Fait Accompli

Fait Accompli
Chapter 15


__ADS_3

Pagi itu Selena keluar dari kamar ingin ke dapur untuk mencari makanan. Perutnya terasa lapar karena memang dari kemarin dia sama sekali tidak menyentuh sedikitpun makanan. Setelah menemukan roti dan selai nanas kesukaannya, ia pun melahapnya. Baru beberapa gigit, ia tersadar kalau ponselnya masih berada di kamar.


Selena pergi ke kamar sebelum membereskan bekas makannya karena ia akan kembali ke tempat itu nanti. Ia tak sabar ingin menghubungi Ayah dan Bunda. Ia keluar dari kamar setelah menemukan yang ia cari. Baru beberapa langkah, ia menyadari satu hal.


Kakinya terhenti dan matanya melirik ke arah tersebut, mencoba memastikan sesuatu yang ia lewati. Benar. Pintu kamar Angkasa sedikit terbuka. Selena tampaknya penasaran, ia sedikit menilik ke dalam kamar tersebut hingga kemudian ia membuka lebar pintunya.


"Kemana dia pagi-pagi sudah nggak ada di kamar?" Gumam Selena. "Apa dia nggak pulang tadi malam?"


Wajah Selena semakin muram akibatnya. Ia sangat kecewa kepada sosok pria yang kata orang itu adalah suaminya. Kepada dia, Angkasa, ia menaruh kecewa bukan karena ia merasa diabaikan, melainkan Angkasa tidak menepati janjinya kepada Ayah untuk menjaga dirinya. Selena merasa kasihan kepada sang Ayah yang begitu mempercayai Angkasa saat ini.


Rasa kecewa, marah, sedih itu akhirnya bersatu dalam kepalan tangan Selena. Matanya sekuat mungkin untuk tidak meluapkan air mata, itu hanya sebuah kesia-siaan, pikir Selena saat itu.


Selena keluar dari kamar Angkasa dengan bermacam-macam perasaan yang menyusahkan dirinya. Menyusahkan otaknya untuk berpikir keras apakah Angkasa yang dulu masih ada atau memang benar-benar sudah menghilang. Sebab ia masih belum memahami mengapa Angkasa memajang foto pernikahan mereka di kamarnya, padahal Angkasa terlihat membenci keadaan ini.


Wanita itu kembali ke meja makan yang mana disana masih bisa didapati sepotong roti dengan beberapa bekas gigitan. Tampak raut wajah Selena semakin murung. Panggilan teleponnya tak tersambung ke orang yang dituju. Padahal ia sudah rindu berat.


Ia menghela napas beratnya. Sudah tak ada niat lagi untuknya menghabiskan sisa roti dengan selai nanas itu. Selena kemudian membereskan sisa sarapannya tersebut setelah mengirim pesan teks kepada seseorang.


Di sebuah kafe, Selena menunggu orang itu. Hanya menunggu sekitar lima menit, orang itu akhirnya datang. Selena tampak senang. Akhir pekannya akhirnya tak seburuk itu karena ia sekarang memiliki teman untuk menemaninya hari ini, sambil menunggu Ayah Bundanya bisa kembali dihubungi.

__ADS_1


Selena melempar senyum khasnya yang sangat manis. Orang itu pun membalasnya. "Akhirnya kamu datang juga."


Orang itu kemudian duduk di depan Selena. "Iya, aku juga bingung hari ini mau pergi kemana."


Orang itu adalah Ruby, sekretaris Angkasa, sekaligus teman Selena dan Angkasa sejak SMA, lebih tepatnya adalah mantan dari Angkasa, suami Selena saat ini. Selena tidak tahu lagi siapa lagi yang bisa ia ajak bicara disini selain Ruby, bahkan Angkasa belum juga pulang ketika ia hendak berangkat ke kafe. Benar-benar keterlaluan.


"Maaf ya aku terlambat." Ucap Ruby.


"Tidak apa-apa. Cuma lima menit." Jawab Selena.


Ruby memperhatikan wajah Selena, ia penasaran di balik senyuman semanis itu seperti ada sesuatu yang tersembunyi, sesuatu yang disembunyikan Selena, temannya itu.


"Oh iya Sel, kamu sudah hubungi Ayah sama Bunda kamu?"


Selena terdiam. Ia mengangguk pelan disertai perubahan raut wajah menjadi murung. "Sudah, tapi ponsel mereka masih belum aktif."


Ruby meraih tangan Selena. "Sabar, ya. Mungkin ponselnya masih mati atau mereka kelelahan setelah perjalanan panjang."


Selena mengangguk. "Terima kasih ya By sudah mau menemaniku di sini, padahal kamu lagi sibuk pasti."

__ADS_1


"Santai. Kantor lagi tidak sibuk." Jawab Ruby santai sehabis menyesap jus jeruknya.


Selena menautkan alisnya. "Kantor lagi tidak sibuk?"


Ruby menganggukkan kepalanya untuk menegaskan. Kontan saja pikiran Selena langsung tertuju ke arah Angkasa. Untuk apa pria itu lembur di kantor, bahkan di akhir pekan seperti sekarang. Angkasa benar-benar tidak bertanggung jawab sebagai seorang suami, dia bahkan tak memberi kabar kalau dia tidak pulang.


"Kenapa Sel?" Tanya Ruby yang melihat Selena melamun.


Akhirnya lamunan itu buyar. Selena hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Entah mengapa ia malas membahas Angkasa kepada Ruby saat ini. Ia takut pikirannya akan semakin kacau.


Ponsel Ruby berdering. Wanita itu mengangkatnya dan sudah pasti Selena mampu mendengarkan jawaban Ruby tanpa ia tahu siapa dan apa yang sebenarnya mereka bahas lewat sambungan telepon tersebut. Yang didengar Selena hanya kata "iya", "ada apa", lalu mengatakan keberadaanya saat ini.


Selena hanya kembali memikirkan apa yang sedang ia jalani saat ini. Apakah nasibnya memang harus menyedihkan seperti ini? Apakah ia tak bisa bahagia seperti dahulu? Ia sangat menginginkan hal itu. Sangat.


***


Semoga suka. Salam manis, Bie.


Next?

__ADS_1


__ADS_2