
"Kemarilah, coba kamu lihat di sana ada bintang yang begitu terang. Sangat indah."
"Terang sekali, cantik."
"Kita bisa melakukannya kapan pun kau mau."
"Meski kau sedang sibuk berkencan dengan berkas-berkas kantormu?"
"Tentu saja. Kau bisa menyeretku."
Obrolan-obrolan di antara dirinya dan Angkasa masih saja berputar dalam ingatan. Tubuh lelahnya bersandar di bahu kursi mobil. Sesuai kemauannya, sopir keluarganya sudah menunggu di depan gerbang dan membawanya pergi ke rumah Ayah Bunda di tengah malam. Benar, Selena meninggalkan Angkasa yang masih terlelap. Ia benar-benar tak menyangka jika akhirnya kembali ke rumah ini dengan keadaan yang dialaminya saat ini.
"Kenapa Non Selena ingin dijemput? Juga apakah Mas Angkasa mengetahuinya?" Tanya penjaga rumah ini, Pak Danu yang telah bekerja bersama keluarga Selena sejak mereka pindah kemari.
__ADS_1
Selena hanya tersenyum sendu. "Mas Angkasa sedang sibuk, Pak."
Pak Danu cukup mengerti. "Non Selena kalau ada masalah bisa cerita ke orang lain, jangan hanya disimpan sendiri. Pak Danu bisa sedikit mengerti bagaimana perasaan Non Selena yang beberapa waktu kemarin mengalami masa sulit."
"Iya, Pak. Terima kasih karena masih sangat peduli dengan Selena."
Di kamar yang sudah lama ia tinggalkan, Selena hanya meringkuk sambil memandangi fotonya bersama mendiang Ayah dan Bunda. Selena tak lagi menangis, tapi hatinya tetaplah hancur. "Selena tidak menyalahkan kalian, sungguh. Hanya saja ini memang salah Selena yang memiliki perasaan kepadanya, jika saja perasaan ini tidak ada, mungkin Selena... akan baik-baik saja."
Selena tak dapat tidur dengan nyenyak, sebab tak lama matanya terlelap segala kenangan bersama Angkasa berpendar dalam mimpi. Menyakitkan.
Di setiap sudut rumah telah ia jelajahi, namun sosok Selena tak kunjung ia temukan. Rasa sesak dan sesal menjalar ke sekujur tubuhnya. Kemudian pria itu berlari mencari ponselnya ke kamar. Memeriksa jadwal penerbangan ke Amerika Serikat, Selena kemungkinan besar akan pergi ke sana berhubung semua keluarganya tinggal di sana. Ia akan menghadapi apapun di sana, meski Om Tirta akan marah besar terhadapnya, meski Jennie dan Sandra akan mengusirnya, tapi ia harus membawa kembali Selena.
"Tidak, Selena pasti belum pergi. Masih ada kemungkinan kalau aku akan menemukannya di Bandara."
__ADS_1
Kini Selena telah berada di sebuah taksi menuju Bandar Udara pagi ini. Semua perlengkapan telah berada di tas dan bahkan angin pagi ini seakan bersekongkol mengingatnya pada wajah Angkasa yang ceria di masa SMA. Bagaimana pria itu banyak miliki stok senyuman yang begitu membius. Ia telah merindukan Angkasa, sangat, meski baru beberapa jam ia pergi.
Selena keluar dari taksi dan memandang langit yang tampaknya akan cerah hari ini, tapi itu bukan untuknya. Ia tersenyum tipis. Selagi sopir mengeluarkan koper, mata Selena melebar dan bibirnya bergetar. Ia tak tahu harus berbuat apa.
***
Mungkin beberapa belas jam kemudian pikiran Angkasa hanya akan tertuju kepada Selena, seperti saat ini karena ia tak menemukannya baik di Bandara maupun di pesawat. Jika saja ia memiliki sedikit lagi waktu, ia berniat ingin menggeledah seisi Bandar Udara hanya demi Selena. Dan satu-satunya harapan sekarang ialah di Amerika, ia hanya terus berdoa agar bisa melihat wajah itu lagi.
Namun Selena benar-benar masih tak percaya dengan siapa yang di hadapannya kini. Orang yang memergokinya ketika ingin terbang ke Amerika dan menyeretnya ke kafe terdekat dari Bandara.
***
Semoga suka. Salam manis, Bie.
__ADS_1
Next?