
Sekitar jam tiga pagi, Angkasa terbangun dan mendapati dirinya yang masih berada di kamar Selena. Tangan mengucek-ngucek kedua matanya yang masih sangat mengantuk dan lelah, namun bola matanya membulat seketika ketika tak menemukan Selena di tempat tidur.
Angkasa segera bangkit dan berniat mencari wanita itu. Ia begitu buru ketika ingin keluar dari kamar tersebut. Lalu, langkahnya terhenti dan berbalik. Matanya menatap ke satu arah. Langkahnya juga tak secepat dan terburu-buru seperti tadi. Tangannya kemudian menyibak tirai yang menutupi pintu kaca ke arah balkon. Tangan itu kemudian mendorong pelan pintu kaca tersebut.
Ya, disanalah yang ia cari berada. Entah sudah berapa lama wanita itu menghidup oksigen malam yang tak menyehatkan tersebut dan membiarkan semilir angin yang cukup dingin itu membelai kulit indahnya. Pria itu sedikit lega, namun juga khawatir.
"Sel..." Panggilnya pelan ketika menghampiri. Orang itu sama sekali tak memberikan jawaban. Walau hanya sekedar berdeham atau apa.
Angkasa duduk di kursi yang letaknya tepat di samping kanan Selena. "Kamu sedang apa di sini? Udaranya dingin, nanti kamu bisa masuk angin."
Selena masih tak menjawab. Mata yang terlihat lelah itu tampaknya tak berniat untuk tidur. Perasaannya masih begitu pilu. Itu sangatlah menyiksa.
"Sel, ayolah." Pinta Angkasa sekali lagi. "Kita masuk, ya? Oke? Kamu jangan seperti ini, kamu... Kamu bisa sakit. Kamu tidak boleh seperti ini terus."
"Selena..."
Cukup lama Angkasa membujuknya. Ini benar-benar bukan Angkasa si pria yang menikahinya beberapa waktu lalu, namun ini seperti Angkasa si pria yang telah dikenalnya beberapa tahun lalu sebagai sahabat. Perhatiannya, caranya bicara dengan lembut dan penuh kasih, kekhawatiran, dan rasa peduli itulah yang hanya dimiliki oleh sahabatnya, Angkasa Bachtiar, yang sebenarnya.
Selena tiba-tiba beranjak dari kursinya. Ia masuk ke kamar seolah tak menganggap keberadaan Angkasa yang sedari tadi telah membujuknya. Selena benar-benar terlihat sangat menyedihkan.
Wajah lelahnya membuat Angkasa begitu mengkhawatirkan kesehatan Selena. Bagaimana pun juga Angkasa sekarang adalah satu-satunya orang yang bertanggung jawab atas Selena. Ia tak ingin mengecewakan Ayah dan Bunda yang sudah tenang di alam sana.
__ADS_1
Angkasa yang menutup pintu kaca itu terlihat menundukkan kepala. Beban di pundaknya terasa begitu berat, namun ia harus lebih kuat lagi, karena ia memahami beban di pundak wanita itu lebih berat lagi. Kehilangan orang yang paling dicintai di dunia ini.
Sesaat Angkasa berjalan menuju sofa, Selena yang duduk di tempat tidur menghentikan langkahnya. "Pergilah ! Ini kamarku."
"Aku pergi setelah kamu tidur." Kata Angkasa.
Selena berdecih pelan. "Terserah."
***
Pagi itu Angkasa sedang mengoleskan selai di roti untuk diberikan kepada istrinya di kamar. Pria itu hanya berharap Selena pagi ini bersedia sarapan, walau hanya beberapa gigitan roti. Sebelum pergi ke lantai atas, Angkasa mengecek ponselnya. Ya, pesan dari sekretarisnya yang mengingatkan kalau mereka ada meeting hari ini.
"Arghh ! Iya, aku ada rapat hari ini. Bagaimana mungkin aku meninggalkan dia sendirian di rumah?"
Angkasa menaruh nampan berisi susu hangat dan roti dengan selai nanas tersebut di atas nakas. Kemudian ia duduk di samping Selena berbaring.
"Mau apa lagi?" Ucap Selena bersamaan ketika ia membuka kedua matanya. Dengan nada sedingin itu, Angkasa semakin khawatir Selena akan melewatkan jam makannya lagi.
"Makanlah. Ada roti dengan selai kesukaanmu." Pinta Angkasa lembut.
"Aku tidak lapar." Justru jawaban seketus itu diterimanya.
__ADS_1
"Sel, sampai kapan kamu akan terus seperti ini? Kamu harus kuat. Bangkit dari kesedihan ini." Sekali lagi Angkasa berusaha menguatkan istrinya. "Aku juga kehilangan mereka, walau tidak sebanding denganmu. Tapi, kamu harus lebih tabah."
Selena beranjak dari tempat tidur. Dia berdiri di samping itu. "Keluar !!"
Angkasa menghampiri Selena. Namun, ia masih belum berniat keluar kamar. "Setelah kamu makan roti itu."
"Keluar aku bilang !" Titah Selena.
"Sedikit saja, Sel. Apa itu sangat sulit?"
Selena akhirnya tak sabar dan mendorong Angkasa keluar dari kamarnya. Wanita itu akhirnya berhasil mengusir Angkasa yang ia anggap mengganggunya. Ia yang sangat terpukul saat ini, benar kata Angkasa kalau ia sangat sulit untuk makan, bahhkan untuk meminum seteguk air.
Setelah mengunci pintu, Selena tersandar di depan pintu. Air matanya tumpah lagi. Hatinya hancur. Ia bahkan tak bisa berpura-pura untuk baik-baik saja seakarang. Ia merasa bahwa dirinya hanya tinggal sendiri di dunia ini sekarang setelah kepergian Ayah dan Bunda.
Bahkan, Angkasa, orang yang begitu dicintainya pun tak mampu ia jadikan alasan untuk tersenyum. Sebab, meski kelembutan dan perhatian Angkasa seperti saat ini adalah yang ia rindukan, di sudut hatinya yang lain merasa khawatir jika semua itu hanya untuk sementara dan ia nanti akan kembali terluka.
"Bahkan rasa pedulimu saat ini, itu belum cukup untuk menebus air mata ini menjadi seutas senyum."
***
Semoga suka. Salam manis, Bie.
__ADS_1
Next?