
Matahari seakan berotasi lebih cepat dari hari ke hari tanpa merusak segala momen yang mereka ciptakan bersama. Bahkan bermacam ekspresi wajah telah Selena tunjukan dalam beberapa hari terakhir, seperti ia yang dibuat merona oleh Angkasa karena diajak makan malam romantis, lalu dibuat tertawa ketika melihat atraksi memasak Angkasa yang bagaikan pertunjukan sirkus, juga bagaimana raut kesal jelas terpancar di wajah cantik Selena ketika melihat suaminya itu justru berkencan dengan setumpuk dokumen kantor. Jika sudah membuat Selena kesal dan marah, Angkasa segera memutar otak untuk meredakan kekesalan Selena, dengan apapun caranya dan dengan cara yang sederhana pula.
Pagi-pagi sekali istri Angkasa Bachtiar ini sudah bangun, bahkan bisa dikatakan sejak subuh ia sudah tidurnya terganggu karena rasa mual. Sekitar jam 3 dini hari, ia terbangun dan turun ke lantai bawah karena rasa haus untuk mengambil air minum di dapur. Namun, sejak saat itu ia mengalami mual hebat. Tubuhnya serasa melayang dan seakan tak mampu lagi menuju kamar mandi. Untungnya dia muntah di kamar mandi lantai bawah, jika tidak, ia pasti sudah mengganggu tidur nyenyak suaminya.
"Ah, apa yang salah denganku? Aku rasa tidak makan sesuatu yang salah kemarin." Selena tengah menatap pantulan dirinya di cermin besar kamar mandi. Wajah tanpa polesan terekspos dan cenderung pucat. Energinya terkuras habis, bahkan yang ia muntahkan bukan makanan melainkan hanya cairan bening dan itu sangat menyiksanya.
Angkasa terbangun sekitar jam 4 subuh dan tak menemukan Selena tidur di sampingnya. Ia langsung bangkit dan mencari Selena di kamar mandi, balkon, bahkan di kamar sebelah yang dulu ia tempati. Lalu, ia turun ke lantai bawah dan menemukan istrinya itu tidur di sofa ruang tamu.
Angkasa mengelus rambut Selena pelan. "Kenapa kamu tidur di sini?" Karena tak ingin membangunkan Selena, Angkasa hanya mengambil selimut untuk menutupi tubuh mungil Selena agar tak kedinginan. Ia pun tak bisa lagi melanjutkan tidur. Ia hanya duduk di samping Selena sampai wanita itu terbangun.
Mata Selena akhirnya terbuka dan melihat selimut yang menutupi tubuhnya. Lalu, ia duduk dan melihat Angkasa yang tersenyum. "Sudah bangun? Kenapa kamu tidur di sini?"
Selena mengusap-usap kelopak matanya dan ia terlihat begitu lelah, bahkan setelah bangun tidur. "Tadi aku mengambil air minum dan duduk di sini, tapi ternyata tertidur di sini. Aku mengantuk sekali."
Menurutnya Angkasa bahkan tak perlu tahu mengenai ini. Ia sudah hafal sekali bagaimana nanti reaksi Angkasa jika mengetahui dirinya sakit. Lagi pula perkataannya tak sepenuhnya kebohongan, ia hanya menutupi tentang mual hebat yang ia alami.
__ADS_1
"Wajahmu terlihat lelah. Kamu baik-baik saja?" Tanya Angkasa. Selena mengusap tengkuk dan berusaha menutupi semuanya dengan senyuman.
"Aku hanya masih sangat mengantuk." Bahkan Selena menguap untuk meyakinkan. "Kamu pasti bingung aku tidak ada di kamar dan justru tertidur di sini. Dan terima kasih selimutnya."
Angkasa hanya mencuit hidung Selena, lalu beranjak dari tempatnya. Alih-alih kesal karena perbuatan tersebut, Selena yang masih di tempatnya justru jantungnya berdebar tak karuan.
Bahkan ketika membuat sarapan pun Angkasa sudah rewel dari minta pilihkan dasi berkali-kali untuk rapat hingga minta Selena memasangkan. "Bagaimana kalau kita makan siang bersama hari ini di luar setelah aku selesai rapat?"
Selena menyelesaikan tugasnya dan meletakkan nasi goreng ke piring dan memberikan sentuhan akhir, memberikan keju yang banyak seperti permintaan Angkasa. "Tidak bisa."
Tampaknya menggoda Angkasa menyenangkan juga pagi ini, pikir Selena. "Tentu saja penting."
Tangan Angkasa menahan Selena dan ia membuat wanita itu untuk menatapnya. Berhasil, Angkasa sepertinya sudah kesal. "Siapa dia? Apa kamu ingin menemui Valdo lagi tanpaku?"
Selalu saja Valdo yang menjadi fokus Angkasa jika sudah begini, karena yang Angkasa tahu satu-satunya pria terdekat Selena selain dirinya ialah Valdo. Dan itu sudah membuatnya sangat kesal pagi ini. "Mama."
__ADS_1
"Ada apa dengan Mama?" Sahut Angkasa cepat tanpa berpikir panjang.
Selena mencubit pipi suaminya itu gemas. Anehnya Angkasa hanya diam. "Aku ingin menemui Mama di rumah."
Pria itu malu sekali karena Selena berhasil mempermainkan dirinya sepagi ini dengan memanfaatkan perasaannya. Wanita itu tertawa karena kekonyolan Angkasa. "Duduklah."
"Kenapa tiba-tiba ingin menemui Mama lagi? Bukankah seminggu yang lalu kalian bertemu?" Tanya Angkasa.
Selena menatap malas Angkasa. "Angkasa, seminggu yang lalu itu Mama yang kemari itu pun karena Mama menemui temannya yang baru pindah ke daerah sini dan sudah sebulan lebih aku tidak ke rumah Mama Papa kamu. Kamu lupa? Dan lagi besok mereka 'kan mau pergi ke Malaysia."
"Oh, jadi begitu. Baiklah, pagi ini aku akan mengantarmu ke sana, setelah sarapan langsung bersiap-siap dan nanti malam kita bisa makan malam bersama di sana." Ucapan itu mendapat anggukan tanda setuju dari wanitanya. Angkasa benar-benar tahu bagaimana keinginannya sampai ia melupakan cerita dasi yang menyebalkan tadi.
***
Semoga suka. Salam manis, Bie.
__ADS_1
Next?