Fait Accompli

Fait Accompli
Chapter 3


__ADS_3

Yeri sebagai Ruby



Pagi itu di tengah kerumunan anak-anak berseragam putih abu-abu, ada seseorang yang menjadi pusat perhatian mereka. Ia yang berjalan melewati lapangan basket dengan rambutnya yang terurai dan sedikit pirang. Wajahnya yang cantik dengan alis yang sangat simetris. Senyumannya kian detik kian manis. Ia yang membuat siapa saja terpesona di pertemuan pertama.


Seragam rapi khas SMA Nusantara, sepatu kets, dan bando hitam dengan aksen putih berpadu dengan rambut indahnya. Membuyarkan mereka berdua, Angkasa dan Valdo, yang sedang bermain basket pagi ini. Bola basket yang awalnya dalam kuasa Angkasa akhirnya bisa dirampas dengan mudah oleh tangan Valdo.


Nyaris saja Valdo memasukkan bola itu ke ring basket, Angkasa sudah tersadar dan berhasil menggagalkan bola itu lolos begitu saja. Angkasa, ia kemudian menghentikan permainan dan meninggalkan Valdo disana dengan kekalahannya, lagi.


Jam pelajaran pertama, kelas 10A tampak riuh ketika guru memasuki ruang kelas. Tak seperti biasanya. Pemicu utamanya jelas sekali adalah gadis yang menjadi sorotan tadi pagi. Siswi pindahan. Pak Anton kemudian mempersilakan untuk anak baru itu memperkenalkan diri.


“Halo ! Nama saya Amadea Selena. Kalian bisa panggil saya Selena. Saya pindah dari Amerika Serikat. Senang berkenalan dengan kalian.” Semua anak laki-laki disana tampak takjub, hampir semuanya, kecuali satu orang. Angkasa Bachtiar.


Perkenalan itu juga disambut dengan celetukan mereka yang memperkenalkan diri kepada Selena dan menimbulkan kebisingan yang tak perlu. Pak Anton kemudian mempersilakan Selena untuk duduk di bangku kosong di belakang Angkasa duduk. Belum sampai Selena ke tempatnya, Angkasa langsung berdiri tanpa ada yang menyuruhnya.


“Ada apa Angkasa? Kamu ingin mengatakan sesuatu?” Semua pasang mata tertuju ke arahnya. Tatapan bingung dari semuanya.


“Biar saya yang pindah ke belakang.” Angkasa kemudian tanpa dikomando memindahkan tasnya dan duduk di kursi belakang dan itu artinya Selena yang akan menempati tempat duduk Angkasa yang dulu. Tepat di depannya.


Senyum Selena mengembang untuk Angkasa sekaligus itu suatu isyarat akan rasa terima kasihnya. “Terima kasih.” Ucapnya lagi menegaskan.


“Sama-sama. Oh ya cantik, perkenalkan aku Angkasa Bachtiar. Cukup panggil Angkasa dan aku tidak pindah dari mana pun.” Perkenalan yang cukup aneh dari seseorang.

__ADS_1


Langsung saja Angkasa mendapat dehaman keras dari Pak Anton yang ia sedang memeriksa absensi kelas. “Menggoda siswi pindahannya nanti saja ! Ini. Kelas. Saya.”


Semuanya kemudian tertawa mendengar Angkasa yang ditegur guru Fisika itu. Tak terkecuali Selena dan Angkasa yang juga menganggap itu hal yang lucu. Sejak saat itulah mereka benar-benar menjadi sangat dekat. Sangat.


***


Di rumah sekitar pukul delapan malam, Angkasa belum juga pulang. Selena saat ini sedang berbicara dengan Bundanya di telepon yang menanyakan bagaimana rumah baru mereka. Berulang kali Bunda menanyakan dimana Angkasa, namun Selena harus terpaksa berpura-pura mengatakan kalau Angkasa sedang sibuk di ruang kerja.


“Bunda, Selena rindu.”


“Bunda juga rindu sama kamu sayang. Tapi mau bagaimana lagi, kamu sudah menikah dan kamu harus ikut dengan suamimu sekarang.”


“Tapi, Bunda...”


Selena tercekat mendengarnya.


“Tapi, Selena tidak bahagia sama Angkasa.” Batinnya.


Ingin sekali ia mengatakan semua keluh kesahnya pada siapapun, terutama dengan Bundanya. Namun, ia tak mampu melakukan hal itu. Sebab itu hanya akan membuat orang tuanya bersedih. Saat itu Angkasa pulang. Dia berlalu begitu saja di depan Selena yang baru saja selesai bicara dengan Bundanya di telepon. Tanpa menyapa sedikit pun, tepatnya Angkasa seperti tidak menganggap kehadirannya.


“Aku sudah masak untuk makan malam.” Ucap Selena. Angkasa menghentikan langkahnya.


“Aku sudah makan di luar. Kamu makan saja sendiri.”

__ADS_1


Selena menghela napas panjang. Dalam benaknya, ia ingin sekali menanyakan mengapa Angkasa begitu membencinya dan bahkan memperlakukannya seperti orang asing.


“Menyebalkan, kemana perginya Angkasa yang dulu?”


***


Akhirnya, Selena hanya makan malam sendirian. Tanpa Angkasa. Ia berusaha sekeras mungkin menelan makanannya. Dengan hati yang teriris. Bagaimana bisa di malam pertama mereka pindah ke rumah baru, pada akhirnya ia justru diperlakukan semenyedihkan ini oleh suaminya sendiri.


Selesai makan malam, Selena pergi ke kamar. Sebelum masuk, ia menatap ke pintu kamar yang terletak di sebelah kamarnya, itu kamar Angkasa. Dia dan Angkasa sudah sepakat untuk tidur di kamar yang berbeda. Selena menatap sendu pintu tersebut, lalu berusaha menyadarkan lamunannya dan masuk ke dalam kamarnya sendiri.


Selena benar-benar tidak bisa tidur. Bayangan ketika Angkasa mengucapkan akad pernikahan di depan penghulu dan Ayahnya pun kembali terulang. Ia pun menangis. Ingatan tentang kebersamaannya dulu bersama Angkasa juga terbayang.


“Kemana perginya kamu? Kenapa kamu harus pergi? Aku rindu kamu, Angkasa.”


Di kamar sebelah, Angkasa juga sama tidak bisa tidur seperti Selena. Padahal sudah sejak dua jam lalu ia berusaha tidur. Namun, tetap tidak bisa.


“Kamu seharusnya tidak di sini.”


***


Semoga suka. Salam manis, Bie.


Next?

__ADS_1


__ADS_2