
"Berarti ini bukan pencurian biasa yang gampang di takluk!" Seru Arya.
Inti Clouts, bang Uzi dan Davin, masi ada di hutan, mereka masih membicarakan desa terlarang itu.
"Di sana pasti banyak pasukan." Kata Andre dengan serius.
"Kita salah membuat rencana." Kata Abi dengan mengedarkan pandangannya.
"Waspada!" Kata Lukas lalu berdiri dari duduknya.
Mereka semua berdiri, dan mengambil tempat siaga masing-masing.
"Bukan lima." Kata Abi.
"Banyak cuy!" Seru Arya.
"Gak ada cara lain! Kita harus lawan." Kata Zidan.
"Tidak! Kita jadikan permainan saja." Ucap Abi dengan seringainya.
Abi dengan Cepat memanjat pohon di belakangnya, di ikuti oleh bang Uzi, dan Davin. Namun dengan pohon yang berbeda, mereka dapat mengerti maksud yang di lakukan oleh Abi.
"ANJENG!" Teriak Arya saat dirinya di tendang dari belakang.
Andre yang sudah berlindung di bilik pohon hanya bisa menepuk jidatnya, "Lo go*lok!" Umpatnya.
"Inti Clouts abal-abalan." Cibir Zidan yang juga sudah bersembunyi di balik pohon.
"To*ol!" Umpat Lukas yang juga sudah bersembunyi di balik pohon, tepatnya samping Arya.
"Heh! Lo bilang gue apa?" Tanya orang satu.
"ANJENG!" Teriak Arya dengan sengaja.
"BACOT!" Seru orang satu, dan langsung menghajar Arya, tidak hanya di situ, Andre pun sedang melakukan hal yang demikian.
"BABE!" Teriak Andre dengan kesal, karena di kaget kan oleh orang yang memakai jubah berwarna hitam.
"Gue bukan babe lo!" Ucap orang dua.
"Gue juga ogah punya babe macem lo!" Sewot Andre.
Andre dan orang dua sedang beradu otot. Namun mulut pun ikuti beradu, Andre tidak terima mempunyai babe seperti hantu. Dan orang dua tidak terima jika dirinya adalah babe dari bocah ingusan.
"TERUS KENAPA LO PANGGIL GUE BABE?" Tanya orang dua dengan mengeraskan suaranya.
"GUE MAU BILANG LO B*BI NJENG!" Teriak Andre.
"KURANG AJAR LO! MASI BOCAH SUDAH BERKATA-KATA KASAR!" Seru orang dua.
"LO KAN YANG AJAR!" Kata Andre dengan menonjok kepala orang dua, pas di akhir kalimatnya.
"Nah kan! Lo yang ajar!" Kata Andre dengan senyum konyolnya saat melihat orang dua pingsan di tempat.
"DIAM LO GUGUK!" Seru Arya dengan jengah.
Kembali ke Arya dan orang satu, mereka masi beradu otot dengan mulut yang tidak kalah bacot.
"INGUSAN!" Kata orang satu.
"LO YANG INGUSAN!" Kata Arya dengan menonjok hidung hidung orang satu, sampai mengeluarkan darah.
"Gue gak tega." Kata Arya dengan pelan, tetapi masi bisa di dengar oleh orang satu.
"Bantu gue dong! Pusing nih kepala." Kata orang satu yang memanfaatkan pikiran Arya.
Arya mendekat ke arah orang satu, tangannya terulur untuk membantu, tetapi.
Bugh.
Tangannya menonjok kepala orang satu hingga pingsan. "Bobok yang tenang. Semoga masi bisa lihat langit." Kata Arya dengan sedih, lalu berjalan ke arah Andre yang sedang duduk santai di atas orang dua.
"Wish, empuk kah?" Tanya Arya dengan cengengesan.
"Empuk. Coba lo duduk." Suruh Andre.
Empuk? Yah, tubuh orang dua lumayan gempal, membuat Andre duduk di atas bokongnya, di ikuti Arya.
"Buset. Hampir kayak kasur." Kata Arya dengan heboh.
"Tidur aja lo" Suruh Andre.
Beralih ke Lukas dan Zidan, mereka berdua sedang saling adu jotos melawan lima orang masing-masing.
"Basmi!" Seru Lukas dan Zidan, kemudian menjauhi sepuluh orang tadi.
Bugh.
Bugh.
__ADS_1
Bugh.
Bugh.
Bugh.
Bugh.
