Fait Accompli

Fait Accompli
Chapter 30


__ADS_3

Es krim dengan ukuran paling besar sudah berada di hadapan Selena, tepatnya di tangan Angkasa. Ini adalah permintaan maaf paling ampuh, pikir Angkasa saat bingung mencari cara agar dimaafkan. "Ah, apa ini tidak berhasil?"


Pria itu terlihat lesu. Kemudian Selena mengambil es krim itu dan membawanya ke kamar. Senyum Angkasa akhirnya merekah. Ia tahu sahabatnya itu pasti tak tega melihatnya jika harus merangkak untuk mendapatkan maafnya. Tanpa menoleh atau mengucapkan terima kasih, Selena pergi dari hadapan Angkasa. Dan tanpa Angkasa tahu bahwa wanita itu tersenyum penuh kemenangan sekarang.


Di tengah asiknya Selena menonton film, Angkasa menerobos pintu kamar dan langsung mendaratkan tubuhnya di kasur. Lantas Selena yang duduk di sofa sambil memakan es krim itu beranjak tak terima dengan ulah Angkasa.


"Hei, apa yang kau lakukan?" Selena menyeret kaki pria itu sekuat tenaga. Angkasa tak peduli dan masih memeluk guling Selena.


"Aku mau tidur. Menurutmu apa?" Jawab Angkasa. Jawaban itu membuat Selena ingin memakannya hidup-hidup rasanya karena saking mengesalkan.


"Tapi ini kamarku ! Kau sudah tidak waras?" Sekarang wanita itu masih bersikeras menarik lengan Angkasa. Namun, tetap saja ia tak mampu mengusir pria yang telah menjajah kamarnya.


Kemudian Angkasa mengubah posisi menjadi duduk. Wajahnya yang tersenyum jahil membuat Selena semakin kesal saja. "Tapi aku suamimu dan ini juga kamarku."


Selena menyerah, tampaknya Angkasa benar-benar sudah kembali. Angkasa yang begitu jahil dan selalu membuatnya kesal. Alhasil, wanita itu hanya melepaskan cengkraman di lengan kiri Angkasa dan berniat pergi keluar dari kamar. Tapi, pria itu dengan sigap menahan Selena. Angkasa bangkit dan berdiri di hadapannya.


"Jangan menemui siapa pun tanpa sepengetahuanku. Jangan menemui pria lain, siapa pun itu. Jangan tersenyum dan tertawa bersama pria lain lagi. Jangan membahas pria lain."

__ADS_1


Selena terdiam, mencoba memahami kata demi kata yang diucapkan suaminya, Angkasa. Seketika di hatinya muncul sebuah harapan akan cinta tak lagi bertepuk sebelah tangan. Berharap suaminya itu mulai mencintainya, walau sedikit saja. Dan yang paling tak ia pahami dari semua ini, mengapa ia hanya terus diam dan membiarkan Angkasa terus bicara. Tapi, ia menyukainya.


***


Sepeninggal Angkasa yang beberapa jam lalu mengantar Selena ke rumah keluarga Bachtiar. Kini ada dua wanita yang sedang asik berbincang di tengah kegiatan mereka. Bahkan mereka masih tetap berkonsentrasi membahas sesuatu ketika memasak.


"Mama senang kalian sudah sehangat dulu lagi. Mama juga sangat bersyukur memiliki menantu seperti kamu, Sel. Akhirnya impian Mama terwujud memiliki anak perempuan seperti kamu."


Sekiranya itulah yang terucap dari mulut wanita parubaya tersebut. Kebahagiaannya bahkan bisa dikatakan tak cukup diutarakan dengan kata. Melihat anak dan menantunya bahagia seperti dulu, itu sudah cukup. Terlebih setelah tragedi yang pernah menimpa menantu puterinya tersebut.


Selena menghentikan aktivitasnya sejenak sambil memandangi wajah teduh mertuanya tersebut. Ya, dia tidak sendiri, meski Bunda telah tiada, tapi di sini masih ada mertua yang ia sebut Mama sebagai sosok Bunda dalam wujud berbeda.


Baik Selena dan Mama mertuanya, mereka saling melempar senyum. Mama berusaha menjadi tempat bagi Selena dan selalu meyakinkan Selena kalau Bunda tak pernah benar-benar meninggalkan anaknya. Bahkan sekarang bisa dikatakan Mama menjadi tempat belajarnya juga di dapur.


"Oh iya, kamu mau dengar cerita Mama tidak?" Tiba-tiba Mama mengatakan hal itu dan tentu saja membuat menantunya tersebut penasaran.


***

__ADS_1


"Kamu bicara apa saja tadi di rumah dengan Mama?" Tanya Angkasa di sela-sela keheningan perjalanan mereka pulang ke rumah. "Sepertinya seru sekali."


Selena terkekeh sambil tangannya bersekedap karena AC mobil itu cukup dingin untuknya. "Tentu saja seru sekali. Tapi aku tidak akan menceritakannya kepadamu."


Angkasa menoleh sejenak. Kemudian beralih menekan tombol AC karena menyadari kalau Selena kedinginan. "Kenapa? Kalian membicarakanku?"


Selena hanya tertawa kecil dan Angkasa membiarkan Selena menggodanya seperti ini. Berbagai obrolan telah mereka lakukan selama saling mengenal sebagai sahabat, namun obrolan seperti ini, membicarakan rencana ke depan, memasak bersama Mama Angkasa yang sekarang juga telah menjadi Mama Selena, atau menunggu Angkasa pulang dari kantor, semua itu tak pernah terbayangkan sebelumnya.


"Sa, bagaimana kalau nanti kita melihat bintang pakai teleskop kamu dari atas balkon?" Ajak Selena.


"Baiklah. Tapi tidak malam ini. Langitnya sedikit mendung." Jawab Angkasa. "Tidak apa-apa?"


Selena mengangguk setuju. "Oke, kau sudah berjanji."


Mereka masih bisa sehangat dulu, meski harus melewati problema kemarin. Nyatanya, keduanya masih bisa saling melempar canda dan akhirnya tertawa bersama.


***

__ADS_1


Semoga suka. Salam manis, Bie.


Next?


__ADS_2