
Angkasa pergi ke kantor pagi sekali. Bahkan ketika Selena baru saja turun ke lantai bawah, mobil Angkasa sudah keluar dari gerbang. Terdengar dari deru mobil yang mulai menjauh ketika Selena menuruni anak tangga.
“Hati-hati, Angkasa.” Ucap Selena pelan, seolah kuping pria itu dapat mendengarnya.
Satu jam setelah suaminya pergi ke kantor, Selena pun juga telah selesai melakukan pekerjaan rumah. Tak ada kegiatan apapun yang dilakukan Selena, entah itu belanja atau berkumpul dengan teman-teman. Pertama, dia tidak terlalu suka belanja. Kedua, dia tidak memiliki sahabat selain Angkasa.
Selena menghubungi Bundanya karena saking rindunya ia. Meski ia mungkin akan menangis setelah telepon itu terputus. Tak apa, asalkan ia masih bisa mendengar suara wanita yang paling ia cintai di dunia ini.
“Assalamu’alaikum, Bunda.”
“Wa’alaikum salam, Sayang.”
Bahkan baru mendengar jawaban salam dari Bundanya pun ia ingin sekali berlari ke tempat wanita itu berada. “Selena rindu.”
Masih sama seperti biasanya, itulah yang ia luapkan. Lalu Bundanya membalas dengan hal yang sama. Mereka adalah dua orang yang saling merindukan. Cukup lama mereka bicara, namun Selena rasanya tidak ingin mengakhiri sambungan telepon.
Baru saja Selena meletakkan ponselnya di sofa, ponsel tadi pun kembali berdering. Kali ini bukan Bunda yang menelepon, melainkan Angkasa.
“Ha...”
“Pergi ke kamarku dan ambil berkas dengan map biru di meja kerja.” Angkasa langsung mengatakan yang permintaannya dengan memotong sapaan dari Selena.
“Ish, iya, iya.” Selena hanya pasrah, walau ia sedikit kesal.
“Cepat.” Desaknya lagi di telepon. Padahal Selena baru saja menaiki tangga.
Selena pun bergegas masuk ke kamar Angkasa yang memang tidak dikunci. Rapi. Setidaknya itulah kesan yang Selena ucapkan dalam hati ketika melihat tempat tidur suaminya itu.
__ADS_1
“Cepatlah sedikit.” Desak Angkasa lagi dan lagi. Pria itu bahkan bisa mendengar decak sebal Selena lewat sambungan telepon.
“Iya, sudah. Ini berkasnya sudah di tanganku.” Jawab Selena sambil mengamati berkasnya ialah yang diminta Angkasa.
“Bawa ke kantor.” Itulah perintah kedua dari Angkasa. Walau Selena sendiri juga sudah bisa menebak memang ia akan diperintah seperti itu. Tak apa, toh dia memang tidak ada pekerjaan lagi.
Mata Selena akhirnya tersita oleh bingkai foto yang terletak di samping tempat tidur Angkasa, bukan hanya satu atau dua, tapi ada tiga bingkai foto pernikahan mereka ada di kamar itu. Bahkan, Selena pun tidak punya satu pun di kamarnya.
Selama ini wanita itu menerka-nerka dimanakah foto pernikahan mereka berada, ia bahkan berpikir jika foto itu kalau tidak dibuang mungkin disimpan di gudang. Tak terasa air mata sudah membasahi pipinya.
Selena tersenyum getir, ia menggigit bibir bawahnya sambil menatap foto-foto itu. Ia masih tak percaya, namun juga ada rasa bahagia di hatinya, bahwa ternyata Angkasa tidak seburuk di pikirannya.
Sejenak kemudian ia menyadari air matanya telah benar-benar tumpah. Disapunya kemudian pipinya yang basah. Ia segera keluar dari kamar tersebut dan pergi ke kantor Angkasa yang sepertinya sudah sangat tak sabar menginginkan dokumen itu sampai ke tangannya.
***
Sesampainya di kantor Angkasa, Selena hanya masuk untuk mencari keberadaan pria yang katanya telah menunggu lama itu. Ternyata Angkasa berada di lobby bersama seseorang.
“Ini.” Ucap Selena sambil menyerahkan berkas yang ia bawa. Angkasa hanya menerima berkas itu.
“Ayah?” Panggil Selena. Ternyata orang yang bersama Angkasa itu adalah Ayah Selena, mertua Angkasa. Tanpa basa-basi Selena langsung berhambur memeluk pria parubaya itu. Melepaskan semua rindunya yang selama ini tertahan.
“Selena rindu Ayah.”
Selama ini Selena hanya bisa menghubungi Bundanya dan hanya menitipkan salam untuk sang Ayah, sebab ia tahu kalau Ayahnya merupakan orang super sibuk yang memiliki jadwal padat. Ia tak ingin mengganggu kesibukan itu.
“Ayah juga rindu kamu, Sel.” Jawab sang Ayah.
__ADS_1
“Yah, Angkasa kesana dulu. Nanti kalau urusan ini sudah selesai, Angkasa kembali lagi kemari. Angkasa permisi.”
Angkasa pergi meninggalkan sepasang bapak dan anak itu di lobby kantornya. Bahkan Angkasa tidak mengatakan terima kasih karena Selena sudah mengantarkan berkas penting itu kepadanya.
Selena juga benar-benar tidak tahu Ayahnya akan ke kantor Angkasa karena setahunya Ayahnya tidak memiliki kerja sama apapun dengan perusahaan Angkasa. Ia juga kesal kenapa Angkasa tidak memberitahunya kalau Ayahnya ada di kantor, jika ia katakan mungkin Selena bisa pergi secepat mungkin, pikirnya.
“Ayah ada urusan apa sama Angkasa? Perusahaan Ayah mau kerja sama?” Tanya Selena. Ayah Selena hanya terkekeh.
“Ayah kenapa tertawa?” Sekarang Selena terlihat seperti anak kecil yang protes.
“Kamu ini lucu, memangnya Ayah harus punya urusan bisnis untuk menemui menantu Ayah?” Sekarang Selena semakin tidak mengerti apa maksud perkataan Ayah.
“Terus apa?”
Ayah justru membuat Selena semakin penasaran dengan lama sekali baru memberikan jawaban. “Rahasia.”
“Ayah kenapa main rahasia-rahasiaan sama Selena?”
“Bercanda. Ayah mau minta bantuan Angkasa untuk mengurus perusahaan Ayah.”
“Maksud Ayah? Selena benar-benar tidak mengerti.”
Sekarang Ayah terlihat serius. Senyuman yang tadi terukir juga memudar. “Ayah dan Bunda mau kembali ke Amerika.”
Jantung Selena rasanya berhenti berdetak. Napasnya sesak. Matanya panas dan sudah berkaca-kca. Bibirnya terseyum pahit. Wajahnya juga seakan tak percaya dan tak ingin percaya dengan pernyataan itu.
***
__ADS_1
Semoga suka. Salam manis, Bie.
Next?