Fait Accompli

Fait Accompli
Chapter 23


__ADS_3

Sejak Selena yang pingsan pagi tadi, Angkasa tak berniat sedikit pun meninggalkannya sendirian di rumah. Angkasa juga semakin memperhatikan keadaan Selena. Kali ini benar-benar bukan karena keterpakasaan seperti yang disangkakan Selena, namun ia benar-benar peduli dan mengkhawatirkan wanita itu.


Tak peduli apakah ketulusannya bisa terlihat atau kah tidak.


"Kamu kenapa masih di sini?" Kata Selena yang protes karena Angkasa sejak tadi terus berada di sampingnya. Angkasa yang duduk di sebelahnya kemudian menoleh. Menatapnya sambil tersenyum.


"Memangnya salah kalau seorang suami duduk di samping istrinya?" Jawaban itu membuat Selena jengah.


"Memangnya sejak kapan kamu menganggapku sebagai istri? Kamu lupa selama ini kamu tidak pernah menganggapku ada. Bahkan memperlakukanku seperti virus yang harus kau hindari." Selena benar-benar tidak tahan. Ia tak ingin akan menaruh harapan yang tidak mustahil hanya karena sedikit diperhatikan oleh Angkasa.


Angkasa terdiam. Mencerna baik-baik kata demi kata yang terucap oleh mulut Selena. Senyum pahitnya terukir jelas, seolah mengisyaratkan ia sangat menyesal karena membuat kesalahan sebesar itu kemarin-kemarin.


Selena beranjak dari sofa. Namun, tangannya ditahan Angkasa dengan cepat. "Beri aku kesempatan." Selena menoleh ke arah Angkasa, dahinya mengerut.


"Untuk apa?"


"Memperbaiki semuanya."


***

__ADS_1


Sikap Angkasa benar-benar aneh di mata Selena saat ini. Apakah Angkasa yang dulu benar-benar sudah kembali? Atau ini hanya bersifat sementara, lalu dia kembali kehilangan nantinya? Saat ini yang terpenting bagi Selena adalah untuk mengabaikan setiap perlakuan manis dari Angkasa atau nanti ia akan terluka. Lagi. Lagi. Dan lagi.


Selena menuruni anak tangga dan berjalan menuju dapur. Kakinya sampai di depan lemari es. Mengambil botol yang berisi air putih, lalu menuangkannya ke gelas. Baru saja ia meneguk minumannya, saat itulah ada suara yang begitu mengagetkannya. "Obatnya sudah diminum?"


Uhuk !!!


Langsung saja Selena tersedak karena suara pria itu yang tahu-tahu sudah berada di belakangnya, entah sejak kapan. Wanita itu kesal, namun masih berusaha mengabaikan pertanyaan yang dilayangkan padanya beberapa saat lalu.


Angkasa menghampirinya sambil menengok ke angka-angka di arlojinya. "Kamu belum minum obatnya? Atau kamu mau makan dulu? Mau makan apa?"


Lagi dan lagi Angkasa diabaikan dan Selena langsung kembali ke kamarnya. Angkasa menghela napas dan menaruh kembali botol air itu ke dalam lemari es. Lalu menutup pintu lemari es setelah mengambil beberapa bahan makanan.


Baru lima menit pertama Angkasa di dapur, dia sudah mengobrak-abrik seisi dapur. Rusuh. Tapi, juga pemandangan yang lucu. Kegaduhan sampai terdengar ke lantai atas, tempat Selena mendekam diri. Kegaduhan itu sampai membuat kaki Selena tergerak untuk menengok apa yang dilakukan pria itu.


Di sana Angkasa terlihat sedang memotong-motong sesuatu dan sikutnya menyenggol wajan dan menimbulkan keributan lainnya. Selena jelas menyaksikan kejadian tersebut dari atas sana. Tak bisa ia pungkiri itu adalah adegan lucu yang pertama kali ia lihat di rumah ini. Sudut bibirnya secara spontan terangkat. Tipis sekali senyumnya.


***


"Cobalah." Angkasa memohon dengan sepenuh hati agar Selena mau memakan masakannya. Selena menatap malas ke hidangan yang tersaji di depannya.

__ADS_1


"Tidak mau." Hanya penolakan yang diterima pria itu atas apa yang telah ia lakukan. Angkasa kembali memohon sampai akhirnya Selena merasa iba melihat wajah sedih Angkasa. "Hmmm... Ya sudahlah. Akan aku makan."


Wajah Angkasa berubah cerah dan menyerangkan sendok untuk Selena. Pria itu memperhatikan gerakan dan ekspresi yang diberikan Selena ketika mencicipi masakannya. "Bagaimana?" Tanya Angkasa sedikit hati-hati.


"Lumayan." Jawabnya singkat. Angkasa bisa sedikit bernapas lega. Untunglah respon yang didapatkan tidak seburuk yang ia bayangkan sebelumnya. Nasi goreng yang dibuat Angkasa sebenarnya membuat Selena kagum karena bisa seenak ini, walaupun ini pertama kalinya Angkasa mencoba memasak. Angkasa bertambah senang dengan suapan kedua nasi goreng tersebut ke mulut Selena.


Di sana Angkasa memandang Selena yang sedang makan. Pria itu akhirnya tersadar dengan apa yang ia lakukan ketika Selena memperhatikannya. "Aku hanya..."


"Maaf." Lirih Selena. Wanita itu meletakkan sendok di piring. "Untuk semuanya. Karena sudah bersikap sangat kekanak-kanakan. Aku masih belum menerima semua keadaan ini. Pertama, hubungan persahabatan kita yang entah bagaimana sekarang. Kedua, kepergian Ayah dan Bunda secara mendadak. Itu membuatku jadi gila rasanya."


Masih sangat sesak rasanya saat Selena harus membahas hal itu lagi. "Aku tahu. Semuanya menjadi sangat asing bagimu dan juga bagiku. Aku juga begitu sangat kehilangan mereka, mereka juga orang tuaku. Dan sangat menyakitkan melihat kamu dalam keadaan terpuruk seperti itu."


"Kamu bisa pergi." Ucap Selena. Kalimat singkat itu berhasil mengejutkan Angkasa yang baru saja lega melihat Selena yang akhirnya mau makan dan berbicara dengannya. Susah payah bagi Angkasa menelan ludah ketika mendengar kalimat semacam itu.


***


Semoga suka. Salam manis, Bie.


Next?

__ADS_1


__ADS_2