Elena'S Transmigration Story

Elena'S Transmigration Story
Tiga Belas


__ADS_3

Warga AR yang berbaris di depan, bisa melihat Eli yang berbicara dengan lantang. Siswa siswi yang baris di belakang, saling mendesak untuk ke depan, hanya ingin lihat Eli, yang katanya, cewek bar bar, dan yang membentuk kelas solidaritas.


"Kenapa? Kelas saya pantas di banggakan." Jawab bu Dona sinis.


"Hal yang di banggakan, bisa membuat hal yang memalukan." Jawab Eli santai.


Semua yang mendengar penuturan Eli bingung. Apa maksudnya? Pikir mereka semua.


"Apa maksud kamu?" Tanya bu Dona.


"Lomba Matematika Nasional, di menang kan oleh Lala XI IPA 3." Jawab Eli dengan smirknya.


Semua diam, masih belum mengerti.


"Lomba itu di menang kan oleh Aurel! XI IPA 2!" Bentak bu Dona.


"Baiklah." Jawab Eli.


"Katakan." Kata Eli terhadap XI IPA 3.


"Kalau gitu, saya mau bertanya bu. Kelas XI IPA 2 memenangkan lomba apa saja?" Tanya Reyhan dengan seringainya.


"Banyak!" Kata bu Dona bangga.


"Kasih tahu dong bu." Salah satu siswa kelas XI menyahut. Siswa itu tahu, taktik yang di gunakan XI IPA 3 saat ini.


"Lomba cerpen, baca puisi, matematika, kimia, menggambar. Dan itu di ulang-ulang, jadi nya banyak. Jelas bu Dona sombong. Semua murid kelas XI IPA 2 menyoraki XI IPA 3, yang tepat baris di sampingnya.


"Dengarkan! Emang kelas XI IPA 2 itu sangat di banggakan. Jadi kalau iri, bilang aja!" Seru wakil ketua kelas XI IPA 2.


"Ibu lupa, saya memenangkan baca cerita dengan membuat dramanya?" Tanya Doni dengan senyum tipis nya.


"Ibu lupa, saya memenangkan model putri tahap provinsi?" Tanya Sisi.


"Ibu lupa, saya Reyhan, Ayu, dan Intan, juara satu lomba tarian daerah?" Tanya Alga.


"Saya membawa nama sekolah ke provinsi dan mendapatkan juara dua lomba Biologi." Kata Siska bangga.


"Saya memenangkan bendali emas atas permainan bulu tangis." Kata Zikri sombong.


"Saya dan Ferni membawa piala dari lomba dance." Kata Anggun dengan senyum khasnya.


"Lebih banyak XI IPA 3 yang membawa piala dari tahun kemarin, dan sekarang." Kata Eli tenang.


Bu Dona hanya diam, dengan menahan amarah yang siap meledak.


"Itu kan hanya teman mu. Dirimu sendiri belum membawa nama sekolah." Kata bu Dona remeh.


Satu detik.


Dua detik.


Tiga de-


"Saya yang menggantikan Bela lomba Matematika provinsi, minggu lalu. Ibu lupa?" Tanya Eli.


Bu Dona hanya diam. Begitu pun dengan warga AR. Karena setahu mereka, yang membawa mendali emas pulang itu adalah Bela, kelas XI IPA 2.


"MANGKANYA JANGAN DULU BANGGA BU!" Teriak XI IPA 3 kompak.


Banyak sorak dukungan dari kelas lain untuk solidaritas XI IPA 3, membuat semangat mereka semakin membara.


...----------------...


Saat ini kelas XI IPA 3 sedang jam kosong, karena hal yang di lakukan mereka saat di lapangan. Wali kelas mereka yang mengatakan untuk jam kosong sehari full.


"Bosan uy!" Kata Dino.


"Konser yuk!" Ajak Anggun.


"Aduh, gak ada anggun-anggunnya. Hanya nama saja yang model Anggun, sifat mah err~" Serkas Reyhan.


