
"Ferelina Marselana Prayaga." Ucap orang satu dengan memperhatikan foto gadis cantik itu.
"Lo suka dia?" Tanya orang dua.
"Kenapa tidak?" Kata orang satu.
"Lo, lupa kan dia?" Tanya orang dua dengan hati-hati.
Orang satu menghirup udara dengan penuh, lalu di hembuskan nya, "Tidak. Gue hanya takut untuk kembali." Jawabnya.
Orang dua menepuk bahu temannya itu, "Lo jangan takut. Lo gak akan tahu ke depan nya, kalau belum mencoba." Kata orang dua.
Orang satu mengangguk, "Gue akan mencoba nya." Jawab orang satu, lalu tersenyum tipis.
"Harus." Kata orang dua dengan menyemangati temannya itu.
...----------------...
"Jadi, kita balikan?" Tanya Cakra pada Anggun.
Sekarang, Cakra dan Anggun sedang berada di tokoh buku. Rencana nya Anggun ingin damai bersama buku-buku hari ini, tetapi Cakra datang dengan membawa beban pikiran.
"Gak." Jawab Anggun dengan cuek.
"Kok gak?" Tanya Cakra dengan bingung.
"Yah gak papa." Jawab Anggun.
"Kalau gak papa. Kenapa gak?" Tanya Cakra.
Anggun memijit kening nya sendiri untuk menghilangkan rasa pusing yang tiba-tiba datang melanda, "Lo diam. Kalau gak mau diam, pergi." Kata Anggun yang berusaha sabar, dengan mata yang terpejam.
"Lo jawab dulu. Kenapa gak mau?" Tanya Cakra dengan serius.
Anggun berdiri dari duduknya, kemudian pergi keluar dari tokoh buku, diikuti oleh Cakra.
"Jawab Anggun." Paksa Cakra dengan menggenggam tangan Anggun.
"Kita balikan terus buat masalah kayak dulu lagi?" Tanya Anggun.
"Masalah apa?" Tanya Cakra dengan bingung.
"Lo mau Ferni hajar lo karena selalu buat gue nangis dan kecewa?" Tanya Anggun.
"Kok bawa-bawa Ferni?" Tanya Cakra dengan malas.
"Karena dia sahabat gue yang suka buat lo mampus." Jawab Anggun dengan enteng.
"Gue gak akan buat kesalahan kayak dulu lagi." Jawab Cakra dengan yakin.
"Janji?" Tanya Anggun memastikan.
"Janji." Jawab Cakra dengan senyumnya.
"Hem." Dehem Anggun, dan pergi meninggalkan Cakra.
Cakra berlari lalu merangkul Anggun dengan terus melangkahkan kaki mereka, "Jadi, lo mau jadi pacar gue?" Tanya Cakra.
Anggun menatap Cakra dari samping, begitupun sebaliknya, "Ia." Jawab Anggun.
Dan, di hari itu, mereka kembali mewarnai dunia bersama-sama lagi.
...----------------...
"Apa?" Tanya Eli pada Abi yang hanya diam sedari tadi.
"Aku minta maaf sebelumnya, sudah buat kamu kecewa." Kata Abi dengan menatap Eli penuh kasih sayang.
__ADS_1
Eli mengangguk kemudian menundukkan kepalanya, mendengar semua penjelasan Abi dengan serius.
"Aku tahu. Aku memang salah." Kata Abi, lalu memegang pergelangan tangan Eli. Namun di tolak begitu saja oleh Eli.
Abi tersenyum kecut, kemudian duduk dengan tegak, "Aku tahu. Kamu pasti tahu alasan aku, kenapa sampai membuat taruhan seperti ini." Kata Abi.
Eli mengangguk lagi, mulutnya sangat lemas untuk di buka saat ini.
"Adel." Kata Abi.
Eli menganggukkan kepalanya lagi, dengan senyum paksaan yang sangat terlihat jelas.
"Kamu tahu, aku sudah anggap dia sebagai adik kan El?" Tanya Abi.
Eli menatap Abi, kemudian mengangguk sebagai jawaban.
"Dan kamu gak setuju aku buat cara ini untuk selamat kan dia?" Tanya Abi.
"Dan kamu setuju untuk melukai hatiku?" Tanya Eli dengan senyum getirnya.
Abi diam, menatap Eli yang terlihat sangat sedih, "Terus kamu mau biarkan Adel celaka?" Tanya Abi.
Eli berdiri dari duduknya, "Hem. Aku ngalah Abi, dan kamu bebas sekarang." Kata Eli, dan pergi dari danau tempat di mana mereka janji untuk bertemu.
Abi menatap punggung Eli yang semakin kecil dengan pandangan sedih nya, "Kamu yang tidak mengerti? Atau aku?" Tanya Abi entah pada siapa.
...----------------...
Saat ini, bang Uzi, Davin, Anggun, Ferni, Cakra, dan Panji, sedang berada di cafe, untuk menemui seseorang.
"Jadi, kita hanya ingin untuk membantu Eli." Kata orang satu.
"Tujuannya?" Tanya bang Davin.
"Gak ada hal lain. Selain membantu." Jawab orang dua.
"Kalian siapa?" Tanya bag Uzi.
"Sejak kapan?" Tanya Ferni.
