
Dari perasaan yang harusnya seperti kupu-kupu beterbangan kala masa-masa putih abu-abu itu, justru memang hanya menjadi kata “harusnya”. Bertahun-tahun lamanya Selena merasakan sakit yang tertahan setiap kali melihat Angkasa dengan Ruby.
Bahkan setelah perpisahan Angkasa dengan Ruby, tempat kosong itu bahkan masih tak mampu ia tempati. Betapa sedihnya Angkasa yang dulu kehilangan Ruby, Selena pun tak sanggup melihatnya. Selena juga tak mengetahui alasan mengapa mereka berdua berpisah, bahkan sampai sekarang. Sampai mereka bertemu kembali sebagai seorang atasan dan pegawai di kantor Angkasa. Sampai Selena sekarang tinggal di sisi Angkasa, bukan lagi sebagai sahabat melainkan sebagai seorang istri.
Kini Selena menatap pantulan dirinya di cermin. Ia sudah siap untuk pergi ke rumah orang tuanya bersama Angkasa seperti permintaan Ayah dan Bunda. Sayangnya momen yang dinanti-nantikannya itu harus diiringi dengan kenyataan bahwa itu adalah makan malam perpisahan dari mereka sebelum pergi ke Amerika Serikat.
“Sudah selesai?” Tanya seseorang yang tiba-tiba muncul di ambang pintu kamar. Selena sepertinya enggan menoleh. Ia masih betah mengatup mulutnya dan beranjak untuk mengambil tas.
Bahkan Selena berjalan melewati Angkasa yang menunggunya di ambang pintu tadi. Pria itu heran, namun sejenak kemudian ia mengerti apa sebabnya. Ia tak memiliki kata-kata untuk Selena, meski hanya sekedar menghiburnya, meski hanya bersikap berpura-pura manis sebentar saja, itu pun tak ia lakukan. Dan Selena juga tak memedulikan hal itu.
Mereka akhirnya tiba di kediaman orang tua Selena setelah melewati perjalanan penuh kebisuan di antara keduanya. Sebelum Selena membuka pintu mobil, tangan Angkasa menahan tangannya. Suaminya itu tak mengatakan apapun, hanya saja Angkasa segera keluar dari mobil dan membukakan pintu untuk Selena. Untuk pertama kali setelah mereka menikah.
Tidak sampai di situ, Angkasa bahkan meraih tangan istrinya agar mereka bisa bergandengan. Selena sempat menepisnya, namun Angkasa kembali meraihnya. Selena merasa ini bukan saat yang tepat untuk terlihat romantis di hadapan mereka yang menanti di dalam.
“Tersenyumlah sedikit, jangan membuat mereka khawatir.” Kata Angkasa yang entah itu didengar atau tidak oleh Selena.
Ayah dan Bunda tampak bahagia menyambut kedatangan anak dan menantu mereka. Saat Bunda memeluk Selena, Ayah juga memeluk Angkasa. Saat itu kebisuan Selena mereda, ia tak tahan untuk tidak membalas kata rindu dari Bunda.
“Selena juga rindu Bunda.” Balasnya dengan suaranya yang begitu rendah dan lebih terdengar menahan tangis. Bunda tak ingin membahas itu, beliau sendiri juga sama seperti puteri tercintany itu yang sama-sama menahan kesedihan.
“Ayo kita masuk ! Bunda sudah memasak makanan kesukaan kalian.” Ajak Ayah yang berusaha menetralkan suasana.
__ADS_1
Setelah makan malam selesai, Angkasa dan Ayah bahkan begitu akrab membahas sesuatu. Bahkan suaminya itu terlihat beberapa kali terkekeh pelan, ia tak mengerti apa yang dibahas Angkasa dengan Ayahnya sekarang. Selena hanya duduk diam di samping Angkasa.
Wanita muda itu kemudian mencari keberadaan Bundanya di kamar. Benar, beliau ada di sana. Selena tersenyum menghampiri beliau.
“Bunda lagi apa?” Sapanya.
“Ini Bunda baru saja mau keluar eh kamu sudah di sini. Bunda tadi ambil ini.” Bunda menunjukkan liontin yang sangat indah.
“Ini punya Bunda?” Tanya Selena. Bunda tersenyum, lalu menggeleng pelan. Lalu beliau langsung memakaikannya ke leher puterinya tersebut.
Selena mengerutkan keningnya. “Ini buat aku?”
Ternyata liontin itu sama seperti yang dipakai Bunda.
“Selena mau ikut !” Akhirnya Selena mengatakannya. Ia tahu kata-katanya itu bisa saja membuat Bunda sedih. “Selena tidak ingin berpisah jauh dari kalian. Selena sayang Bunda sama Ayah.”
Bunda memeluk Selena, berusaha menenangkan gundah di hati gadis manisnya itu. “Kita juga sangat berat meninggalkan kamu. Tapi mau bagaimana lagi, ini di luar rencana. Papamu pasti sudah cerita alasan kami pergi, kamu sudah dewasa dan pasti mengerti keadaan ini. Kamu sudah menjadi tanggung jawab Angkasa, sayang.”
Lagi dan lagi alasan itu yang didengar Selena. Selena sudah jenuh mendengarnya. “Kalau kalian pergi, Selena benar-benar merasa hidup sendiri di dunia ini. Katanya kalian ingin melihat Selena bahagia, tapi kenapa kalian pergi? Selena bisa melakukan apa saja asal kalian tetap di sini.”
Bunda yang masih memeluk puterinya itu berusaha memberi pengertian lagi. “Hanya sebentar saja, kita pergi hanya sebentar sayang. Ya?”
__ADS_1
Selena melepaskan pelukan sang Bunda. Ia menatap nanar Bundanya. Ia bukan lagi anak kecil yang akan percaya kata-kata itu, tapi dengan melihat wajah Bunda membuatnya tak tega untuk bersikeras menahan kepergian mereka. Ia hanya mampu memberikan senyum termanisnya, meski begitu sulit.
“Iya, Bun. Selena ikhlas kalian pergi.”
***
Pasangan pengantin baru itu akhirnya sampai di kediaman mereka dan lagi-lagi setelah menempuh perjalanan penuh kebisuan di antara mereka. Selena masuk lebih dulu dibanding Angkasa. Sekarang mereka akan kembali ke aktivitas saling diam-diaman entah sampai kapan itu akan berakhir.
Angkasa menaiki satu demi satu anak tangga untuk sampai di kamarnya. Sebelum tangannya memutar gagang pintunya, langkahnya terhenti ketika mendengar isakan kecil dari kamar yang tepat ada di sebelah kamarnya. Tanpa ragu ia masuk ke kamar Selena yang memang tak dikunci.
Selena masih menunduk bersandar di samping tempat tidur dan tidak menyadari kehadiran Angkasa. Isakan tangis yang ia tahan akhirnya tumpah saat ini. Angkasa duduk di sampingnya dan merangkul bahu Selena sambil mengusap-usapnya.
“Tenanglah, semua akan baik-baik saja. Jangan terlalu lama menangisnya, kamu harus istirahat.”
Selena mungkin terkejut dengan kepedulian Angkasa saat ini, namun ia hanya bisa berusaha menenangkan dirinya sendiri sambil berusaha menghentikan tangisnya yang pecah. Lalu Angkasa, dia terus menemani Selena sampai ia benar-benar merasa lebih baik.
***
Semoga suka. Salam manis, Bie.
Next?
__ADS_1