Elena'S Transmigration Story

Elena'S Transmigration Story
Dua Puluh Sembilan


__ADS_3

Eli jalan dengan santai menuju Abi yang sedang duduk dengan menghisap rokoknya.


Semua menatap Eli dengan bingung, tidak takut kah dengan para cowok? Padahal di sini banyak cowok.


"Terlalu berani." Kata Bayu pada Arnol.


"Biasanya cewek tuh kalau ke warung, lihat banyak cowok, langsung putar balik. Kok dia gak?" Kata Arnol dengan menatap Eli tanpa berkedip.


Cantik.


Imut.


Mau sama aa gak neng?


Bisa dong, jadi pacar.


Asek! Pacar lo di buang ae!


Sayangnya gue gak bisa buang.


Bisa gawat dia.


Ia. Kondisi hati bos lagi gak baik.


Semoga dia baik-baik saja.


Dll.


"Berapa kali?" Tanya Eli tiba-tiba saat tepat berada di belakang Abi.


Abi yang mendengar suara Eli, segera berbalik badan. "Eli." Kata Abi seperti lirihan. Abi mematikan rokoknya, kemudian menggunakan hand sanitizer.


Eli duduk di samping Abi dengan ekspresi datarnya.


"Kamu ngapain di sini?" Tanya Abi pada Eli.


"Kamu gak suka?" Tanya Eli dengan datar.


"Bukan." Jawab Abi cepat.


Abi menatap datar pada semua geng Clouts. "Dia milik gue. Jaga mata kalian!" Peringat Abi pada geng nya sendiri dengan tatapan tajamnya.


"Kamu marah aku?" Tanya Abi pada Eli yang sedang bermain hp.


"M." Jawab Eli.


"Karena?" Tanya Abi.


"Kenapa gak kasih kabar semalam?" Tanya Eli.


Abi diam. Memikirkan sesuatu yang dilupakannya. Abi mengepalkan tangannya dengan kuat, tanpa sepengetahuan Eli.


"Eli." Panggil bang Zidan.


"Yah bang?" Jawab Eli.


"Bersihkan luka Abi. Tadi dia gak mau bersihkan." Suruh Zidan.


Eli melihat wajah Abi yang babak belur, dan lengan yang tergores. "CK! Kalau mau tempur, jaga diri." Kata Eli dengan sinis.


"Mana kotak P3K?" Tanya Eli pada Zidan.


"Kang! Kotak obatnya tadi mana?" Tanya Zidan pada kang Majid.


"Ada nih." Kata kang Majid dan segera memberikan nya pada Zidan.


"Nih." Zidan memikirkan kotak tersebut ke Eli.


Eli mengambil kotak tersebut dari tangan Zidan. Dengan telaten, Eli membersihkan luka Abi.


"Kalau mau rias wajah, bilang. Aku jago rias." Kata Eli dengan menekan luka Abi.


"Sssh. Sakit." Kata Abi sambil meringis.


"Udah tahu tapi gak di jaga." Cibir Eli.


"Khawatir yah?" Goda Abi.


"Pacar mana yang gak khawatir, kalau lihat pasangannya kayak gini?" Tanya Eli.


"Ia. Maaf." Jawab Abi sambil menoel pipi Eli.


"Diam." Kata Eli sambil membersihkan lengan Abi.


Abi menatap Eli dengan diam, cantik banget pacar gue. Pikir Abi.


"Aku emang cantik." Kata Eli yang sudah selesai membersihkan luka Abi.


"Ia, kamu emang udah cantik." Kata Abi sambil tersenyum manis.


"Abi. Ayo pulang." Ajak Eli.


"Sekarang?" Tanya Abi.


"Ia lah." Jawab Eli kesal.


"Ayo." Kata Abi, lalu menggandeng tangan Eli dengan lembut.


...----------------...


"Makasih Abi." Kata Eli saat tiba di depan gerbang keluarga Prayaga.


"Ia. Masuk sana." Suruh Abi.


"Gak mampir dulu?" Tanya Eli.


"Gak." Jawab Abi. "Aku langsung jalan yah." Kata Abi sambil memakai helmnya.


"Nyampe kabarin." Kata Eli.

__ADS_1


"Oke." Abi menyalahkan motornya, "Dah." Kata Abi dan menjalankan motornya.


Eli memandang Abi yang sudah menjauh, Ada yang gak beres. Pikir Eli dan melangkahkan kakinya untuk masuk kedalam rumah.


"Loh, udah pulang nak?" Tanya mamah Fana saat melihat Eli menaiki tangga.


"Ia." Jawab Eli. "Aku ke atas dulu mah." Lanjutnya dan melangkahkan kakinya menuju kamar.


"Mamah sayang kamu nak. Apapun yang terjadi nanti, percaya lah, itu yang terbaik untuk mu." Kata mamah Fana dengan lirih.


...----------------...


"Nanti lo sibuk gak?" Tanya Anggun pada Ferni.


