
Sesuai rencana, kini Selena telah menunggu balasan pesan dari Angkasa. Dia memang belum mengatakan mengenai makan siang bersama, karena Selena ingin menghubungi suaminya jika sudah jam istirahat dan juga berhubung restorannya dekat dengan perusahaan Angkasa.
Wanita itu hanya menunggu dengan sabar tanpa memesan apapun, Angkasa memang tidak bisa ditelepon sekarang, untuk itu pula Selena hanya mengirim pesan singkat. Ia juga tak sabar bagaimana melihat reaksi suaminya jika mengetahui bahwa mereka sebentar lagi akan menjadi orang tua. Angkasa yang kadang kekanak-kanakan dan Selena yang masih suka dimanja sebentar lagi akan memiliki seorang bayi.
Seseorang masuk ke restoran. Ia duduk tak jauh dari meja Selena, saling memunggungi. Beberapa menit kemudian, datang lagi seseorang yang duduk di meja perempuan yang telah menunggunya dan disambut dengan senyuman.
"Maaf sudah membuatmu menunggu." Ucap Angkasa.
"Tak apa." Jawab Ruby.
Suara itu, Selena mengenali dua orang di belakangnya. Namun tak berniat untuk mengganggu obrolan mereka, mungkin mereka masih akan membahas masalah kantor, batin Selena.
__ADS_1
"Sudah cukup kamu menghindar selama ini. Aku tahu kamu merasa bersalah kepadaku, tapi..."
"Aku minta maaf." Lirih Angkasa.
"Masalah kita selalu seperti itu. Bahkan ketika kita kemarin memulainya, aku juga sedikit ragu kita akan berhasil. Dan nyatanya memang begitu." Ruby menghela napas berat. Sakit, penyesalan, dan rasa bersalah turut menghantam batinnya. "Mari kita akhiri sebelum Selena mengetahuinya."
Angkasa merasa kalau ia sungguh pria yang jahat. Selama ini ia selalu saja menyakiti perasaan Ruby, bahkan di kali kedua mereka bersama, ia justru menyiksa Ruby sama seperti dulu. Ia tak mampu mengatakan sesuatu selain kata maaf. "Aku..."
Selena bangkit dari tempatnya dan berbalik. Saat itu juga manik matanya menumpu manik mata Angkasa. Manik mata penuh kesedihan itu ia harap bisa mengatakan segala perasaannya kini terhadap pria itu. Angkasa bangkit, bahkan Ruby penasaran dengan tatapan Angkasa. Tubuh Ruby serasa melemah mendapati Selena yang entah sejak kapan berada di belakangnya.
"Selena aku minta maaf. Semuanya sudah berakhir. Kamu boleh marah, kamu boleh menyalahkanku, kamu boleh pukul aku sampai kamu puas." Bahkan pria itu tak mampu menahan tangis. Ia sungguh takut kehilangan Selena. Angkasa baru menyadari tangisan kekecewaan Selena semenyakitkan ini untuknya.
__ADS_1
Ruby meraih tangan Selena. "Sel, aku sungguh menyesal. Semuanya bermula sebelum pernikahan kalian, tapi kami tidak benar-benar berkencan seperti yang kamu bayangkan. Sel, kamu tahu aku juga peduli terhadap perasaanmu. Aku hanya tidak siap mengakuinya. Asal kamu tahu Angkasa begitu mencintaimu."
"Tidak, aku yang salah. Sejak awal, aku tidak seharusnya bersama Angkasa. Aku terlalu naif mempercayai perasaannya. Tapi, kenapa harus menyembunyikannya dariku? Kalian bisa saja mengatakannya dan kita... Angkasa kita bisa mengakhirinya."
Angkasa menggelengkan kepalanya cepat. "Tidak ! Kita tidak akan mengakhiri apapun, Sel."
Air mata Selena seakan berlomba-lomba jatuh. Dadanya kian detik kian sesak. Bibirnya bergetar. Ia menyeka air matanya dengan kasar, lalu tersenyum miris ke arah Angkasa. Kemudian Selena pergi.
Sesaat Ruby ingin mengejar langkah laju Selena, Angkasa menahan lengannya. "Biar aku saja."
***
__ADS_1
Semoga suka. Salam manis, Bie.
Next?