Fait Accompli

Fait Accompli
Chapter 22


__ADS_3

Satu hari lagi berlalu, sedang Selena masih saja sama seperti kemarin. Masih belum bisa menjalani kehidupannya dengan baik. Setidaknya sebelum kepergian orang tuanya, meski ia juga terluka saat bersama Angkasa, dia masih bisa menjalani semuanya sebaik mungkin.


Setiap pagi juga kini Angkasa membuatkan sarapan untuk sang istri. Ketukan pintu sudah terdengar di telinga Selena yang saat itu seperti biasa ia sudah terjaga. Pria itu kemudian masuk dengan nampan berisi bubur ayam kesukaan Selena yang sepagi sengaja ia beli dan berharap selera makan Selena muncul.


"Aku bawa bubur ayam kesukaanmu. Makanlah." Angkasa duduk di sebelah Selena. Manis sekali senyuman Angkasa pagi itu. Namun, Selena justru jengah dengan semua itu, dengan senyuman yang hanya meluluhkan Selena untuk menuruti permintaannya.


"Sejak kapan kamu sangat peduli seperti ini lagi? Kamu yang dulu itu sudah mati, kamu ingat?"


Itu semua dikatakan Selena dengan perasaan yang sangat sakit juga. Entah apa yang sedang terjadi dengan pernikahan mereka, sejak awal semuanya sudah sangat menyedihkan dan sekarang ditambah dengan hal yang terjadi akhir-akhir ini. Selena sangat frustasi. Jika saja ia masih memiliki Angkasa yang dulu. Kata-kata itu yang lelah ia katakan pada dirinya sendiri. bahkan Angkasa yang mendengar kalimat itu sudah cukup mengerti bagaimana hancurnya Selena.


"Aku minta maaf." Kalimat itu terdengar sangat tulus dan penuh penyesalan. "Terlalu banyak kesalahanku, aku tahu. Setiap hari aku juga merasa tersiksa dengan keadaan kita seperti ini, kita yang menjadi sangat asing."


"Kamu banyak bicara pagi ini. Aku pusing, mau istirahat." Nyatanya Angkasa tidak mau keluar kamar meski ia telah diusir.


"Katakan kamu mau makan apa saat ini? Aku akan cari sekarang juga."

__ADS_1


Kini Selena beranjak dari tempat tidur dan menarik lengan Angkasa dengan segala kekuatannya. Angkasa memang berdiri, namun ia masih tidak berniat keluar dari kamar sebelum berhasil melihat Selena sarapan.


"Keluar aku bilang !" Paksa Selena. Tidak berapa lama kemudian Selena merasakan tidak enak di perutnya. Ia segera berlari ke kamar mandi.


Lantas Angkasa mengikuti langkah Selena dengan kepanikan. "Kamu kenapa, Sel?" Namun, Selena terus memuntahkan cairan dari perut kosongnya, itu sangatlah menyakitkan. Kini Angkasa hanya mengelus tengkuk Selena yang sedang muntah. "Sudah kubilang kamu harus makan dan istirahat yang cukup."


Selena menatap wajahnya yang pucat di cermin kamar mandi. "Kamu berisik, aku pusing." Lirihnya.


Kepalanya memang sangat berat pagi ini, sampai ia tidak bisa tidur semalaman. Asam lambung Selena mungkin sedang naik karena ia tidak makan dengan baik. Sekali pun makan, ia justru makan makanan instan.


Selena kemudian tumbang ketika ia keluar dari pintu kamar mandi. "Sel ! Selena ! Bangun, kamu kenapa?!" Angkasa lagi-lagi panik mendapati Selena yang sakit seperti ini. Pria itu segera membawa Selena ke Rumah Sakit.


***


"Syukurlah kamu sudah sadar. Aku sangat khawatir." Lagi dan lagi Angkasa bicara dengan begitu lembut terhadap Selena, seolah ia yang dulu telah kembali untuk Selena.

__ADS_1


"Tadi aku pingsan?" Tanya wanita itu dan melihat infus di tangannya. "Sekarang aku sudah baik-baik saja, 'kan?"


"Iya, kamu pingsan. Sekarang, bagaimana perutmu? Apa masih tidak enak? Apa sakit?" Pertanyaan bertubi-tubi dan tidak seperti biasanya keluar langsung dari mulut Angkasa. Selena hanya bingung sembari menafsirkan raut di wajah suaminya tersebut.


Dia tidak boleh lemah, diktenya dalam hati.


"Aku baik-baik saja." Jawab Selena singkat sambil mengalihkan pandangan dari Angkasa. "Aku mau pulang sekarang !"


Angkasa menghela napas pelan. "Baiklah kalau kamu mau itu. Tapi, tunggu sampai cairan infus itu habis. Kamu benar-benar dalam kondisi sangat lemah."


Selena memandangi jarum infus yang menempel di tangan putih pucatnya. Helaan napas beratnya juga terdengar di telinga Angkasa. Ia sudah sangat muak dengan aroma khas obat-obatan ini, namun apalah daya, dia hanya mampu menuruti perkataan Angkasa yang benar adanya.


Di sana Angkasa dengan sabar menemani Selena yang kembali merebahkan tubuhnya yang lemah. Istrinya yang kini ia tahu sedang berpura-pura tertidur untuk sekedar menghindari obrolan dengannya. Ia tahu, betapa tidak sukanya Selena sekarang berada di Rumah Sakit bersamanya.


***

__ADS_1


Semoga suka. Salam manis, Bie.


Next?


__ADS_2