
"Yeh, si Arya mah emang sok tahu." Cibir Andre lalu melempar tisu yang di gumpal-gumpalkan.
"Ya udah si, intinya udah tiba di tujuan." Bela Arya dengan malas.
"Hem, terserah lo dah." Jawab Andre dengan pasrah.
Jalan yang di pimpin oleh Arya tadi tidak salah. Hanya saja, mereka melewati jalan belakang.
Selesai melewati pos penjaga, ada dua arah jalan yang berbeda, yaitu kanan dan kiri. Arya memimpin dan mengambil jalan sebelah kanan, berakhirlah merdeka putar-putar kampung tersebut.
"Hem, jadi di kampung ini, memang terkenal banyaknya hantu yah?" Tanya Arya pada kepala kampung tersebut.
"Ia, tapi semenjak desa ini mulai berkembang atau maju, banyak hal-hal yang tidak terduga. Salah satunya, maling yang tadi kalian temui." Jelas kepala kampung.
Maling? Yah, saat mereka berlari dari tempat duduk-duduk dekatnya kuburan, tiba-tiba ada tiga orang yang memakai topeng, dan tentu saja, itu maling.
Sayangnya, tiga orang itu berhasil kabur saat di kejar oleh sebagian anggota Clouts, termasuk inti.
Mengapa sebagian? Karena sebagiannya lagi membantu kekacauan yang di buat oleh maling tersebut, salah satunya. Menghamburkan lidi, daun, dan buah kelapa, yang akan di jual oleh mereka ke luar kampung.
"Hem, apakah bapak sudah mencari tahu?" Tanya Zidan.
"Sudah, tetapi kami belum mendapatkan jawaban." Jawab kepala desa itu.
Saat ini, hanya ada kepala kampung, inti Clouts, bang Uzi, Davin, dan tentunya Eli yang sedang duduk-duduk di luar balai desa. Geng Clouts lainnya sudah beristirahat terlebih dahulu, karena perjalanan yang panjang, dan masi harus berlomba maraton tadi.
"Boleh kami yang menyelidiki?" Tanya Abi tiba-tiba.
"Tentu saja boleh, tetapi saya tidak enak. Kalian adalah orang baru yang ingin membantu kampung ini, malah harus terbebani." Ucap kepala kampung dengan tidak enak hati.
"Tidak masalah pak, kami bantu dengan ikhlas." Kata Lukas yang menyakinkan kepala kampung itu.
"Besok bisa di adakan pertemuan semua warga kampung ini di sini?" Tanya Zidan pada kepala kampung.
"Ia, tentu saja boleh. Jam berapa?" Jawab dan tanya kepala kampung tersebut.
"05.00, adakan senam pagi." Jawab Abi.
Eli menatap Abi dengan ekspresi yang tidak bisa di arti kan, tetapi ada satu hal yang bisa di tangkap. Yaitu senyuman tipis yang di berikan oleh Eli untuk Abi.
"Baiklah, besok saya akan minta satu orang untuk datang ke rumah warga satu-satu" Ucap kepala kampung.
"Tidak perlu." Ucap Andre dan Arya bersama.
Kepala desa itu mengerutkan dahinya dengan bingung, "Kenapa?" Tanyanya.
"Besok kami yang akan memanggil, dengan cara tersendiri." Kata Zidan.
"Ta-" Perkataan kepala kampung yang terpotong.
"Itu urusan kami." Kata ini Clouts, Eli, bang Uzi, dan Davin bersama.
"Oke, baiklah." Kata kepala kampung itu dengan pasrah.
"Saya mau istirahat duluan." Pamit Eli, dan melangkahkan kakinya memasuki balai desa.
"Hem, kayaknya saya harus pulang ke rumah sekarang. Kalian juga lebih baik istirahat saja sekarang." Ucap kepala kampung.
"Ia." Kata Arya dan Andre, yang lainnya hanya mengangguk.
"Gue yang tidur sama Eli." Kata Abi tiba-tiba, saat kepala kampung itu sudah pergi.
"Bukan muhrim." Peringatan bang Davin.
"Kalian juga." Jawab Abi.
"Kita abangnya." Balas bang Uzi.
__ADS_1
"Ia, dulu. Sekarang bukan." Batin inti Clouts bersama.
"Gue saja yang tidur sama Eli." Ucap Abi, dan memasuki balai desa tersebut.
Bang Uzi dan Davin berlari mengejar Abi, mereka tidak rela jika Eli tidur bersama kekasihnya itu.
...----------------...
"Sayang, kapan kita habiskan waktu bersama lagi?" Tanya seorang pria yang sedang melingkarkan tangannya pada pinggang .....
"Tunggu bulan depan lagi yah, aku lagi atur rencana." Jawab wanita itu, lalu mengelus rahang pria tadi.
"Oke, aku menunggu mu." Jawab pria itu.
...----------------...
"Menjijikan!" Seru seorang gadis saat melihat gambar di hp nya.
"Huh, abang capek loh ini." Keluh seorang lelaki, yang ternyata abang dari gadis tadi.
"Sabar elah bang! Katanya mau bantu!" Cibir gadis tadi.
