Fait Accompli

Fait Accompli
Chapter 17


__ADS_3

Malam itu Angkasa yang kelelahan bekerja sampai larut dan akhirnya ketiduran di meja kerja kantornya. Ia tidur nyenyak sekali sebelum sempat mengabari Selena di rumah. Sekitar jam lima pagi, Angkasa terbangun karena ada panggilan telepon yang masuk. Mata Angkasa langsung terbuka sepenuhnya ketika ia menyadari dimana ia berada.


Ia langsung teringat kepada Selena yang berada di rumah, tapi ia harus mengangkat telepon itu terlebih dahulu.


Seseorang kemudian mengatakan sesuatu yang serius di telepon dan bahkan membuat pria itu begitu terkejut. Bibirnya sedikit bergetar dan lidahnya kelu mendengar kabar duka tersebut. Kabar tentang Ayah dan Bunda, mertuanya, yang menjadi korban pesawat jatuh di perairan Bali.


Setelah sambungan itu terputus, segera Angkasa mengambil jasnya dan keluar dari kantor menuju Bandara untuk kembali memeriksa daftar korbannya. Mobil yang ia kendarai melaju kencang menembus kabut. Selama perjalanan ia terus berharap kalau mertuanya akan baik-baik saja. Itu benar-benar menyakitinya juga. Ia juga sungguh tak berniat memberitahukan Selena sekarang sampai informasinya benar-benar jelas.


Di Bandara itu juga sudah begitu banyak orang-orang yang ingin mengetahui berita anggota keluarganya yang menjadi korban. Suasana Bandara saat itu sungguh kacau dan begitu memilukan melihat dimana-mana orang histeris ketika melihat daftar nama korban. Bahkan ada yang sampai tak sadarkan diri dan situasi seperti itu pertama kalinya Angkasa melihat di depan matanya langsung.


Ya, akhirnya ia menemukan nama Ayah dan Bunda yang tertulis di layar besar, mereka memang menjadi korban. Kaki Angkasa melemah. Ia berlutut disana dan air matanya perlahan jatuh. Yang ia pikirkan saat ini adalah bagaimana caranya ia menyampaikan berita ini ke Selena. Selena yang ia bisa tebak kalau wanita itu sedang menunggu waktu kapan telepon Ayah dan Bunda bisa dihubungi.


Keringat dingin terlihat membasahi wajah pria itu setelah ia menutup telepon yang tadi tersambung ke nomor Ruby. Ia sudah mengetahui dimana keberadaan istrinya, ia sempat khawatir karena Selena tidak ia temukan di rumah. Terlebih ia mengkhawatirkan kalau Selena melakukan hal yang tak terduga ketika mendengar kabar orang tuanya yang sangat ia cintai. Sekarang Angkasa sudah sedikit lega kalau Selena sedang bersama Ruby.


Ia keluar dari rumah dan segera melajukan mobilnya ke tempat yang Ruby sebutkan. Rasanya sangat sulit dan menyakitkan untuk melakukan hal ini bagi Angkasa, terutama ia kenal betul bagaimana Selena yang takkan bisa baik-baik saja mendengar sedikit saja kabar tak mengenakkan, apalagi ini soal orang tuanya.


Dengan segala rasa sulit nan menyakitkan itu, Angkasa harus segera keluar dari mobil dan menemui Selena di dalam kafe. Pria itu akhirnya bisa menemukan dua wanita yang sedang berbincang-bincang. Entah bagaimana cara mengatakannya, Angkasa juga sangat bingung.

__ADS_1


Dengan sigap Angkasa langsung menarik lengan Selena yang sedang duduk dan meraihnya ke dalam pelukannya. Pasti wanita itu kebingungan dengan sikapnya yang begitu tiba-tiba pikirnya. Ia tak peduli, setidaknya ia ingin Selena tak begitu terkejut walau akhirnya hal itu justru membuat Selena semakin bertanya-tanya dan Angkasa juga tak mampu melanjutkan kata-katanya.


Hingga ia pada akhirnya bisa memberitahukan Selena melalui televisi yang menayangkan berita pesawat jatuh yang menjadi berita utama pagi itu.


***


Akhirnya Angkasa memenuhi keinginan Selena untuk terbang ke Bali untuk mencari kabar terbaru dari orang tuanya yang belum ditemukan. Entah bagaimana nasib mereka sekarang, walau pihak Bandara mengatakan kemungkinan besar tak ada korban yang selamat.


Perjalanan selama di pesawat rasanya begitu lama bagi Selena. Berulang kali juga Angkasa dengan sabar menenangkan istrinya. Sikap Angkasa sekarang benar-benar tak terduga, sisi lembutnya bahkan kembali hadir. Seolah ini adalah Angkasa yang dulu, sahabat yang sangat dirindukan Selena.


"Sel, ayolah. Kita akan mencari Ayah dan Bunda dan kamu harus memiliki energi yang cukup."


Dan segala kata-kata suaminya itu tak ia dengarkan sama sekali. Ia sibuk dengan lamunannya sendiri. Sekalipun ia tersadar, pasti Selena bertanya kepada Angkasa dimana orang tuanya sekarang.


"Kamu makan, ya? Sedikit saja."


"Di mana Bunda? Di mana Ayah? Mereka... mereka ada di sini bukan? Angkasa, aku mau bertemu mereka."

__ADS_1


"Sel, tenanglah." Angkasa merengkuh wajah Selena. "Kita akan segera menemukan mereka. Aku tidak mau melihat kamu seperti ini, Sel."


"Mereka baik-baik saja 'kan? Aku ingin memeluk mereka. Mereka tidak boleh pergi jauh."


"Ya, mereka akan baik-baik saja. Jadi, kamu... kamu tenang sedikit kita sebentar lagi mendarat. Kamu harus istirahat dan makan yang cukup, nanti kalau mereka melihat kamu seperti ini, mereka akan sedih."


Wajah cantik itu kembali dibasahi tetesan air matanya yang hangat. Betapa ia sangat merindukan Ayah dan Bundanya dan ia sadar apa yang sedang terjadi saat ini. Ia merasa jiwa dan raganya sudah terganggu akan hal ini. Ia tak dapat berpikir dengan jernih.


"Ah, aku pasti sudah gila." Lirihnya pelan.


Hal itu terdengar menyakitkan di telinga Angkasa. "Jangan bicara seperti itu. Semuanya akan baik-baik saja."


***


Semoga kalian suka. ☺


Next?

__ADS_1


__ADS_2