
“Eh, kamu kenapa melihat Ruby sampai tersenyum begitu?” Tegur Selena ke Angkasa yang sedang makan di kantin bersamanya karena pria itu terus memandangi Ruby yang duduk di meja di samping mereka.
“Tidak apa-apa.” Angkasa seolah memang tidak ada apapun yang ia rasakan kini.
“Kamu menyukai Ruby?” Entah itu pertanyaan atau tidak, yang jelas itu terdengar seperti tuduhan yang memang benar adanya.
Mata Angkasa membulat karena ia begitu kaget tak menyangka bahwa sahabatnya akan bicara sesantai itu dan sekencang itu. Bagaimana jika orang yang mereka bicarakan mendengarnya?
“Sssttt !!” Angkasa rasanya ingin menyumpal mulut Selena dengan tangannya. Itu bisa jadi kacau jika Selena menyebarkannya ke orang lain. “Jangan berisik !”
Sekarang Selena merasa menang karena ternyata tebakannya benar. Ia tertawa kencang dan itu membuat Angkasa beranjak dari tempatnya dan bergegas membungkam mulut Selena dengan tangannya. Tingkah mereka berdua menjadi pusat perhatian orang-orang di kantin.
Dua anak remaja itu benar-benar tidak mengerti kalau orang-orang yang sedang menatap itu berpikir kalau hubungan mereka berdua lebih dari hubungan persahabatan.
Bahkan Ruby juga berpikiran begitu.
Di jam pulang sekolah Angkasa bergegas keluar kelas seakan ada hal mendesak yang membuatnya harus meninggalkan Selena yang biasanya pulang bersamanya. Bahkan Angkasa tidak mendengar panggilan Selena yang menanyakan kemana dia terburu-buru.
Selena yang selesai mengemas buku ke tas itu pun bergegas menyusul Angkasa yang begitu saja meninggalkannya.
“Kemana dia pergi? Dia tadi terburu-buru, tapi motornya masih ada di parkiran.”
Gadis itu masih saja sibuk mencari Angkasa yang diketahui memang masih berada di sekolah. Selena kemudian ingat sesuatu, ia pun bergegas pergi ke lapangan basket yang jaraknya tidak terlalu jauh dari parkiran.
Langkahnya terhenti kala menyaksikan dua orang yang berada di tengah lapangan basket. Tebakannya benar, Angkasa memang menemui Ruby yang akan latihan cheers disana, namun hanya ada Ruby dan Angkasa di lapangan itu. Ia bahkan tak berani memasuki lapangan basket itu, seakan garis pembatas di pinggir lapangan itu merupakan garis nyata yang memang tak boleh ia lewati. Dari kejauhan ia hanya bisa menonton apa yang akan dilakukan sahabatnya kepada seseorang yang disukainya, Ruby.
__ADS_1
Ya, Angkasa kini sedang berusaha mengungkapkan perasaannya terhadap Ruby. Lalu Selena, dia hanya sebagai penonton. Dari jaraknya dengan dua orang itu, Selena masih bisa mendengar percakapan mereka, atau bisa dibilang hanya Angkasa yang terus bicara sedari tadi.
“Sekali lagi, tolong pikirkan baik-baik tentang pernyataanku tadi. Kamu punya banyak waktu untuk mempertimbangkannya.” Seutas senyum manis Angkasa terukir di sudut bibirnya. Tapi, Selena yang menyaksikannya justru merasa hatinya teriris. Perih. “Lega rasanya aku bisa mengatakan bahwa aku mencintai kamu, Ruby.”
Ruby masih saja tak memberikan jawaban. Bibirnya mengatup begitu rapat. Seolah memang takkan memberikan tanggapan apapun. Angkasa bisa memaklumi hal itu, mungkin Ruby terkejut, pikirnya.
Ruby akhirnya menyadari kehadiran Selena di pinggir lapangan. Lalu beralih menatap Angkasa. “Aku tidak bisa.”
Otomatis Angkasa tersenyum masam. “Kenapa?”
Ruby, gadis itu, dia selama ini mengira kedekatan Angkasa dengan Selena itu lebih dari sekedar sahabat. Tapi kini Angkasa justru berdiri di hadapannya dan menyatakan perasaan terhadapnya. Hatinya bimbang, apa anggapannya dan teman-temannya salah terhadap hubungan mereka, pikirnya.
“Karena aku memang tidak bisa.”
Selena yang mendengar penolakan Ruby itu pun tak kalah terkejut dengan jawaban Ruby. Karena ia pikir Ruby akan menerima Angkasa, seseorang yang baik dan tidak pernah ada catatan negatif di sekolah.
Angkasa tidak dapat berkata apapun lagi. Dia tidak dapat memaksa. Bahkan dia merasa kalau tindakannya cukup nekat, menyatakan cinta kepada seorang gadis yang selama ini hanya bisa ia ajak bicara jika mereka bertemu di pertandingan basket dan Ruby menjadi pemandu soraknya. Bahkan di kantin sekalipun, dia tidak menyapa gadis itu.
Ruby meninggalkan Angkasa yang masih di tengah lapangan. Ruby pergi dan sepertinya rencananya untuk latihan cheers sore itu batal.
***
Keesokan harinya, pagi itu Selena datang ke sekolah tapi ia langsung pergi ke kelas Ruby yang letaknya di lantai atas dari kelasnya. Beruntunglah orang yang ia cari memang sudah datang.
“Bisa bicara sebentar?” Kata Selena yang masuk begitu saja ke kelas Ruby.
__ADS_1
“Ada apa?” Tanya Ruby.
“Soal Angkasa.”
Kontan saja Ruby meneguk salivanya susah payah. Ia benar-benar khawatir jika Selena menemuinya itu karena tidak terima atas apa yang telah dikatakan Angkasa kemarin padanya.
“Kenapa dengan dia?” Ruby seolah tak mengerti kemana arah pembicaraan Selena.
“Kenapa kamu menolaknya begitu saja? Dia bahkan memberikanmu waktu untuk mempertimbangkannya.” Itu adalah kalimat yang tak pernah terlintas di pikiran Ruby. Apa itu artinya Selena memang tak memiliki perasaan apapun terhadap Angkasa?
“Tapi...”
“Maaf jika aku ikut campur. Tapi, aku tidak bisa melihat sahabatku patah hati seperti kemarin. Dia bahkan tidak bicara apapun setelah kamu pergi.”
Itu jelas sekali terdengar di telinga Ruby kalau Selena menyatakan bahwa dirinya dan Angkasa hanya sebatas sahabat. Ruby mengukir senyum simpul, karena ia sedikit lega dan sebenarnya ia pun memiliki perasaan yang sama terhadap Angkasa.
“Tidak apa-apa, Sel. Aku juga kemarin mengaku salah sudah menolaknya begitu saja. Aku hanya takut jika dia hanya akan bermain-main, kita bahkan tidak dekat.”
“Jadi, apa kamu mau mempertimbangkannya kembali?” Tanya Selena. Ruby diam sejenak, lalu akhirnya mengangguk. Dia akan mempertimbangkannya, ah tidak, mungkin Ruby akan menerima Angkasa langsung.
***
Semoga suka. Salam manis, Bie.
Next?
__ADS_1