"Wah wah wah... Lo ada dendam apa sama gue Rey!?" Tanya Anggun sambil jalan mendekat.


"Gak ada. Hanya mengatakan

__ADS_1


hal yang fakta." Jawab Reyhan nantang.


"Terserah gue dong! Ini kan sifat gue!" Jawab malas Anggun.


"Ya udah sih. Ini kan mulut gue." Balas Reyhan.


"Tapi bisa dong, mulut di filter." Seru Anggun.


"Sifat lo juga kan harus di filter sebenarnya." Seru Reyhan.


Setengah yang melihat tingkah mereka hanya memutar bola mata malas. Sebagiannya menonton, menganggap itu hal yang menarik.


"Malas ah, pakai filter. Gue gak segila orang yang pakai filter! Ini sifat gue yang mau temanan ayok! Yang gak mau, pergi aja! Gue gak ngurus orang soal nya. Dan yah, sifat gue yang asli itu normal, dari pada filter, tapi gak benar." Ucap Anggun dengan mulut tajam nya, saat melihat ada seseorang yang mengintip lewat jendela belakang kelas XI IPA 3. Dan hal itu di sadari oleh seluruh orang yang berada di dalam kelas.


Tepuk tangan menggema, membuat kelas lain merasa penasaran dengan hal yang di lakukan XI IPA 3. Banyak kelas lain yang berusaha mengintip, walau susah karena harus berdempetan.


"Ayok lah! Musik!" Seru Anggun dan Dino langsung memutar musik dengan keras, membuat kelas lain yang mendengar semakin iri.


...----------------...


"Wis. Dia lagi nyindir siapa itu?" Tanya Panji kepo.


Saat ini, abang twins dan sahabatnya berada di belakang kelas XI IPA 3, bersama dengan Monika.


"Nyindir teman nya sendiri mungkin. Lo gak lihat, si mak lampir sifat nya kayak gimana?" Tanya Cakra.


"Mana ada! Di mana-mana, sahabat itu paling ngerti soal perasaan temannya." Kata Panji bijak.


"Gak juga. Ada juga yang tikung sahabatnya sendiri." Jawab Cakra.


"Apa itu masih bisa di katakan sahabat?" Tanya Panji. "Setahu gue, Eli orang yang pintar dalam memilih sahabat. Dan dia tahu, mana sahabat, kemudian musuh." Lanjut Panji lagi, membuat yang lain diam.


"Ia. Kak Eli itu orang nya pintar." Kata Monika yang membenarkan perkataan Panji.


"Noh, yang musuh aja nyadar." Kata Panji dengan batin di tengah-tengah kalimatnya.


"Apa yang nyadar?" Tanya bang Devin.


"Dia nyadar. Dari sekian lama diam." Jawab Panji enteng.


"Gue tahu, lo bisa membedakan, mana sahabat, dan musuh. Karena itu, saat ini tantangan gue sangat besar." Batin seseorang, yang mendengar percakapan tersebut.


...----------------...


"Akhir nya istirahat juga. Gue lapar banget." Seru Anggun.


Saat ini Eli dan sahabatnya berada di kantin, mereka berjalan ke arah lumayan pojok, karena tidak mau di perhatikan oleh warga AR. Namun sepertinya percuma, karena awal masuk kantin, semua mata mengarah pada mereka, tepat nya Eli.


"Pesan apa?" Tanya Ferni.


"Bakso, air es, dan belikan yakult." Kata Eli.


"Sejak kapan lo minum yakult?" Tanya Anggun penasaran.


"Gak es teh?" Tanya Ferni.


Eli hanya menggeleng saja.


"Dari lama." Jawab pertanyaan Anggun.


"Tap-" Ucapan Anggun terpotong dengan pertanyaan Ferni.


"Lo pesan apa?"


"Bakso, minumnya jus mangga." Jawab Anggun, dan Ferni langsung berlalu dari sana.


