Fait Accompli

Fait Accompli
Chapter 16


__ADS_3

Ruby akhirnya selesai dengan urusannya, lalu kembali fokus ke Selena. Wanita itu kembali membuyarkan lamunan temannya itu.


"Hubungan kamu sama Angkasa bagaimana? Kalian baik-baik saja 'kan?" Tanya Ruby.


"Ya begitulah. Seperti yang kamu tahu, aku dan dia sudah tidak sama seperti dulu. Dia sibuk dengan urusannya sendiri."


"Aku yakin dia tidak bermaksud, Sel."


Selena kembali menyesap minumannya. Wajahnya juga cemberut mengingat kelakuan Angkasa.


"Tidak bermaksud bagaimana? Dia jelas-jelas membenciku. Entah kenapa dia sebenci itu, padahal aku juga tidak mau semua ini terjadi."


Ruby tersenyum tipis sambil tangannya mengusap-usap tangan Selena pelan. Lalu Ruby tertunduk setelah ia menatap ke arah ponselnya yang terletak di sebelah kiri minumannya.


Sekitar sepuluh menit berlalu dan dua wanita itu tengah membahas hal lain. Seseorang tiba-tiba datang menghampiri mereka berdua. Menarik lengan Selena dan mengagetkan keduanya. Tidak hanya itu, orang itu langsung membawa Selena ke dalam dekapannya. Hangat. Namun, Selena berusaha melepaskannya.


"Maafkan aku."


Jantung Selena berdetak begitu cepat. Suara pria itu, ia jelas sekali mengenalnya. Ia tak mengerti apa maksud dari semua ini.


"Lepas !" Ucap Selena, wanita itu yang masih kebingungan.

__ADS_1


Orang itu seolah tak peduli akan ada orang yang memperhatikan mereka berdua bahkan disana juga jelas ada Ruby. "Kuatlah, aku akan selalu ada di sampingmu. Mulai saat ini, meski kau tak menginginkannya. Sekali lagi, maafkan aku."


Akhirnya pelukan itu melonggar. Selena bisa membebaskan dirinya dengan mudah. "Apa maksud kamu?"


Pertanyaan itu terdengar kalau Selena sudah tidak tahan karenanya. Pria itu sangat aneh.


"Sel..." Pria itu kembali meraih tangan istrinya. Ya, pria itu tak lain adalah Angkasa. Selena menepisnya dan kembali diraih Angkasa. "Mereka..."


Wanita itu semakin dilanda kebingungan yang luar biasa, terutama ketika Angkasa mulai berkaca-kaca dan tak mampu melanjutkan kata-katanya. Tepat saat itu, telinga Angkasa mendengar sesuatu dari arah lain dan ia langsung mengarahkan tangannya agar mata Selena mengikuti arah itu.


Tepat ke arah televisi di kafe tersebut yang menayangkan sebuah berita utama. Dari jarak mereka, suara dari benda segi empat tersebut masih jelas terdengar.


"Apa maksudnya, Sa? Kamu jangan main-main sama aku !"


Dalam siaran berita tersebut menayangkan kalau pesawat tersebut jatuh ke laut karena ada kesalahan saat baru saja terbang.


"Ayah dan Bunda, Sel. Mereka juga menjadi korban di sana."


Kalimat itu membuat dunia Selena seakan menjadi hancur lebur saat itu juga. Kakinya tak kuat lagi menahan tubuhnya. Dengan sigap Angkasa menahannya.


"Kuatlah, Sel."

__ADS_1


Ruby yang juga sangat terkejut dengan berita tersebut. "Sel kamu yang sabar."


"Tidak ! Kamu bohong ! Lagipula pesawat itu jatuh di perairan Bali, mereka bukan pergi kesana, mereka berangkat dari Jakarta bukan dari Bali." Selena benar-benar tak mempercayainya, meski ia tahu kalau orang tuanya memang berencana terlebih dahulu pergi ke Bali untuk menemui rekan bisnis mereka.


"Kamu lupa, mereka memang pergi ke Bali dulu sebelum benar-benar pergi ke Amerika. Kamu tahu sendiri itu."


Pikiran Selena seolah terbuka dan akhirnya tangisnya benar-benar pecah setelah ia menahannya begitu lama. Segera Angkasa meraihnya dalam dekapannya. "Aku harap aku salah, Sel. Tapi aku sudah mengeceknya sendiri ke Bandara. Mereka benar-benar pergi kesana."


"Bawa aku kesana."


"Sel, kamu tenang dulu." Kata Ruby.


"Tidak bisa, By. Ini menyangkut Ayah dan Bunda."


Angkasa melepaskan pelukannya dan menaruh tangannya di pundak wanita itu. "Iya, kita akan kesana setelah kamu tenang dan kamu harus berjanji akan mendengarkan apa yang aku bilang."


Selena segera mengangguk. "Iya, aku berjanji."


***


Semoga kalian suka. ☺

__ADS_1


Next?


__ADS_2