
Selena menangis. Angkasa berhambur memeluknya. Perasaan mereka yang beberapa bulan terakhir terasa mati, kini menghangat kembali. "Aku merindukanmu, Sel. Sangat."
"Apa ini nyata? Kenapa pelukannya begitu hangat? Jangan biarkan aku kembali berharap, aku mohon." Batin Selena. Wanita itu melepaskan pelukan dari suaminya. "Kenapa kamu di sini? Pergilah."
Pria itu menggeleng. "Tidak akan. Aku takkan melakukannya tanpamu. Aku tak ingin mengambil risiko akan kehilanganmu lagi. Kau tahu, aku bahkan meminta orang untuk mencarimu ke seluruh kota di Amerika Serikat."
Selena menghindari tatapan Angkasa. "Pergi aku bilang !"
"Apa hukumanku belum berakhir? Apa selama ini belum cukup? Aku sangat tersiksa kau tinggalkan. Kamu benar-benar bersembunyi dengan baik dan aku tak menyukainya. Jangan menghilang dari hidupku lagi, Sel. Karena aku..." Sesaat kemudian Angkasa menyadari perubahan di tubuh istrinya. Ia kebingungan lalu menatap Selena dengan tatapan penuh pertanyaan.
Tubuhnya melemah dan berlutut tepat di hadapan Selena. Barulah wanita itu bersedia menatapnya dengan pipinya yang basah. Tangan Angkasa memegang perut Selena. Awalnya wanita itu ingin menghindar, namun gagal. "Kau, ini?"
Sekarang tangis Angkasa adalah tangis bahagia karena ia bukanlah orang bodoh yang tak mengerti kenapa perut Selena membuncit. "Kenapa kau tak mengatakannya? Kenapa kau menanggungnya sendiri?"
Selena menarik napas dan berusaha menguasai diri. "Karena kamu mungkin saja menolaknya. Sejak awal, kau tak menginginkanku. Dan mungkin saja kau hanya kasihan atau yang terburuk kau takkan mengakuinya."
Angkasa bangkit. "Kau salah. Aku tak pernah berniat melakukan hal bodoh itu. Aku memang jahat karena sudah menyakitimu yang selama ini tulus, tapi aku takkan mungkin melukai darah dagingku sendiri. Apa kau masih tak percaya bahwa aku mencintaimu juga? Selena, aku mencintaimu. Aku mencintaimu. Aku... mencintaimu, Sel."
__ADS_1
Selena memeluk Angkasa erat. Ia menumpahkan segala kerinduannya yang tertahan. Mendengar hal itu, Selena tak mampu berkata apapun lagi. Pergi dari Angkasa begitu menyiksanya, tapi tak disangkanya kalau Angkasa tersiksa bukan hanya sebatas rasa sesal, melainkan karena rasa cinta.
"Kita mulai dari awal lagi dengan indah. Aku tak ingin menjadi suami dan calon Ayah yang buruk bagi kalian."
Selena tersenyum. Kini, mereka benar-benar bahagia. Seperti tekadnya, Angkasa akhirnya menemukan Selena, bahkan dengan tangannya sendiri yang tak pernah terpikirkan. Memang bersembunyi terbaik adalah di tempat terdekat, karena biasanya orang akan mencarinya ke tempat yang jauh, tapi ia lupa kalau mencari dan berlari ke tempat yang jauh itu melelahkan. Lalu akhirnya ia kembali ke tempatnya, kemudian menemukan yang ia cari.
***
Sepanjang malam mereka terjaga karena Angkasa meminta Selena menceritakan apa saja yang ia lewatkan dalam hidup istrinya tersebut. Ia sedikit kesal karena semua orang terdekatnya ikut andil untuk menyembunyikan keberadaan Selena.
"Awalnya aku memang ingin ke Amerika, tapi mereka melarang. Keluarga Om Tirta juga sibuk meneleponku dan menanyakan keberadaanku, mereka mengatakan kau mencariku di sana. Aku bahagia tahu kau mengkhawatirkanku, tapi kemudian aku pikir itu semua karena itu bagian dari rasa sesalmu." Angkasa terus memperhatikan Selena yang bicara.
"Tentu saja. Lalu apa lagi?" Selena bisa saja pergi tidur dan meninggalkan Angkasa dengan rasa penasaran, namun itu justru akan mengganggunya nanti dengan rengekan Angkasa.
"Valdo dan Ruby juga mengetahuinya." Kalimat ini sukses membuat Angkasa terkejut. Bagaimana mungkin?
"Kau bercanda?"
__ADS_1
Selena terkekeh. "Kau dengarkan dulu. Valdo bertemu dengan kami ketika ingin terbang kemari. Ia juga sedikit mendengar pembicaraan di antara kami, jadi kalau berbohong darinya mungkin saja membuat rencanaku gagal."
"Lalu dengan Ruby?" Tanya Angkasa.
"Aku mengangkat telepon Ruby pada akhirnya setelah berusaha menghindar dan menenangkan diri. Dia terus meminta maaf, meski aku tahu aku juga telah melakukan kesalahan. Kemudian, dia menceritakan mengapa dulu kalian berpisah. Katanya mereka sejak awal tidak ditakdirkan untuk bersama. Kau membuat kesalahan besar."
Angkasa menyadari itu. "Ya, aku selalu menyakitinya dengan selalu mengkhawatirkanmu."
Benar. Ruby tak berbohong, pikir Selena. "Kenapa?"
Angkasa menatap lekat manik indah itu. "Apa lagi kalau bukan karena aku mencintaimu."
"Tapi bukankah kamu dulu mencintainya?" Ia begitu mengingat bagaimana Angkasa ketika menceritakan tentang Ruby kepadanya.
***
Semoga suka. Salam manis, Bie.
__ADS_1
Next?