
Om Tirta datang ke kamar itu dan membuat Selena bangun. Kaki beliau tak kuat lagi menahannya, ia berlutut di dekat tempat tidur.
"Ini salah, Om. Maafkan Om."
Selena langsung pergi ke arah Om Tirta. Ia memeluk erat adik kandung Ayahnya tersebut. "Ini bukan kesalahan Om Tirta. Bukan."
"Seandainya Om tidak meminta mereka untuk pergi, mereka pasti masih di sini. Harusnya Om..."
"Bukan..." Selena terus membantah perkataan Om Tirta yang terus menyalahkan dirinya sendiri. "Ayah pasti sedih kalau Om Tirta menyalahkan diri sendiri karena kejadian ini. Ini bukan salah Om, ini bukan salah siapa-siapa."
"Maafkan Om, sayang. Maafkan Om."
Bahkan ini pertama kalinya Selena, bahkan Jennie dan Sandra, melihat Ayahnya sesedih itu. Sandra bahkan menjauh dari kamar itu karena saking tidak kuatnya menyaksikan adegan tersebut.
Angkasa berdiri di luar kamar sambil menatap Selena dari luar kamar, ia sedang bicara dengan Mama dan Papanya.
"Apa sebaiknya kalian tinggal di rumah Papa Mama saja? Biar Mama bisa menemani Selena, dia pasti butuh banyak kasih sayang agar dia tidak merasa terlalu kehilangan." Tawar Mama Angkasa.
Kemudian Papa Angkasa juga angkat suara, "Mama kamu benar. Kalau kalian tinggal dengan kami, Mama kamu bisa menemaninya saat kamu pergi ke kantor. Tinggallah di rumah kami sampai Selena bisa sedikit tenang. Kalau pun dia diam, bukan berarti dia tidak akan menangis histeris seperti kemarin."
Angkasa tersenyum simpul. "Mama dan Papa jangan terlalu khawatir, Angkasa akan menjaga Selena sebaik mungkin. Angkasa sudah berjanji."
Wanita parubaya itu kemudian memegang lengan anaknya. "Kamu harus berjanji akan hal itu. Kamu tidak boleh bersikap kasar ke dia. Kamu harus sabar memberikan pengertian ke Selena. Sekarang ini dia sangat terpukul."
__ADS_1
Angkasa memegang tangan sang Mama. Ia mendengarkan pesan itu baik-baik. "Angkasa pasti memenuhinya."
Malam itu Selena enggan keluar dari kamar orang tuanya tersebut. Jennie dan Sandra memutuskan menemaninya tidur di sana. Mereka tahu kalau Selena takkan bisa tidur nyenyak atau mungkin takkan bisa tidur sama sekali karena hal ini. Mereka yang datang ke kamar itu pun langsung memeluk Selena dan wanita itu berada di antara kedua kakaknya.
"Tidurlah, Sel. Kakak di sini untuk kamu." Lirih Jennie yang sekuat tenaga menahan tangis.
"Malam ini, kita berdua akan menjaga kamu. Seperti dulu waktu kamu tidak bisa tidur." Sekarang giliran Sandra yang bersuara.
Walau jarak usia mereka tak terlalu jauh, namun Jennie dan Sandra sangat dewasa dan selalu menjaga adik mereka dengan sepenuh hati sejak dulu. Mereka juga merasakan kesedihan yang sama di saat salah satu dari mereka merasa sedih. Seperti sekarang, hati mereka juga ikut remuk, apalagi setelah melihat keadaan Selena kini.
***
Hari ini bersamaan dengan keluarganya yang akan kembali ke Amerika Serikat, Angkasa juga membawa Selena kembali ke kediaman mereka. Walau tidak mudah melakukan hal itu karena Selena sebelumnya bersikeras ingin tinggal di rumah Ayah dan Bunda.
Sandra juga berat meninggalkan Selena di sini dengan keadaan seperti ini. "Kakak tahu, ini pasti tidak mudah untuk kamu. Kakak juga ingin sekali membawamu pergi, tapi di sini ada Angkasa yang jauh lebih berhak atas kamu. Kita semua percaya dia bisa menjaga kamu, seperti Om dan Tante yang mempercayakan kamu kepadanya. Kamu harus lebih tegar mulai dari sekarang, jangan membuat Angkasa kesulitan. Kalian harus hidup saling menyayangi dan saling menguatkan."
"Aunty, Nara sayang sama Aunty. Aunty jangan nangis lagi. Nanti Nara juga ikut sedih."
Bahkan anak berumur lima tahun juga bisa mengatakan hal itu. Jennie sepertinya berhasil mendidik Kinara sampai gadis sekecil itu pun bisa bicara seperti orang dewasa. Selena memeluk erat keponakan tercintanya itu seolah tak rela melepaskannya pergi. Ia pasti sangat merindukan Kinara, bahkan ia dan Kinara tak banyak bicara kali ini karena Selena yang terus ingin menyendiri.
"Nara sayang. Maafkan Aunty karena selama kamu di sini, Aunty tidak bisa bermain sama kamu. Aunty juga sayang sekali sama kamu. Aunty pasti rindu sekali sama kamu."
Masih dalam dekapan hangat itu. "Kalau Aunty sedih terus, Mommy pasti juga sedih."
__ADS_1
Selena orang yang sangat beruntung memiliki keluarga seperti ini. Mereka yang saling menyayangi, bahkan ia bisa merasakan betapa ia dicintai Kinara seperti ini. Air matanya tentulah mengalir lagi.
"Selena sayang kalian."
Akhirnya waktu perpisahan tiba dan kini Selena hanya bersama Angkasa di Bandara. Walau ini sangat sulit ia harus merelakan kepergian keluarganya ke Amerika lagi. Selena hanya bisa menenggelamkan wajahnya ke pelukan Angkasa, suaminya. Berulang kali Angkasa menenangkan Selena sambil mengelus pucuk kepala wanita itu.
***
Malam pun tiba dan Angkasa, ia hanya ingin menjaga Selena sampai wanita itu benar-benar tertidur. Angkasa duduk di sofa panjang di sudut kamar Selena.
Jarak diantara sofa ke tempat tidur Selena tak terlalu jauh. Jadi Angkasa bisa mengamati dengan jelas apa yang Selena lakukan. Berbaring memunggunginya, wanita itu sungguh belum berniat untuk tidur. Angkasa tahu itu.
"Sel, tidurlah." Pinta Angkasa.
"Kamu pergi saja. Ini kamarku." Sahut Selena dengan suaranya yang parau.
Angkasa menghela nafas berat, bukan karena ia marah atau kesal, hanya saja ia mengkhawatirkan orang itu. "Tidurlah. Kamu perlu istirahat. Kamu bisa sakit, kamu bahkan tidak mau makan sejak kemarin."
Dan Angkasa tak diberikan tanggapan apapun lagi sekarang. Alhasil Angkasa harus rela berjaga malam itu sampai larut malam, hingga ia tertidur di sofa tersebut.
***
Semoga suka. Salam manis, Bie.
__ADS_1
Next?