Eli dan Anggun hanya memainkan hp mereka, sambil menunggu makanan mereka. Tidak lama teriakan warga AR menggema di telinga mereka, saat abang twins dan sahabatnya memasuki area kantin.


Aduh, ganteng banget sih!


Leo, sini deh.


Dia udah punya pawang ogeb!


Is. Davin datar, tapi masih ganteng aja!

__ADS_1


Panji cool deh!


Cakra! Aduh, mana saja pacar kamu? Aku mau kenalan, sebagai calon istri kamu.


Wih! Devin ganteng banget sih!


Dll.


"Unfaedah banget sih!" Serkas Anggun.


"Dah lah. Gak usah ngurus." Jawab Ferni tiba-tiba.


"Ngagetin Cok!" Tajam Anggun.


"Sorry elah." Jawab Ferni dengan muka menyebalkan nya.


"Makasih." Jawab Eli dan langsung makan bakso nya.


Mereka makan dengan tenang, tanpa adanya gangguan, tiba-tiba, "Permisi, boleh duduk bareng gak?" Tanya seseorang sambil duduk di depan Anggun.


"Lo udah duduk nyet!" Sinis Anggun.


"Oh. Oke. Ulang." Jawab orang itu. Orang tersebut berdiri, dan berjalan lumayan jauh, kemudian menghampiri meja yang di tempati Eli dan sahabatnya.


"Permisi, boleh numpang duduk?" Tanya orang tadi.


Anggun memutar bola mata malas, sementara orang tadi hanya berdiri seperti patung.


"Jawab elah! Gue pengen duduk." Kata orang itu.


"Bangsul! Emang gue izinkan? Berdiri aja terus." Sinis Anggun.


"Lo kok tega bener?" Tanya orang itu sambil duduk.


"Emang lo siapa gue?" Tanya Anggun menantang.


Skakmat. Orang itu hanya diam, "Ya udah sih, jawab aja ia, supaya gue bisa duduk." Balas orang itu.


"Lo udah duduk nyet!" Jawab Anggun malas.


"Diam elah!" Sentak Panji, karena malas mendengar perdebatan Cakra dan Anggun. Yah, yang berdebat sedari tadi dengan Anggun adalah Cakra. "Lo mau pesan apa? Biar Cakra yang pesan." Tanya Panji.


"Kok gue?" Tanya Cakra tak terima.


"Ini giliran lo pesan Cak!" Kata Panji malas.


"CK! Cepat, pesan apa?" Malas Cakra.


"Yang ikhlas Cak!" Sambar Panji.


"Yeh! Gue ikhlas ini." Sewot Cakra.


"Bakso, es teh." Kata bang Davin.


"Samain aja." Kata bang Devin.


"Oke." Jawab Cakra, dan langsung pergi dan menuju stand bakso.


Anggun hanya diam, sambil makan, Ferni, mengaduk-aduk minuman nya, dan Eli? Bermain hp. Eli dan Ferni sudah selesai makan sedari tadi, sedangkan Anggun belum, karena asik berdebat dengan Cakra.


"Gue mau tanya." Sela Panji.


Semua menatap Panji, kecuali Eli.


"Apa?" Tanya bang Devin.


"Gue mau tanya Eli." Kata Panji.


"Apa?" Tanya Eli malas, dengan mata yang sudah menatap Panji.


"Lo beneran gantinya Bela lomba Matematika provinsi?" Tanya Panji penasaran. Yah, awal nya Panji dan Cakra tidak tahu soal ini, karena asik membahas soal mabar. Namun, saat di kelas, banyak yang berbicara soal Eli, jadi lah mereka tahu.


"Ia." Jawab Eli seadanya, dan kembali bermain hp.


"Bagaimana bisa?" Tanya Monika penasaran.

__ADS_1


Mata tajam Eli tertuju pada Monika, dengan senyum miringnya, tetapi tidak ada yang tahu, "karena gue...


__ADS_2