Ferni dan Anggun saat ini sedang duduk santai di rooftop. Yah, mereka bolos.


"Gue sibuk hari ini." Jawab Ferni saat mengingat, dia ada janji dengan Panji.


"Yah, padahal gue mau ajak lo sama Eli ke kebun binatang." Kata Anggun sedih.


"Kapan-kapan aja. Eli juga kan sakit tadi." Kata Ferni.


"Oke." Jawab Anggun.


Hening, mereka sibuk dengan kegiatan masing-masing. Anggun bermain hp, dan Ferni yang membaca novel.


"Fer." Panggil Anggun dengan serius.


"Apa?" Jawab Ferni dengan mata yang tetap fokus pada novel nya.


"Gue mau tanya." Kata Anggun.


"Yah." Jawab Ferni yang tetap dengan posisi awal nya.


"Menurut lo, Cakra cocok gak sama gue?" Tanya Anggun.


Ferni diam, menatap bukunya dengan kosong, kemudian menatap Anggun yang sedang memalingkan wajahnya. "Ikuti kata hati lo aja." Jawab Ferni dengan tersenyum manis.


"Ia." Jawab Anggun dengan senang.


"Nggun." Panggil Ferni.


"Hem?" Jawab Anggun dengan bermain hp nya.


"Gue danger, akan ada lomba yah?" Tanya Ferni.


"Dengar dari siapa?" Tanya Anggun.


"Cakra sama Panji." Jawab Ferni.


"Gue gak tahu. Biasanya kalau ada lomba, Cakra selalu bilang gue, tapi kenapa kemarin dia chat, tapi gak bilang?" Tanya Anggun bingung.


"Chat?" Tanya Ferni memastikan. Ferni tahu, Anggun selalu memblokir nomor Cakra.


"Ia, cha- eh!" Kaget Anggun, kemudian melihat wallpaper hp nya. "Gue pamit dulu!" Kata Anggun tiba-tiba, kemudian jalan menuju pintu rooftop.


...----------------...


"Gue akan tetap tunggu lo." Batin Cakra. Sudah tiga jam lebih, Cakra berada di taman belakang sekolah. Sesuai janji nya kemarin, Cakra sudah menunggu Anggun di taman dari tiga setengah jam yang lalu.


Cakra menyandarkan kepalanya pada pohon yang cukup besar. "Apa lo gak akan datang?" Tanya Cakra pada dirinya sendiri, kemudian menutup matanya.


...----------------...


"Astaga! Gue kenapa bisa lupa?" Tanya Anggun pada dirinya sendiri.


Anggun terus melangkahkan kakinya menuju taman belakang sekolah. Namun sayangnya, waktu tidak mendukung sama sekali.


"ANGGUN!" Panggil bu Endang. Guru piket, yang sedang berpatroli.


Anggun menghentikan langkahnya, membalikan tubuhnya dengan pelan, sambil menutup mata. Anggun membuka matanya sedikit saat tubuhnya sudah berhadapan dengan bu Endang. Sial banget sih gue! Pikir Anggun.


"Mau kemana kamu?" Tanya bu Endang dengan galak.


"Eh, ibu. Mm, saya mau ke taman belakang bu." Jawab Anggun dengan muka polos nya.


"Mau ngapain kamu ke taman belakang?" Tanya bu Endang menyelidik.


Hahaha, lo juga harus kena! Pikir Anggun dengan menahan tawanya.


"Kemarin malam, ada yang chat saya pakai nomor baru bu. Terus, minta saya ke taman belakang." Jelas Anggun.


"Ah, ngarang yah kamu!" Kata bu Endang dengan tidak percaya.


"Lah, saya beneran bu! Karena saya penasaran, yah datang ke sana untuk cari tahu. Siapa yang kirim pesan itu pada saya." Jawab Anggun dengan senyum idiot nya.


"Mending kamu masuk kelas. Gak usah ke taman belakang!" Perintah bu Endang.


Anggun mengerjapkan matanya berkali-kali. "Bu, kan saya mau tahu." Kata Anggun yang tidak terima.


"Kalau dia orang jahat gimana?" Tanya bu Endang.


"Lah, kalau mintanya bertemu di taman belakang sekolah. Artinya dari sekolah kita bu. Kalau emang orang itu jahat, kita tinggal lihat cctv, siapa yang terakhir menuju taman belakang." Jawab Anggun dengan cepat.


"Kan kamu yang terakhir." Jawab bu Endang.


Anggun menepuk jidatnya. Guru gue kok gini? Pikir Anggun yang berusaha sabar.


"Ayo bu! Ikut saya!" Kata Anggun sambil menarik tangan bu Endang menuju taman belakang sekolah.


"Eh, mau bawa saya ke mana?" Tanya bu Endang dengan panik.


"Taman belakang lah bu! Supaya kalau ada yang jahat, ibu bisa bantu. Kan ibu guru, dan yang jahatin saya murid ibu." Kata Anggun yang terus menarik tangan bu Endang.


