Fait Accompli

Fait Accompli
Chapter 39


__ADS_3

Setelah Angkasa pergi ke kamar, barulah Mama bisa melanjutkan pembicaraannya bersama menantunya kembali. Mama juga yakin kalau jauh di sana Selena mampu mendengar suara Angkasa. Mungkin sekarang inilah cara terbaik untuk meredakan sedikit rasa rindu Selena. "Kamu masih di sana?"


Selena menyeka air mata dan menghela napas. "Iya, Ma masih di sini. Ma, apa dia benar-benar tak ingin makan?"


Pertanyaan itu mengandung perhatian dan kekhawatiran. Ia bahkan hampir tak sanggup mengatakan itu. "Sepertinya begitu, tapi Mama selalu mengantar makanan ke kamarnya entah ia makan atau tidak nantinya."


Hati Selena teriris. Hal itu mengingatkan bagaimana terjadi pada dirinya dulu, di saat ia terpuruk Angkasa selalu memintanya untuk makan barang sedikit saja, Angkasa membujuknya tak kenal lelah meski mendapat penolakan keras. Sekarang Angkasa seperti ini karena ulah dirinya.


Sambungan telepon itu tak lama kemudian berakhir. Kemudian Selena memandangi potret dirinya bersama Angkasa di layar ponsel. "Kamu pasti sangat menyesali semuanya saat ini, tapi itu tidak cukup. Aku tak ingin egois dan kembali hanya ingin memilikimu. Setengah tahun lebih kamu menghabiskan waktu bersamaku dan kita menyakiti orang lain, tapi seharusnya sekarang kamu bisa memanfaatkan waktu yang telah aku berikan padamu beberapa bulan terakhir."


Selena masih tak ingin percaya perkataan mertuanya kalau Angkasa benar-benar kehilangan atas kepergiannya. Ia tak ingin berharap. Meski Mama mengatakan bayi yang sekarang hidup di rahim Selena juga membutuhkan sosok Ayah, namun jika Angkasa sejak awal saja tak menginginkan dirinya, ia tak ingin. Tak ingin bayinya juga mendapat penolakan, itu akan lebih menyakitkan dari apapun saat ini.


"Kamu jahat, Angkasa ! Kenapa kamu masih mengusikku ketika aku sudah pergi darimu?"

__ADS_1


***


Rumor di antara Angkasa dan Ruby memang telah menyebar di perusahaan, namun Angkasa tak berniat sedikit pun untuk memecat sekretarisnya itu. Karena ini sejak awal adalah kesalahannya, dengan cara memecat Ruby, itu takkan memperbaiki apapun. Walaupun Ruby sendiri telah puluhan kali meminta untuk berhenti, Angkasa terus menolak. Ia tak ingin kehilangan seorang teman seperti Ruby.


"Jadi untuk besok, kita ada janji untuk makan malam bersama dengan rekan kerja kita yang baru di luar daerah." Demikian Ruby menyampaikan kepada Angkasa tentang jadwalnya besok, lalu pergi. Angkasa dan Ruby akan berangkat ke Jogjakarta.


Angkasa menyandarkan kepalanya yang terasa berat ke sandaran kursi. Tubuhnya memeluk bingkai foto pernikahan ia dan Selena. "Aku harus menemukanmu."


***


Bahkan Selena juga sering berenang selain melakukan senam hamil. Tak hanya itu, meski ada Asisten Rumah Tangga, Selena juga tak ingin hanya diam dan menunggu hidangan siap, ia juga ikut membantu memasak.


Dan setiap pagi, ia berdiri di atas balkon kamar. Menikmati sinar mentari dan menghirup udara yang sering kali membawanya terbang ke momen beberapa bulan lalu bersama Angkasa.

__ADS_1


Hari ini adalah tepat setahun mereka menikah. Fakta yang terus ia elak dari dirinya sendiri adalah rasa sakit ketika ia berpura-pura tak mencintai pria itu, kecewa ketika pria itu ternyata bukanlah untuknya, dan patah hati ketika ternyata ketakutannya terjadi dan pria itu benar-benar kembali kepada cinta masa sekolahnya.


Tiga hal itu terus mengusiknya, namun tetap saja ia tak mampu membenci pria itu. Sebab buah hati Angkasa sedang berada di dalam perutnya. Dan mendengar Angkasa tak hidup dengan baik, membuatnya kian terusik dan merasa bersalah. Selama ini ia rela menahan rindu, hanya demi Angkasa bisa bahagia.


Lalu, ketika malam tiba, ia merasa kesepian walau siangnya ada Dokter Fiona yang kini menjadi teman berbagi dan ada Asisten Rumah Tangga yang ia panggil dengan Bi Ratih, yang siap menjaganya agar tak kesepian. Ia membutuhkan Angkasa di sampingnya, ia tak suka fakta tersebut.


Untungnya sekarang Selena tak lagi merasakan mual. Jika begitu, ia mungkin takkan sanggup meneguk susu hamil yang harus ia minum teratur. Selena menaruh gelas minum itu di atas meja makan dan berjalan ke arah pintu. Sebelumnya ada suara mobil yang memasuki pekarangan rumah dan masuk ke dalam rumah dengan kunci yang dibawanya.


"Kenapa Mama datangnya malam begini, tidak seperti biasanya." Ucap Selena.


Kakinya terhenti. Tubuhnya membeku. Matanya memerah. Kini di hadapannya ada Angkasa, sosok ini sungguh nyata. Reaksi Angkasa juga sama, ia benar-benar tak menyangka kalau yang selama ini ia cari ada di rumah Eyangnya sendiri. Bibirnya bergetar, kakinya mendekat. "Sel, katakan ini bukan ilusi, benarkan?"


***

__ADS_1


Semoga suka. Salam manis, Bie.


Next?


__ADS_2