Fait Accompli

Fait Accompli
Chapter 24


__ADS_3

"Apa maksudmu aku bisa pergi?" Angkasa masih kebingungan dengan yang dimaksudkan istrinya.


Selena tersenyum masam. "Kamu pasti sudah mengerti maksudku. Seperti itulah."


Angkasa benar-benar tidak percaya kalau Selena benar-benar ingin mengakhiri hubungan mereka. Ia tidak terima. "Tidak. Aku akan tetap bersamamu. Baik aku atau pun kamu, tidak ada yang boleh pergi."


Selena mengedarkan pandangan ke sekeliling dan berakhir di Angkasa. "Kenapa? Kenapa aku atau kamu tidak boleh pergi? Aku berhak pergi, begitu pun kamu. Tidak ada alasan lagi untuk aku dan kamu bertahan di sini kalau tidak ada yang saling menginginkannya." Rasanya sakit mengatakan hal ini bagi Selena.


"Tidak ada yang bakal marah kalau aku dan kamu berpisah. Karena Ayah sudah pergi sangat jauh, kamu tidak usah khawatir." Kata Selena lagi dan diiringi dengan senyuman miring.


"Tidak !" Tolak Angkasa keras. "Sebelum akad aku sudah berjanji dengan Ayah untuk menjaga kamu selamanya."


"Tapi kamu tidak benar-benar berjanji, kamu hanya terpaksa mengatakannya dan menjalani semua ini bersamaku. Dan selama ini kamu jelas-jelas tidak menginginkan aku berada di sini, iyakan?"

__ADS_1


Angkasa terdiam. Dia bisa merasakan betapa hancurnya perasaan Selena saat ini. Meski air mata Selena belum tumpah, tapi kalimat-kalimat yang keluar dari mulutnya menyiratkan kekecewaan yang mendalam dan lukanya sangat parah.


Angkasa mencoba bersikap tenang di situasi sekarang. "Jawabanku masih tetap sama. Kamu tidak akan aku lepaskan. Tempat kamu ya di sini. Bersamaku. Sekali pun kamu mau pergi, aku akan menemukanmu."


Lalu Angkasa pergi dari tempat itu. Selena terlihat sangat frustasi. Ia singkirkan ke samping piring yang masih tersisa nasi goreng tersebut dan menelungkupkan wajahnya di meja makan. Air mata yang tadi berusaha di tahannya di hadapan Angkasa akhirnya tumpah.


***


Malamnya mereka masih tak bertegur sapa. Kebetulan hari ini Angkasa libur bekerja dan ia tak pergi kemana pun. Keduanya hanya berdiam di kamarnya masing-masing sejak pertengkaran siang tadi. Keduanya masih sama-sama canggung ketika tadi bertemu di ruang tamu saat Angkasa mengambil ponselnya yang tertinggal di sana.


Kini Angkasa sudah di depan Selena berdiri sambil mengacungkan jari kelingkingnya. Selena mengernyikan kening. "Ada apa?"


"Aku mau kita bersahabat lagi."

__ADS_1


Deg. Jantung Selena berpacu lebih cepat dari biasanya. Ayolah, Angkasa hanya mengajak untuk kembali bersahabat, kenapa jantungnya harus bereaksi berlebihan, batin wanita itu.


Angkasa masih menunggu istrinya menautkan kelingkingnya yang mungil itu ke kelingkingnya yang telah menunggu sedari tadi. "Hmm... Baiklah."


Ingatan Selena melayang ke kenangan beberapa tahun yang lalu saat Angkasa mengajaknya untuk berteman. Lucu sekali jika mengingat bagaimana ekspresi wajahnya saat itu. Tak bisa dibohongi bagaimana rinai kebahagiaan di wajah pria itu saat ini. Keduanya akhirnya terkekeh.


"Atas semua ini, aku minta maaf." Ucap Angkasa, entah untuk kali yang ke berapa ia mengatakannya, namun harus ia katakan karena dirinya tahu betapa besar kesalahan yang telah ia torehkan terhadap Selena.


Malam itu adalah pertama kalinya mereka kembali tersenyum, kembali tertawa, setelah sekian lama. Sejak hari pernikahan mereka. Senyuman, kebahagiaan, yang selama ini tergambar hanya topeng belaka di depan keluarga dan orang lain. Namun, kali ini semuanya berbeda, mereka kembali membangun hubungan yang bisa dikatakan sempat hancur. Lalu, hubungan itu adalah persahabatan.


***


Semoga suka. Salam manis, Bie.

__ADS_1


Next?


__ADS_2