
"Siapa punya flashdisk Cak?" Tanya Panji saat melihat adanya flashdisk di tangan Cakra.
Cakra melihatkan nya pada Panji, "Rio." Jawab Cakra, dan melemparkannya pada Panji.
Panji menangkap flashdisk itu, dan mendapatkan nama pemiliknya, "Rio siapa?" Tanya Panji.
"Gak tahu. Tadi dia ada di kamar mandi sebelah gue. Gue gak lihat mukanya." Jawab Cakra dengan membuka casing hp nya.
"Gue ambil yah, mau pindahkan tugas-tugas dari guru. Sudah numpuk soalnya di hp, bisa-bisa hp gue meledak nanti." Ucap Panji.
"Flashdisk lo ke mana?" Tanya Cakra.
"Di pinjam Ferni untuk nonton film Dono, Indro, Kasino." Jawab Panji.
"Hem. Ya udah, pakai saja. Kalau ketemu orang nya, baru kasi kembali." Ucap Cakra yang sedang memasang kartu memori di hp nya.
"Lo katanya gak tahu orang nya. Mau kasi kembali bagaimana?" Tanya Panji dengan bingung.
"Kasi kembali ke kamar mandi." Jawab Cakra.
"Buat apa? Mending gue pakai aja." Jawab Panji lalu di kantong kan flashdisk nya.
"CK! Siapa tahu kan dia cari." Jawab Cakra dengan mengumpat.
"Terserah." Jawab Panji.
Panji dan Cakra diam, mereka sibuk dengan kegiatan masing-masing. Panji, Cakra tidak duduk di tempat yang sama dengan Ferni, Anggun dan empat orang itu.
"Astojim!" Kaget Cakra saat melihat isi di layar ponselnya.
"Napa lo?" Tanya Panji dengan bingung.
"Lo bawa laptop?" Tanya Cakra pada Panji.
"Tidak." Jawab Panji.
Cakra berlari ke luar menuju parkiran, untuk mengambil laptop di dalam mobil.
"Cakra mau kemana?" Tanya Anggun saat melihat Cakra berlari keluar seperti orang kerasukan. Anggun melangkahkan kakinya untuk mendekati tempat Panji dan Cakra.
"Gak tahu." Jawab Panji, dan melanjutkan bermain Mobile Legends.
"Dia tidak tinggal kan?" Tanya Ferni yang ikut melangkahkan kakinya mendekati tempat Panji dan Cakra.
Panji menegakkan tubuh nya, "GAK TAHU!" Jawab Panji dengan berteriak kemudian berlari keluar sambil berlari.
Ferni dan Anggun memejamkan matanya, kemudian menatap pengunjung yang sedang memperhatikan tempat mereka, "Maaf." Ucap Ferni dan Anggun pada pengunjung.
"Nih Panji gak ada akhlak." Tajam Ferni, dan di angguki oleh Anggun.
"AYO KEJAR MEREKA! Teriak Anggun, dan ikut berlari keluar.
Ferni diam di tempatnya, dengan kepala yang menunduk malu, "Kenapa teman gue gak ada yang beres?" Tanya Ferni dengan pelan.
Ferni mengangkat wajah nya, berusaha menahan malu, "Maaf yah teman saya sepertinya mengalami gejala." Ucap Ferni dengan tidak enak hati, lalu pergi ke luar.
Sampai nya di parkiran, Ferni langsung masuk dalam mobil Cakra, dan menutup pintu nya dengan keras.
Bugh.
"Astaga!"
"Ayam!"
"Astojim!"
"Kenapa?" Tanya mereka dengan kompak, membuat Ferni kaget.
"Lo pada kenapa keluar seperti orang yang melakukan kegiatannya Monyet?" Tanya Ferni dengan nada garangnya.
"Emang kegiatan monyet apa?" Tanya Anggun dengan polos.
"Bergantung!" Sewot Ferni.
"Kita tidak bergantung!" Ucap Panji, Cakra, dan Anggun bersama.
"TAPI BERTERIAK!" Teriak Ferni dengan kesal.
"Lo juga barusan teriak." Ucap Panji dengan menunjuk Ferni.
"Gak usah menjawab!" Bentak Ferni membuat nyali Panji menghilang.
"Sut! Telinga gue sakit." Ucap Cakra.
__ADS_1
"Lo d-" Perkataan Ferni yang terpotong.
"Lo yang diam." Ucap Cakra dengan tegas.
Ferni melotot kan matanya dengan sempurna, tidak suka perkataan Cakra yang baru saja tadi terlontar.
"Awas keluar." Ucap Anggun.
"Gue congkel mata lo!" Tajam Ferni.
"Lo pms kan?" Tanya Panji dengan menunjuk Ferni.
Krek.
"Ah!"
Bunyi jari yang seperti di pelintir terdengar dengan nyaring, di sertakan teriakan merdu milik Panji.
"Jari gue soplak!" Ucap Panji dengan kasar.
"Jari lo gak pantas nunjuk gue." Ucap Ferni, lalu menepuk-nepuk tangannya.
"Sh, terserah!" Balas Panji dengan sewot.
"Hari ini bang Uzi balik?" Tanya Cakra.
"Gak tahu." Jawab Panji, Ferni, dan Anggun kompak.
Cakra mengeluarkan ponselnya, lalu menelpon seseorang.
^^^"Halo bang!"^^^
"Ada apa?"
^^^"Kapan lo pulang?"^^^
"Nanti."
^^^"Besok ketemu di rumah lo yah bang, ada yang ingin gue kasi tahu."^^^
"Hem."