Bugh.
Bugh.
Bugh.
Bugh.
Kayu jatuh dari atas, mengenai sepuluh orang tadi, siapa lagi yang lakukan kalau bukan Abi, bang Uzi, dan Davin? Di antara mereka, hanya Abi, bang Uzi, dan Davin saja yang bisa mengatur jaraknya jauh untuk melempar.
Mereka tidak bodoh untuk ikut adu otot di bawah, karen masi ada banyak anggota penculik yang akan datang menyerang. Tidak, bukan hanya mereka bertiga saja lah yang akan terus menerus lempar kayu dari atas. Karena mereka masi punya banyak cara, agar bisa adil.
"Andre! Kontrol kan dirimu nanti." Peringat Abi, saat melihat orang dua yang sedang tidak sadar diri itu.
Andre menghembus kan nafasnya dengan sedikit kasar, "Akan ku coba." Jawab Andre.
"Ayo." Ajak Lukas, dan mereka kembali berjalan di hutan yang lebat itu.
...----------------...
"Su-dah. A-ku capek." Kata Monik dengan nafas yang tidak teratur. Habis apa? Lomba maraton? Yah! maraton di kasur bersama Dimas.
"Lima menit." Ucap Dimas, dengan menghentikan aktivitasnya.
"Aku lapar, mau makan. Jadi dua puluh lima menit yah." Nego Monik.
"Tiga menit." Ucap Dimas dengan memainkan ponselnya.
"Dua puluh menit deh." Nego Monik lagi.
"Satu menit." Kata Dimas dengan menatap Monik.
"Dua puluh lima menit!" Kata Monik dan segera turun dari kasur. Namun sayang, Dimas bukan lah orang yang berstatus junior di permainan kasur seperti ini. Tangan Dimas menarik kasar bahu Monik, dan membantingnya ke kasur.
"Aku tidak suka orang yang menego waktu." Ucap Dimas dengan pelan, tangannya mengusap lembut pipih Monik.
"Dimas, aku lapar." Kata Monik dengan menghentikan tangan Dimas yang akan bermain di dadanya.
"I-ia" Jawab Monik dengan ragu.
Dengan gerakan cepat, Dimas melakukan adegan 21+, membuat Monik tidak bisa berhenti mengeluarkan desahannya. Bahkan air mata Monik pun ikuti menetes, tentu itu sakit, karena di lakukan dengan kasar. Namun mungkin ada kata nikmatnya.
(Tidak di lanjutkan, karena tidak tahu, dan belum pernah mencoba.🤣 Next😐)
...----------------...
"CAKRA! TOLONG! WOY! FERNI! PANJI! TOLOOONG!" Teriak Anggun dengan terus berlari.
Saat ini, Ferni, Anggun, Cakra, dan Panji, sedang berada di kebun binatang. Tujuan mereka datang, untuk melakukan tantangan dari Panji, yaitu memberikan makan pada burung merak. Mengapa itu? Bukan kah terlihat seperti mudah? Itu mudah jika di bayangkan, tapi tidak untuk melakukan nya, menurut Anggun.
Anggun adalah gadis yang takut pada semua binatang, kecuali kupu-kupu. Karena itu, Panji meminta Anggun untuk memberikan makan pada burung merak, 'Supaya lo tidak takut hewan lagi.' Itu kata Panji.
Terus kenapa tidak di lempar saja makanannya dari luar? Jawabannya adalah, Anggun tidak tega, mengapa? 'Kasihan kalau di lempar, nanti tidak enak bagaimana?' Itu jawaban Anggun. Serba salah bukan?
"LEPAS MAKANAN YANG LO PEGANG!" Teriak Cakra dengan terus berlari.
"LEPAS MAKANANNYA DARI TANGAN LO!" Teriak Panji dengan berlari.
"TOLOOOOONG!" Teriak Anggun dengan air mata yang terus membasahi pipinya.
"LEPAS MAKANANNYA DARI TANGAN LO ANGUUUUUUUUUUUUUUUUUN!" Teriak Ferni dengan kesal. Saking kesalnya, Ferni berteriak menggunakan mik, dengan volume salon yang penuh.
Lari Anggun seketika berhenti, begitu juga langkah orang-orang yang sedang berjalan mengelilingi kebun binatang.
"AU!" Teriak Anggun saat burung merak itu mematok bokong Anggun, untung terkikis. Karen Cakra yang menarik Anggun dalam dekapannya. Dan burung merak kedalam kandang.
