
Angkasa tercekat, ia sempat merutuki dirinya sendiri mengapa ia justru terus memberi Selena luka bukannya bahagia seperti dulu. Ia bisa melihat bagaimana Selena bersikeras ingin ikut pergi meninggalkannya, lantaran dia sekarang menjadi penyebab luka. "Sel, sudahlah. Mereka sudah pergi. Kamu bisa hubungi Bunda dan Ayah kapan pun kamu mau. Kamu bisa video call sama mereka."
Selena melepas dekapannya dengan Angkasa. Selena berlari keluar dari Bandara, ia berlari di kerumunan orang banyak dan membuat Angkasa sedikit kewalahan. Untung saja Selena bisa ia temukan sebelum wanita itu pulang menaiki taksi.
"Ikut !" Kata Angkasa ketika menarik tangan Selena. Selena terus berusaha melepaskan cengkraman Angkasa di lengannya.
"Sakit, Angkasa !" Angkasa benar-benar tak menghiraukan jeritan istrinya. Hingga akhirnya Selena sudah berada di dalam mobil bersamanya, barulah ia membuka mulutnya lagi.
"Maaf. Tapi kamu harus pulang bersamaku. Sekarang aku adalah..."
"Apa? Tanggung jawab kamu? Iya?"
Selena memotong omongan suaminya, sebelum pria itu menyelesaikan kalimatnya. "Sejak kapan kamu anggap aku sebagai tanggung jawab kamu?"
Angkasa mulai mengemudikan mobilnya keluar dari area Bandara. Ia masih belum menjawab pertanyaan Selena yang dilemparkan kepadanya dalam suasana hati kacau. Tepatnya, Angkasa tidak tahu harus berkata apa.
Di sepanjang jalan mungkin tak sepenuhnya diisi oleh kesunyian lagi sekarang, melainkan memperdengarkan isakan kecil Selena yang masih belum merelakan kepergian kedua orang tuanya. Ia begitu terpukul.
__ADS_1
Pria itu sesekali melirik ke samping dan ia mendapati Selena yang pipinya basah sambil memegangi liontin yang dipakainya. Meski Angkasa juga pertama kali melihat Selena memakai liontin itu, tapi ia bisa menebak kalau itu pemberian Bunda.
"Kamu mau makan dulu?" Tanya Angkasa.
Sejak saat hari pernikahan, inilah hari dimana Angkasa begitu banyak bicara dengan istrinya dan ia sendiri yang memulai.
"Kita bisa mampir dulu ke tempat makan, kamu pasti belum sarapan."
"Sel, hapus air matanya."
Entah itu benar-benar rasa peduli Angkasa terhadapnya atau hanya kepura-puraan, sekarang Selena tidak bisa membedakannya. Bahkan hal sekecil itu baginya untuk orang yang sedang menyetir di sampingnya sekarang sudah terasa asing. Ia tak mengenal orang itu lagi.
Dan akhirnya Selena merespon. "Ke rumah."
Dan meski hanya kata itu. Singkat sekali. Selena terlihat sangat malas menjawabnya dengan wajah sembab.
Sesampainya di halaman rumah. Tanpa dikomando, Selena langsung turun dari mobil tanpa perlu menunggu Angkasa untuk membukakan pintu mobilnya. Ia bergegas masuk ke dalam rumah. Angkasa kemudian menyusul karena masih ada yang ingin ia katakan pada wanita itu.
__ADS_1
Selena cepat sekali jalannya dan telah masuk ke dalam kamarnya dan dikunci. Angkasa mencoba mengetuk pintu kamar itu berharap Selena bersedia membukakan pintu untuknya.
"Sel, buka pintunya !"
Selena enggan memberikan jawaban apapun. Ia heran mengapa hari ini Angkasa berakting sangat bagus untuk pura-pura peduli terhadapnya, pikir wanita itu. Ia bisa dibilang muak, karena ini hanya sementara dan Angkasa kemudian pergi lagi setelah ia bersikap lembut. Seperti tadi pagi ia salah menyangka bahwa Angkasa yang dulu masih ada. Namun ia justru dibentak dan dikasari pria itu.
"Aku hanya mau bilang, kamu harus makan. Setidaknya kamu bisa membuktikan pada Ayah dan Bunda kalau kamu bisa hidup dengan baik."
Setelah mengatakan itu kepada Selena, Angkasa pun kembali ke kantor.
Malamnya, Angkasa yang sebelumnya mengatakan sebagai tanggung jawab Selena justru pulang larut malam seperti biasanya. Tak memberi kabar atau menanyakan kabar Selena di rumah. Membuat wanita itu merasa begitu kesepian. Ia masih belum bisa menghubungi kedua orang tuanya yang masih dalam perjalanan.
"Dia memang tidak bisa diandalkan. Baru saja mengatakan aku tanggung jawabnya, tapi dia sudah melupakan itu. Tidak memedulikanku, dia hanya bisa mengoceh takut aku kenapa-kenapa, tapi dia tidak benar-benar menjagaku."
***
Semoga suka. Salam manis, Bie.
__ADS_1
Next?