"Aduh, mending kamu jalani rencana dengan cepat! Gue gak mau kembali hanya nama doang!" Tekan abang tersebut, lalu meninggalkan gadis tadi.
"Yeh, bantu nya gak ikhlas." Seru gadis tadi.
...----------------...
"Ia, aku tahu." Kata seorang cowok dengan memegang tangan kekasihnya.
"Kita harus bertindak." Seru kekasih dari cowok itu.
"Ia sayang." Jawab cowok itu, lalu mencium pipi kekasihnya.
...----------------...
"BAPAK-BAPAK! IBU-IBU! SELAMAT PAGI! HARI INI SEMUA WARGA WAJIB KE BALAI DESA! YOK AYOK!" Teriak Arya menggunakan toa dengan suara yang begitu besar.
"Suka-suka gue." Balas Arya dengan cibiran.
"Lo itu udah toa. Terus tambah toa, yah jadi, toatoa...." Kata Andre, lalu tertawa dengan konyol.
"TOA!" Teriak Arya menggunakan toa di depan wajah Andre.
"Kurang ajar!" Umpat Andre.
Mereka kembali berjalan, kali ini tidak berteriak menggunakan toa, karena istirahat sebentar dulu.
"Abi juga kenapa suruh kayak gini sih? Ini masih jam 04.30 WIB udah teriak-teriak gini." Gerutu Andre tiba-tiba.
"Gak tahu. Yok balik, kita udah satu jam keliling nih desa." Ucap dan ajak Arya.
"Hem." Balas Andre, dan berjalan dengan santai.
...----------------...
"Yah, kenapa harus berangkat sekarang?" Tanya Monika dengan manja.
"Opa ada urusan di Paris." Jawab opa Ragael.
"Gak bisa di tunda?" Tanya bang Devin.
"Ia, papah sama mamah bulan depan mau ulang tahun pernikahan loh." Kata bang Bendra.
"Bulan depan akan di usahakan kembali." Jawab oma Keysa.
Saat ini, di kediaman Prayaga, sedang berkumpul di ruang keluarga. Opa Ragael dan oma Keysa akan berangkat dua jam lagi ke Paris, tempat di mana pusat perusahaan berada.
__ADS_1
"Ga tunggu Eli, Uzi, sama Davin dulu?" Tanya mamah Fana.
"Sepertinya tida bisa, nanti kalau di bandara, akan ku beritahukan." Jawab opa Ragael.
"Ya udah, Fana bantu mamah bereskan koper yuk." Ajak mamah Fana.
"Ayo." Balas oma Keysa.
Mamah Fana dan oma Keysa berjalan menuju kamar yang berada di lantai dua.
"Ada yang mau ku bicarakan." Kata grandpa Arga pada opa Ragael.
"Apa?" Tanya opa Ragael dengan serius.
"Di ruang kerja ku saja." Balas grandpa.
Opa Ragael hanya mengangguk saja, kemudian dua pria lanjut usia itu pergi menuju ruang kerja.
"Aku ke dapur dulu, mau buat sarapan." Kata bibi Siska, dan berjalan ke arah dapur.
"Ayo siap-siap kak." Kata papah Abson, dan berjalan ke arah kamarnya di ikuti paman Ardan.
"Bantuin adik ipar." Suruh uncle Rizky pada tante Ghea.
"Ta-" Perkataan tante Ghea yang terpotong.
"Bantu." Tekan uncle Rizky, lalu berjalan menuju arah kamarnya yang berada di lantai dua.
Dengan malas, tante Ghea berjalan ke dapur untuk membantu bibi Siska.
"Ayo main PS!" Ajak bang Bendra pada kembarannya, Devin, dan Ando. Leo serta sahabatnya, kecuali Davin dan Davin tentunya, sedang berada di taman kompleks keluarga Prayaga. Letaknya tidak terlalu jauh dari kediaman Prayaga.
"Ayo." Seru bang Devin dan Ando.
"Hem." Dehem bang Bagas, lalu berjalan terlebih dahulu ke kamar kembarannya itu.
"Ayo." Ajak bang Bendra, kemudian menyusul kembarannya, di ikuti oleh Devin dan Ando.
Sekarang, di ruang keluarga hanya ada Monik dan Sila, mereka hanya saling tatap kemudian menyibukkan diri dengan kegiatan masing-masing.
Tidak lama kemudian, hp Monik bunyi, dan segera menjauhi ruang keluarga yang terdapat Sila di sana.
"Hello sayang."
"Ia, ada apa sayang?"
"Kamu ada di mana?"
"Di rumah."
"Nanti malam bisa ketemuan?"
Monik tampak berpikir sejenak, "Oke. Jam berapa?"
"Jam 07.00, di cafe biasa."
"Oke, kalau gitu aku tutup dulu yah."
Tut.... Tut.... Tut....
Selesai menelpon, dia menatap Sila sebentar, lalu pergi ke arah kamarnya.
...----------------...
"Gue akan jelaskan sesuatu, tetapi tidak sekarang."
Tut.... Tut.... Tut....
__ADS_1
Panggilan berakhir, dengan Sila yang menutupnya. Sila? Yah, dia Sila.
Bersambung....