"Lo gak papa?" Tanya Cakra yang tidak di gubris oleh Anggun.
Panji berlari ke arah Anggun dan Cakra, "Lo gak papa Nggun?" Tanya Panji dengan nafas yang tidak teratur.
"Ini semua karena lo! Seharusnya lo gak kasi tantangan ini!" Kata Cakra dengan emosi.
Ferni yang melihat keduanya akan bertengkar, "LO BERDUA DIAM!" Teriak Ferni menggunakan mik dengan volume salon yang tidak full, tetapi cukup membuat telinga ngngngngngngngng.
"Mba, mohon jangan membuat keributan." Tegur petugas penjaga kebun binatang.
"Ia pak, maaf." Ucap Ferni dengan sopan.
"Ini pak, terima kasihan sudah meminjamkan. Berkat bapak, taman saya aman." Ucap Ferni pada bapak penjaga monyet, karena sudah meminjamkan mik beserta salon nya.
"Ia, sama-sama." Ucap bapak penjaga monyet itu.
__ADS_1
Selesai urusannya dengan dua penjaga kebun binatang, kakinya melangkah ke arah Anggun, Cakra, dan Panji, yang sudah berjalan ke arah luar.
"Malu-maluin aja lo teriak!" Sambar Panji saat Ferni baru memasuki mobil Cakra.
"Kalau gak gitu, Anggun masi lari, dan lo berdua sudah babak belur!" Sambar Ferni membuat Panji meringis.
"Anggun." Panggil Cakra, sedari tadi Anggun hanya diam saja, dengan pandangannya kosongnya.
"Anggun, apa yang sakit?" Tanya Ferni dengan memegang bahu Anggun.
"Bawa ke rumah sakit." Suruh Panji.
"Oke." Jawab Cakra, dan langsung membawa mobil menuju rumah sakit.
"Gue lapar." Kata Anggun tiba-tiba.
"Hah?" Tanya Cakra dan Panji bersama.
"Gue lapar." Ulang Anggun.
"Ngeri!" Ucap Panji dengan mengelus tangannya sendiri.
"Kenapa?" Tanya Ferni.
"Anggun tuh, tadi diam, sekarang tiba-tiba minta makan." Jawab Panji.
"Gue lapar." Ucap Anggun dengan menaikan satu oktaf suaranya.
"Gue kira kesambat." Cibir Panji dengan pelan, tapi masi bisa di dengar oleh Anggun.
"PANJI, AWAS LO! TUNGGU AJA LO KENA BOGEMAN GUE!" Teriak Anggun.
"Panji, lo mending diam." Suruh Cakra.
Ting.
Ponsel Ferni berbunyi, "Siapa punya nomor ini?" Pikir Ferni, saat mendapatka pesan dari nomor yang tidak di kenal.
+6287109xxxxxx
Ke ER Resto sama taman lo sekarang. Meja no 7.
"Dih, siapa nih? Main suruh-suruh." Batin Ferni, dan meletakkan kembali ponselnya ke dalam tas kecil.
"Siapa?" Tanya Panji.
"I-" Perkataan Ferni yang terpotong.
Ting.
Ferni kembali mengambil hp nya, kemudian membuka pesan dari nomor yang sama.
Ini tentang hama Monik. Basmi? Itu kan yang mau kalian lakukan?
Ferni mengerutkan keningnya, "Tahu dari mana?" Pikir Ferni.
"Makan di mana nih?" Tanya Cakra tiba-tiba.
"ER Resto." Jawab Ferni dengan cepat.
"Kenapa di sana?" Tanya Anggun.
"Ada yang mau bertemu sama kita." Jawab Ferni.
"Siapa?" Tanya Anggun.
"Manusia." Jawab Ferni.
"Gue serius." Kata Anggun dengan menaikan oktaf suaranya.
"Gue juga serius." Jawab Ferni dengan santai.
...----------------...
"Sudah lo rekam?" Tanya orang satu.
"Sudah." Jawab orang dua.
"Ingat, kita tidak boleh sampai di ketahui keberadaannya." Kata orang tiga dengan serius.
"Lo benar." Jawab orang satu dan dua.
"Dia di jadikan bahan taruhan." Kata orang empat yang sedari tadi sibuk dengan laptop nya.
"Dia siapa?" Tanya orang tiga.
"Eli." Jawab orang empat, dengan mengepalkan jari jemarinya.
Bersambung....
__ADS_1