Fait Accompli

Fait Accompli
Chapter 26


__ADS_3

Paginya, Selena terbangun dan sedikit terkejut dengan dimana posisinya saat terbangun. Dia tertidur di sofa dan di samping Angkasa yang masih tertidur. Bahkan dia tertegun melihat wajah Angkasa yang cukup dekat dengan dirinya.


Jantungnya berpacu sepagi ini. Perasaannya masih saja sama, masih sama seperti dulu besarnya, mungkin semakin besar. Tak peduli bagaimana kemarin ia diperlakukan dingin, diacuhkan, oleh suaminya itu.


"Aku sayang kamu." Lirihnya sangat pelan tanpa ia sadari. Matanya juga berkaca-kaca. Lalu ia menyadari apa yang telah ia katakan. Buru-buru ia menyadarkan dirinya dan bersikap senormal mungkin. Juga berharap Angkasa tak mendengar lirihannya tersebut.


Selena mengubah posisi menjadi duduk. Ia menoleh ke arah Angkasa sedikit menggeliat, namun masih saja memejamkan mata. "Sa, bangun. Sudah pagi." Ucap Selena dengan suara sedikit serak.


"Hem? Ya ampun aku ketiduran di sini." Angkasa juga bangun dan duduk di samping Selena. "Maaf." Ucapnya sambil mengucek matanya.


"Iya tidak apa-apa. Ya sudah kamu mandi, kamu mau kerja 'kan?"


Angkasa seketika tertawa kecil. Membuat Selena heran menatapnya. "Kenapa?"


"Akhir pekan, Sel."


Selena menepuk dahinya. "Maaf aku lupa. Tapi, tetap saja kamu harus mandi." Kemudian ide jail muncul di otak Angkasa. Dia masih saja duduk di tempat semula, seakan tak berniat pergi dari kamar Selena.


"Angkasa, cepatlah !"


"Kamu mengusirku?"

__ADS_1


Selena menghela napas. "Iya."


"Aku tidak ingin mandi. Lagipula aku takkan pergi kemana pun hari ini." Mendengar omongan Angkasa itu Selena melemparkan bantal ke arahnya. Pria itu menangkap lemparan bantal tersebut dengan sigap.


"Galak." Ejeknya. Lantas ia mendapat tatapan tajam Selena. Ah, Selena benar-benar kesal.


"Biar. Kenapa tidak suka punya istri galak?" Angkasa tertawa keras karena berhasil membuat Selena kesal sepagi itu.


"Ya mungkin sudah nasibku mempunyai istri galak. Mau bagaimana lagi coba?" Tidak tahu lagi harus menjawab apa atas yang dikatakan Angkasa, Selena pun melarikan diri ke dalam kamar mandi.


Selena bahkan mengunci pintu kamar mandi. Ia bersandar di pintu sambil tangannya merasakan detak jantung yang tak karuan. "Syukurlah dia tidak mendengar apa yang tadi aku katakan."


***


Pria itu masih belum berhenti menjahili istrinya. Bahkan ketika Selena sedang memasak sarapan untuk mereka berdua. Sewaktu Selena memotong-motong sayuran, Angkasa menyenggol sikut Selena dengan sikutnya. Terdengar suara pisau yang seakan ingin memotong talenan tersebut.


"Kamu pernah dengar tidak ada suami yang dibunuh istrinya karena mengganggu istrinya sedang masak?" Ucap Selena kesal. Terdengar seperti ancaman, tapi ya itu memang ancaman untuk Angkasa.


Angkasa tersenyum geli. "Wah, belum pernah dengar. Tapi, itu terdengar sangat kejam."


"Ah, apa kamu tidak lapar? Aku bisa gila karena kamu terus saja mengganggu."

__ADS_1


Akhirnya istrinya itu menjewer telinganya. Tapi, tidak semudah itu Selena melepaskan tangannya dari telinga Angkasa. Ia masih terus memberikan pelajaran untuk Angkasa agar berhenti menjahilinya. Beruntunglah, getaran telepon milik Angkasa bisa menyelamatkannya. Pria itu memeriksa pesan yang masuk.


Matanya berubah. Guratan senyum itu pun tak ada lagi. "Aku harus menemui seseorang."


"Ke kantor? Ini 'kan hari libur. Kamu bahkan belum sarapan." Kata Selena.


Angkasa tersenyum. "Tapi aku harus mengurus ini segera." Angkasa lalu pergi setelah mengucek pucuk kepala Selena. Tak lupa dia mengambil jaket kulitnya karena Angkasa ingin mengendarai motor.


Ia melaju dengan cukup kencang membelah jalanan pagi itu. Selama perjalanan otaknya sedang bertanya-tanya tentang arti pesan yang ia dapat.


"Aku ingin membahas sesuatu."


Ia pun akhirnya sampai di sebuah kafe. Matanya menatap sekitar dan ditemukanlah orang yang ia cari. Walau sempat ragu, akhirnya Angkasa duduk di depan orang itu. Angkasa tidak tahu apa langkahnya untuk datang ke tempat itu adalah benar atau tidak. Tapi, sejujurnya memang ada yang ingin ia bahas dengan orang ini, walau ia sendiri juga tidak tahu jawabannya jika ia diberikan pertanyaan pada akhirnya.


"Aku lelah, Sa. Untuk terus dibayang-bayangi rasa bersalah terhadap Selena." Angkasa bergeming. Ia tak tahu bagaimana harus menanggapi apa yang Ruby katakan.


***


Semoga suka. Salam manis, Bie.


Next?

__ADS_1


__ADS_2