Fait Accompli

Fait Accompli
Chapter 31


__ADS_3

Rencana Selena tak berjalan mulus ketika hanya ingin menonton film di kamar. Sebab fokusnya tersita oleh obrolannya bersama Mama mertuanya kemarin. Bahkan es krim dan cemilan yang telah ia sediakan tak tersentuh sama sekali.


"Oh iya, kamu mau dengar cerita Mama tidak?" Seketika lamunan itu terngiang di kepala. Yang membuat Selena cukup penasaran pada saat itu. "Kita menikahkan kalian bukan tak mendasar, melainkan kami cukup menyadari bagaimana perasaan kalian yang sebenarnya, meski kalian sendiri belum memahami perasaan kalian satu sama lain."


Sampai di situ, ia ingat jelas bagaimana rasa penasaran itu semakin kuat menjalar. Fokusnya ketika memasak bahkan sedikit terganggu.


"Jauh sebelum ini, Mama bingung kenapa Angkasa begitu perhatian dan khawatirnya terhadap kamu, bahkan saat itu kalian baru mengenal. Dan kamu tahu, tak pernah sehari pun Angkasa tak mengingat kamu, dia selalu bercerita bagaimana kamu di sekolah. Matanya sungguh berbinar menceritakannya ke Mama dan Mama cukup yakin kalau kamu sangat berarti baginya. Bahkan ketika Mama mengetahui dia menjalin hubungan dengan Ruby, dia masih memikirkanmu, dia begitu sebal ketika saat itu kamu lebih sering makan siang bersama Valdo di kantin. Bahkan pernah membatalkan pertemuannya dengan Ruby karena ingin menjemputmu yang kehujanan."


Sekarang Selena menatap ke arah Mama seakan mencari sebuah harapan yang akan keluar dari mulut wanita parubaya itu. Bahkan Mama juga menatap ke arahnya dengan tatapan penuh arti. "Kamu memahaminya?"


Lamunan itu begitu mengganggunya. Tentu saja ia memahami apa maksud dari perkataan wanita itu kemarin, meski ia masih begitu ragu itu nyata. Bukan tentang cerita Mama, melainkan maksud dari perasaan Angkasa terhadapnya selama ini, berbagai perhatian yang menimbulkan keambiguan untuk ikatan persahabatan mereka.


Selena mencari kotak yang berisi foto-foto kenangannya bersama Angkasa. Di sebuah foto polaroid pertama yang mereka ambil ketika menghabiskan waktu akhir pekan di dunia fantasi pun turut ia pandangi. Serangkaian kenangan itu seakan menumpuk otaknya tiba-tiba. Lalu matanya hampir berkaca-kaca setelah membaca kata-kata yang ia tulis di balik foto tersebut.

__ADS_1


"Aku mengagumimu lebih dari sekedar kata." Ya, itulah kalimatnya. Karena jauh sebelum hari ini ia menyadari perasaannya terhadap Angkasa. Karena perhatian Angkasa bagai bius yang melumpuhkan kendalinya terhadap perasaannya sendiri. Bahkan senyuman Angkasa seakan hal yang mengandung zat adiktif yang menimbulkan kecanduan baginya.


Air matanya terjatuh. "Nyatanya sekeras apapun aku mencoba, aku selalu gagal. Sampai di titik di mana kemarin kamu membenciku dan kita sangat asing, aku masih bertahan, walau aku mengatakan ingin pergi. Aku masih sangat mencintaimu, Sa."


Mendengar kalimat itu, Angkasa tertegun menatap punggung Selena yang sedikit menunduk. "Apa?"


Kontan Selena langsung menoleh dan benar-benar mendapati Angkasa yang berdiri di depan pintu kamar. "Angkasa?" Ia tergagap ketika itu.


Selena mengusap air mata di pipi, lalu mendongak. "Apa cinta perlu alasan? Apa aku bisa memilih siapa yang harus aku cintai? Kenapa? Apa kamu tidak bisa menerima hal itu di saat aku sendiri tak meminta balasan apapun terhadapmu? Kamu pikir kenapa aku masih bertahan di sini waktu kemarin kau mengabaikanku? Dan aku begitu sakit ketika kita sangat asing, kamu bahkan tak pernah menanyakannya. Sekarang jawab aku, Angkasa !"


Pada akhirnya perasaan yang bertahun-tahun ia sembunyikan akhirnya terbongkar oleh mulutnya sendiri. Ya, memang begitulah hukumnya, tak ada kebohongan yang abadi.


Angkasa melihat kalimat di belakang foto polaroid tersebut. Ia pun melepaskan pegangannya di bahu Selena. Angkasa keluar dari kamar dan meninggalkan Selena yang akhirnya terjatuh ke lantai yang kemudian tersedu. Beberapa detik berlalu dan Angkasa kembali. Ia ikut berlutut di hadapan Selena. Tangannya kembali memegang bahu wanita itu. "Kita luruskan sekarang juga."

__ADS_1


Kalimat itu sukses membuat Selena tak karuan rasa. Bagaimana jika Angkasa kali ini benar-benar pergi dari hidupnya?


"Tidak ada sahabat yang tidur bersama sahabatnya di tempat tidur yang sama. Tidak ada sahabat yang begitu tersiksa ketika mereka di situasi sangat asing. Dan tidak ada sahabat yang 'mengagumi lebih dari sekedar kata'."


Selena tak mengerti. Takut dibuai harapan. Angkasa menarik tubuh mungil itu ke dalam dekapan hangat. Mengusap pucuk kepala wanita itu dengan begitu lembut. "Mari kita saling menggenggam tangan selamanya. Karena aku juga sangat menginginkanmu di hidupku. Jangan pernah pergi dan temani aku selamanya, Sel. Aku mencintaimu."


Jantung Selena serasa dipompa sangat cepat. Di saat yang sama tangisnya akhirnya kembali pecah. Butiran cairan bening itu tak ragu terjatuh ketika mendengar pernyataan cinta Angkasa. Ya, dia juga membalas dekapan erat Angkasa. Yang Selena tahu saat ini, ia dan Angkasa saling mencintai. Mereka harus mengakhiri keambiguan hubungan ini dan hanya menatap ke satu arah saja untuk ke depannya dan untuk selamanya.


***


Semoga suka. Salam manis, Bie.


Next?

__ADS_1


__ADS_2