Fait Accompli

Fait Accompli
Chapter 1


__ADS_3

Kim Jennie sebagai Selena



“Kamu seharusnya tahu, jika kamu mencintai seseorang, itu artinya kau harus siap menerima juga yang namanya kecewa, lalu patah.”


Amadea Selena -


Sudah lama sejak hari ini, ia kehilangan dirinya yang dulu. Kau tahu, dia kini menjalani kehidupan yang seakan bukan miliknya. Rasa sakit, kecewa, lalu patah seperti yang sekarang ia rasa, itu selalu membayanginya dari hari ke hari. Tanpa seseorang di sampingnya. Tanpa seseorang yang selalu ada untuknya. Kau tahu kini, ia sangat kesepian.


*Satu tahun yang lalu.


Di halaman rumah keluarga Selena begitu banyak orang-orang yang berkutat dengan kesibukannya masing-masing. Mereka tengah mempersiapkan sesuatu. Sesuatu yang istimewa dan mempersiapkannya seindah mungkin. Semuanya hanya untuk gadis bernama lengkap Selena Amadhea itu.


Namun, kehadirannya tengah ditunggu-tunggu beberapa orang di luar kamar. Mereka sepertinya sudah lama menunggu gadis itu untuk keluar dari kamar.


“Sel... Bunda mohon kamu keluar sekarang.” Jelas kalau suara perempuan yang sedikit berteriak itu adalah suara Ibu Selena, yang sering dipanggilnya Bunda.

__ADS_1


Selena justru memilih menenggelamkan kepalanya ke bantal. Setelah beberapa lama ia seperti itu, ia kemudian menyisikan bantal tersebut ke samping tempatnya berbaring. Tubuhnya menghadap ke samping, matanya menatap ke sebuah bingkai foto yang menampakkan dua orang yang memakai seragam SMA, keduanya tampak bahagia.


“Bagaimana mungkin aku akan menikah denganmu?” Ia bicara sendiri pada bingkai foto tadi. Itu adalah fotonya dengan seseorang yang sebentar lagi akan menjadi suaminya. Wajahnya seolah mengisyaratkan kalau pernikahannya yang direncanakan kedua orang tuanya itu terdengar seperti sebuah hal yang tidak mungkin.


Suara-suara di luar serta ketukan pintu akhirnya membuatnya ingin beranjak dari tempat tidur. Ia meletakkan kembali bingkai foto itu di tempat semula. Tangannya pada akhirnya membuka gagang pintu. Semua yang menunggu di luar menampakkan ekspresi lega ketika Selena keluar kamar.


Di sana Selena menatap satu persatu yang sedari tadi mereka yang menunggu. Ada Bunda, Ayah, dan dua kakak sepupunya yang jauh-jauh datang dari Los Angeles untuknya, Jennie dan Sandra.


“Maaf, tapi bisakah acaranya dibatalkan?” Justru pertanyaan seperti itu yang terlontar dari bibir Selena kepada mereka. Semuanya kembali cemas, karena bagaimana mungkin acara pernikahan itu ditunda sementara semuanya sedang dipersiapkan.


“Selena, dia bukan orang asing untukmu.” Ucap Ayah. “Jadi, Ayah rasa semuanya akan mudah untuk kalian. Dia...”


“Sahabat macam apa yang memiliki perasaan cinta untuk sahabatnya? Iya, kamu mencintainya, Sel. Kamu mencintai Angkasa !” Sekarang Jennie yang bersuara untuk menyadarkan bagaimana perasaan Selena selama ini.


“Kalian tidak mengerti.” Jawab Selena.


Sandra berusaha menahan Jennie agar ia bisa menahan diri, sebab kadang cara Jennie untuk membujuk adik-adiknya sedikit keras. Dan Sandra tidak ingin kalau Selena akan marah di tengah kondisinya sekarang. “Sudahlah, Jen. Selena, acaranya sudah tidak mungkin dibatalkan. Kamu tidak ingin bukan melihat kedua orang tuamu sedih?”

__ADS_1


Selena tidak mampu menatap ke arah kedua orang tuanya yang berdiri di samping Sandra. Bunda bahkan meraih tangan anaknya itu dengan harapan Selena mau menerima pernikahan itu.


“Baiklah.”


Hanya dengan kata itu, suasana yang tadinya sempat sedikit memanas kini menjadi tenang. Selena akhirnya menyerah untuk mempertahankan pendiriannya. Ia hanya ingin mewujudkan keinginan keluarganya, walau ia sendiri tak menginginkannya, tak peduli jika perkataan Jennie benar kalau dirinya memang mencintai Angkasa.


 


Besoknya adalah hari pernikahan mereka yang mana sudah dipersiapkan orang tua Selena dan Angkasa jauh sebelum hari ini tiba. Semuanya tampak sempurna. Gaun dan setelan jas yang dipakai mempelai yang terlihat elegan, kue pengantin yang tinggi dan terlihat indah, hidangan yang menggugah selera, dan dekorasi. Bukan hanya itu, kedua mempelai menjadi pusat perhatian dan tak henti\-hentinya mendapatkan pujian karena keserasiannya dan atas bersatu keduanya dalam sebuah ikatan suci.


 


“Kamu bodoh, kenapa kamu melakukan ini?” Lagi-lagi kata semacam itu keluar dari mulut si mempelai wanita.


“Kamu pikir aku yang melakukannya?” Jawab si mempelai pria dengan nada yang tak kalah dingin dari seseorang yang kini sedang berdiri di sampingnya.


***

__ADS_1


Semoga suka cerita baru ini. Salam manis, Bie.


Next?


__ADS_2