"Lumayan lama." Jawab orang tiga.
"Ferni, lo percaya?" Tanya Anggun dengan berbisik.
"Kenapa tidak?" Jawab Ferni.
Bang Davin menatap Ferni, "Kenapa lo percaya?" Tanya bang Davin dengan berbisik.
"Eli punya teman dari luar negri waktu itu, dan kita gak tahu. Dia punya pacar juga, kita gak tahu. Kenapa dia punya sahabat kita harus gak percaya?" Tanya Ferni.
"Lo ada bukti untuk percaya sama mereka?" Tanya bang Davin.
"Ada." Jawab Ferni dengan smirknya.
"Apa?" Tanya bang Uzi, Davin, dan juga Anggun.
Ferni mengeluarkan ponselnya dari tas kecil berwarna putih. Ferni tampak sibuk dengan ponselnya, membuat yang lain berdecak kesal.
"Lo ngapain sih?" Tanya Anggun dengan kesal, tetapi tidak di hiraukan oleh Ferni sama sekali.
"Ini." Kata Ferni dengan menunjukan isi di dalam ponselnya, setelah beberapa menit di isi keheningan.
Bang Uzi mengambil ponsel Ferni, dan memperhatikan nya dengan benar, "Eli?" Tanya bang Uzi saat matanya melihat dengan jelas.
"Ia." Jawab Ferni.
"Lo dapat dari mana ini?" Tanya Cakra yang juga baru selesai melihat isi ponsel Ferni.
__ADS_1
"Kamarnya." Jawab Ferni.
"Serius sih, Eli udah banyak sembunyikan sesuatu dari kita." Kata Anggun dengan menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Merasa jika Eli pura-pura amnesia tidak?" Tanya Panji dengan serius.
Mereka saling pandang, kemudian menaikan bahunya dengan acuh.
"Kita terima kerja sama ini." Kata bang Uzi pada empat orang di hadapannya itu.
"Kita pamit." Izin bang Davin, lalu pergi terlebih dahulu, lalu di ikuti oleh teman-teman, dan juga abangnya.
"Lo kenapa main pamit aja sih bang?" Tanya Cakra dengan kesal.
"Lo mau tunjukan apa?" Tanya bang Davin pada Cakra dengan datar.
Cakra menepuk jidatnya, kemudian mengambil laptop di dalam mobilnya bagian jok belakang.
"Panas ***!" Umpat Panji karena mereka berdiri di samping mobil bang Uzi, dan juga Cakra.
"Kalau gitu masuk dulu sini." Kata Cakra dari dalam mobil, dengan jari tangan yang menari-nari di atas keyboard laptopnya.
"Lo sebenarnya mau tunjukan apa?" Tanya Ferni dengan malas, karena terlalu lama mereka menunggu.
Cakra berhenti sibuk pada laptopnya, "Gue punya bukti. Untuk hancurkan dia." Kata Cakra dengan smirknya, kemudian meletakkan laptop agar mereka semua bisa melihat nya.
"Anjay!" Umpat Panji dengan pelan.
"Jorok." Kata Anggun.
"Hem, bagus." Kata Ferni dengan mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Dari mana?" Tanya bang Uzi dan juga Davin bersama.
"Orang yang bernama Rio." Jawab Cakra.
"Yang pernah lo cerita ke gue?" Tanya Panji memastikan.
"Ia. Cuma gue belum tahu wajah nya, gimana dong?" Ucap Cakra dengan bingung.
"CCTV." Kata Panji dengan wajah konyolnya.
"Untuk kali ini, gue setuju." Ucap Cakra dengan menepuk-nepuk bahu Panji.
...----------------...
"Tapi gue rasa, Ferni lebih cocok sama lo." Kata Andre dengan memainkan benda bernama yoyo.
Saat ini, inti Clouts sedang kumpul di rumah Zidan, hanya untuk menghabiskan waktu mereka.
"Tapi kan gue suka nya sama Anggun." Jawab Arya.
Saat Arya ke rumah Zidan, dia menceritakan masalah di taman tadi pada sahabat-sahabatnya.
"Lo harus mikir ke depannya juga Arya. Lo suka sama Anggun, terus dia? Suka sama lo juga gak?" Kata Andre dengan bertanya di akhir kalimat.
Arya diam, memikirkan jawaban yang pas, "Tapi bisa kan di perjuangin sampai mendapatkan perasaanya?" Kata Arya dengan pertanyaan.
Andre memejamkan matanya dengan erat, "Terserah lo." Kata Andre dengan pasrah.
"Cakra dan Anggun sudah balikan." Kata Zidan tiba-tiba dengan mata yang tertuju pada layar tv. Yah, Zidan dan Lukas sedang bermain PS bersama.
Arya menatap Zidan tidak percaya, "Serius?" Tanya Arya.
"Lihat di grup Lambe AR School." Jelas Zidan.
Arya dengan cepat mengambil ponselnya yang berada di atas meja, kemudian melihat isi grup Lambe AR School. "Gue akan tetap dekati dia." Kata Arya saat selesai membaca isi pesan yang lagi hot di grup itu.
__ADS_1
"Kop**k!" Umpat Andre dengan melempar bantal sofa ke wajah Arya.
Bersambung.....