"Lepas." Kata bu Endang, dengan cepat, Anggun melepas tangan bu Endang, lalu menatap guru tersebut yang sepertinya sangat marah.


Anggun menundukkan kepalanya karena takut. "Maaf bu." Kata Anggun dengan lirih. Anggun menatap bu Endang, memastikan jika guru nya itu sudah menormalkan ekspresi nya. Dan ternyata, belum sama sekali, bahkan kini bu Endang menatap Anggun dengan lapar.


"Kamu tahu?" Tanya bu Endang.

__ADS_1


"Tidak bu." Jawab Eli dengan menggelengkan kepalanya.


Bu Endang menarik nafasnya dalam-dalam, lalu menghembuskan nya secara perlahan-lahan. "DI TAMAN BELAKANG TUH ANGKER ANGGUN!" Teriak bu Endang membuat Anggun kaget. Dengan segera, bu Endang melangkah menjauhi Anggun.


"Astaga!" Kata Anggun dengan wajah idiot nya.


"Gue kira, tuh guru akan panggil Cakra dari taman belakang, kemudian di hukum bareng-bareng. Ternyata?" Kata Anggun lalu menggelengkan kepalanya.


...----------------...


Ting.


Suara notifikasi memasuki telinga Arya. Dengan cepat, Arya membuka pesan yang baru di kirim. Abi? Pikir Arya.


Abi


Gue di rumah lo.


^^^Oke bos. Gue balik.^^^


Arya mematikan hp nya, setelah membalas pesan dari Abi.


"Siapa?" Tanya Andre.


"Abi di rumah gue." Kata Arya lalu bangkit dari duduknya.


"Ngapain?" Tanya Andre bingung.


"Kayaknya dia ada masalah." Jawab Arya. "Lo pada mau ikut gak?" Lanjutnya.


"Ikut." Jawab Lukas, Zidan, dan Andre kompak.


Arya menganggukkan kepalanya, lalu melangkah keluar dari kantin, di ikuti oleh para sahabatnya.


...----------------...


Teng... Teng... Teng...


Lonceng pertanda pulang menggema di seluruh penjuru sekolah AR, membuat para siswa siswi membereskan peralatan belajar nya.


"Oke anak-anak, pelajaran kita cukup di sini. Minggu depan, kita lanjutkan." Kata pak guru, lalu keluar dari kelas XII IPA 1. Kelas abang twins dan sahabatnya.


"Eh, si Cakra kemana? Dari jam istirahat udah ngilang orangnya." Tanya Panji


"Gak tahu." Kata bang Devin.


"Kayak Jin aja nih anak!" Kata Panji.


"Ayo!" Ajak Leo.


"Jemput ade gw dulu." Kata bang Devin.


"Gue duluan ke parkiran, ada perlu dengan orang." Kata Panji dan segera keluar kelas.


"Duluan." Kata bang Davin lalu keluar kelas.


"Ayo!" Ajak Leo dan keluar kelas.


"Apa lo udah gak perduli lagi dengan Monika?" Batin bang Devin.


...----------------...


"Jadi, lo mau gak?" Tanya Cakra.


"Tapi lo nya pernah ciuman sama Bela. Gue gak suka." Balas Anggun.


Saat ini, Anggun den Cakra sedang berada di taman belakang sekolah. Cakra meminta Anggun datang ke taman, hanya untuk menjelaskan masalah yang membuat kedua nya menjauh.


"Tapi kan aku udah jelaskan Nggun." Jawab Cakra yang berusaha sabar. "Gue udah bilang. Kalau gue khilaf! Lagian tuh si Bela basahi bibir terus dengan lidahnya. Gue kan jadi tambah khilaf." Jelas Cakra yang sudah kesekian kalinya.


"Gue belum bisa terima lo lagi. Kalau lo mau kita kayak dulu, buktikan. Gue gak mau, setiap cewek yang lewat depan lo dengan membasahi bibirnya. Lo malah embat!" Jawab Anggun dan berlalu dari taman, bertepatan dengan bel pulang berbunyi.


Cakra menatap punggung Eli yang sudah termakan oleh tanaman. "AAAAH! GUE SAYANG SAMA LO ANGGUN!" Teriak Cakra. "Gue sayang lo. Gue gak mau jauh dari lo." Kata Cakra dengan lirih, tanpa sadar setetes air mata menjatuhi tanah. Tetesan itu terus jatuh dengan deras.


"Gue juga sayang lo. Gue mau lo berubah." Kata Anggun yang mendengar teriakan Cakra. Anggun kembali melanjutkan langkahnya.


...


**Hello, apa nih yang mau di bilang sama mereka pada part ini?



Eli.


Abi.


Cakra.


Anggun.


Panji.


Ferni.


Bang Davin.


Dll**.




***Thanks yang udah mampir. Jangan lupa tinggalkan jejak. Jejak kalianlah yang buat Author bertahan sampai sekarang***.



***Salam hangat***,


***Fea***.

__ADS_1


__ADS_2