^^^"Bay bang."^^^
Panggilan terputus dengan orang yang di sebrang sana matikan.
"Siapa?" Tanya Panji.
"Bang Uzi." Jawab Cakra.
"Apa yang mau lo kasi tahu?" Tanya Ferni.
"Kepo!" Ucap Cakra, Panji dan Anggun bersama.
"Kampret!" Umpat Ferni.
...----------------...
"Pemilik restoran ini siapa?" Tanya Eli pada seorang pelayan.
"Pak Kevin mba." Jawab pelayan itu.
"Oh, kira-kira sudah berapa lama restoran ini di buka? Saya baru tahu jika ada restoran ini." Ucap Eli.
"Hem, kalau gak salah dari satu bukan yang lalu." Jawab pelayan itu.
"Satu bulan yang lalu?" Tanya Eli.
"Ia, kalau gak salah juga, ini cabang ke sepuluh antar kota." Jawab pelayan itu.
"Sepuluh?" Tanya Eli dengan ekspresi kagetnya.
"Ia." Jawab pelayan itu.
"Wow, hebat." Pikir Eli dengan takjub.
"Kalau gitu saya permisi mba, masi ada pekerjaan yang harus di kerja." Ucap pelayan itu.
"Baik." Jawab Eli, dan pergi dari sana, begitupun dengan pelayan itu.
"Dari mana? Kok lama?" Tanya Abi saat melihat Eli yang berjalan degan melamun.
"Toilet." Jawab Eli.
__ADS_1
"Serius?" Tanya Abi yang sedikit tidak percaya pada Eli.
"Hem." Dehem Eli.
"Ya udah, sekarang makan." Kata Abi.
Mereka makan dengan hening, tetapi pikiran yang kemana-mana, apa lagi Eli.
"Apa karena ini?" Pikir Eli.
"Kia, gue butuh lo, saat nanti tiba di rumah." Ucap Eli melalui batin.
...----------------...
Malam ini, Eli, bang Uzi, dan Davin, sudah sampai di rumah, tepat jam 19.00. Eli membuka ponselnya, dan melihat banyak nya pesan dari Sila.
Sila
Lo dimana?
Cepat ke cafe.
Gue tunggu lo sepuluh menit lagi.
Lo akan menyesal, jika tidak datang malam ini. Camkan itu.
Eli mengerutkan dahinya dengan bingung, lalu mengambil baju untuk pergi keluar nanti.
Tujuh menit berlalu, Eli sudah siap untuk pergi ke tempat yang di tentukan oleh Sila.
"Mau ke mana?" Tanya bang Uzi saat melihat Eli akan keluar begitu saja.
"Sila." Jawab Eli dengan datar.
"Lo? Jaga adik gue baik-baik, Kia." Ucap bang Zidan dengan datar.
Kia? Yah, Kia telah mengambil alih tubuh Eli. Bukankah itu permintaan Eli saat berada di restoran?
"Hem." Dehem Kia, lalu berjalan keluar dari rumah Prayaga.
Kia menaiki motor sport milik Eli dan membawa nya dengan kecepatan di atas rata-rata.
"Mau kemana?" Tanya Monik saat melihat Eli pergi seperti terburu-buru.
Tiga menit telah berlalu, kini Kia telah tiba di cafe tepat waktu.
"Apa?" Tanya Eli, ralat, Kia. Kia bertanya pada Sila yang sedang duduk di meja tengah-tengah ruangan.
Sila menatap Kia sekilas, lalu menunjuk pada dua pria yang sedang duduk di meja paling pojok.
Kia menajamkan pandangannya kemudian mengekspresikan wajah datar saat mengetahui siapa mereka.
Kia berjalan mendekati meja kedua pria itu dengan aura yang dingin, membuat beberapa menatapnya menjadi takut. Sedangkan Sila? Dia sedang menerbitkan smirknya.
"Gue akan jauhi dia, demi Adel. Dan lo jauhi Adel." Ucap orang satu dengan terpaksa.
Orang dua menerbitkan smirknya, "Bagus. Jadi sekarang, Eli adalah milik gue." Ucap orang dua.
Deg.
Anjing.
"Selamat, lo udah hancurkan hatinya, Abdiel Yoga Aldebaran." Ucap Kia dengan datar bersama aura mencengkeramnya.
Dua pria itu melihat Kia yang sedang berdiri, dengan tangan mengepal, matanya terlihat seperti merah darah.
"El...." Ucap orang satu terhenti, saat melihat Kia telah berlari keluar cafe.
"Mau ke mana?" Tanya orang dua dengan memegang bahu Abi.
"Kejar dia otak!" Ucap Abi dengan amarah.
"Lo lupa? Dia sekarang milik gue, dan lo gak perlu ikut campur!" Ucap orang dua, lalu mendorong bahu Abi, kemudian pergi dari cafe itu.
Sila yang sedari tadi duduk tenang, kini berjalan mendekati Abi yang sedang menatap kosong di hadapannya, "Bagaimana?" Tanya Sila pada Abi.
Abi menatap Sila dengan malas, dan hendak pergi menjauh dari Sila.
Sila dengan cepat menghalang jalan Abi, "Yang lo rasa kan sekarang, masih mending dari pada yang di rasakan dia saat ini." Ucap Sila dengan datar. "Lo, hancurkan hatinya, Abi!" Ucap Sila dengan oktaf suara meningkat di akhir kalimat nya.
Selesai mengatakan itu, Sila pergi dari cafe, dan berjalan ke satu tempat, meninggal kan Abi yang termenung.
Bersambung....
__ADS_1