetapi mau ku itu kamu."
Hening, tidak ada jawaban dari sebrang sana. Eli melangkahkan kakinya kearah balkon kamar.
"Kamu mau kan nikahi aku?" Tanya Eli dengan dengan suara lirihnya, tangan nya memegang pembatas balkon dengan erat.
"Sayang, aku mau, tapi tidak mendadak gini. Aku belum siap."
"Kenapa? Bukankah kamu yang selalu ajak nikah? Kenapa sekarang tiba-tiba kamu belum siap?"
"Aku, aku mau lanjutkan bisnisku."
"Bisnis apa? Belum cukup menjadi orang yang terkaya ke tiga di dunia?"
"Bukan gitu sayang. Intinya aku belum siap."
Hening.
"Kalau kamu tidak mau, bilang saja. Kenapa harus terbelit-belit? Membuat diri mu susah sendiri."
Tut... Tut.... Tut....
Panggilan terputus, dengan Eli yang mematikannya terlebih dahulu.
Eli diam di tempat, dengan memegang pembatas balkon erat-erat.
"Kenapa? Apa yang di sembunyikan dari ku?" Tanya Eli dengan lirih, tidak terasa air matanya sudah mengalir dengan deras.
"KENAPA ABI?!" Teriak Eli, kemudian menangis dengan pilu.
Eli tidak sadar, kalau ada yang memperhatikannya dari bawah. Orag itu pergi, menjauh dari pandangan Eli.
__ADS_1
"Lo, bodoh! Nangis untuk cinta sialan lo itu!" Kata orang tadi.
Bersambung....