Fait Accompli

Fait Accompli
Chapter 21


__ADS_3

Tidak seperti biasa, di jam istirahat makan siang Angkasa kembali ke rumah. Ia hanya ingin melihat keadaan Selena, padahal jika ia menitipkan istrinya ke orang tuanya semuanya akan lebih mudah baginya. Namun, ia merasa dirinya lah orang yang harus melakukan hal itu.


Deru mobil Angkasa yang memasuki area rumah terdengar jelas di telinga Selena yang duduk di tempat tidur dengan mata bengkaknya habis menangis. Dan Angkasa tidak bisa masuk ke kamar Selena yang saat itu masih terkunci sejak tadi pagi. Kepala Angkasa tertunduk. Ia memejamkan matanya untuk beberapa detik, lalu akhirnya mengambil kunci cadangan dari kamarnya.


Mungkin Selena tak tahu-menahu tentang kunci cadangan itu, namun wanita itu juga tak semarah seperti tadi pagi yang sampai mengusir Angkasa dari kamar. Sekarang wanita itu terlihat lebih tenang dan mata sembabnya bahkan tak tertarik untuk melihat ke objek yang baru saja masuk ke kamarnya.


Mata Angkasa langsung tertuju ke nakas yang masih ada sarapan yang belum juga disentuh Selena.


"Sel..." Panggilnya. "Kamu belum makan juga? Ini sudah jam makan siang."


Akhirnya Selena angkat bicara. "Kenapa kamu begitu terobsesi menyuruhku makan?"


"Karena kamu belum makan sedikit pun sejak kemarin." Jelas Angkasa.


"Lalu?" Tatapan dingin Selena menabrak manik mata Angkasa.


Angkasa kemudian duduk di pinggir kasur dan sedikit membelakangi Selena. Jemarinya kemudian memijit keningnya yang sepertinya sudah sangat pusing karena tingkah istrinya. "Kalau aku bisa mengembalikan waktu, aku akan mengembalikannya untukmu. Ke waktu di mana kamu dipenuhi kebahagiaan, bukan seperti sekarang yang kamu terjebak bersamaku. Di sini."

__ADS_1


Hati Selena sakit lagi, dadanya sesak lagi, ulu hatinya bagaikan diiris oleh sembilu. "Kirim aku ke LA."


Ya, karena di LA ada Jennie dan Sandra, kakak sepupu Selena yang sangat menyayanginya. Angkasa justru tak terima. Ia bangkit dari duduk dan berjalan ingin keluar dari kamar itu. "Aku pikir kamu masih belum memahami situasinya. Sekarang, kamu adalah tanggung jawabku. Bahkan mereka juga menitipkan kamu ke aku."


Kemudian, Angkasa pergi.


***


Malam itu, sekitar jam delapan, Angkasa masih ada di kantor. Di ruang kerjanya dengan jelas memperlihatkan suasana hati yang sedang dalam keadaan tidak baik. Ruby saat itu juga masih di kantor karena baru saja menyelesaikan pekerjaannya. Kemudian, Ruby masuk ke ruang kerja Angkasa, karena ingin mendapatkan beberapa tanda tangan bosnya.


Angkasa melempar senyum tipis dan mengangguk pelan. Namun, Ruby sudah pasti tidak mempercayainya. Kalau seseorang mengatakan dia baik-baik saja, itu terdapat dua kemungkinan, ia berkata jujur atau justru sebaliknya. Apalagi Angkasa hanya memberikan senyuman tipis dan anggukan kecil, tanpa mengatakan sesuatu.


"Kamu pikir aku percaya?" Ucap Ruby.


"Kamu harus percaya." Angkasa tertawa kecil.


"Aku pikir bukan waktunya kamu bercanda sekarang. Ini tentang Selena, iyakan?"

__ADS_1


Raut wajah Angkasa kembali sedih. Pria itu sangat sangat sangat mengkhawatirkan Selena yang ia tinggalkan di rumah sendirian. Namun, jika ia pulang sekarang, itu artinya ia harus bersiap dengan segala kemungkinan yang akan dikatakan Selena dari mulutnya. Seperti permintaannya tadi siang yang sangat tidak disukainya.


"Dia ingin aku mengirimnya ke LA." Akhirnya Angkasa mengatakannya ke Ruby. "Dia ingin tinggal bersama keluarganya di sana. Sedangkan aku sudah berjanji kepada Almarhum Ayah untuk menjaganya."


"Jadi kamu bingung dengan apa yang harus kamu lakukan?" Tanya Ruby sambil menatap raut Angkasa. Menafsirkan apa yang sebenarnya lelaki itu rasakan, selain bentuk kebingungan yang jelas terlihat.


Angkasa mengusap wajahnya dengan gelisah. "Dia sangat tersiksa saat bersamaku. Tapi, aku tidak bisa melepaskannya."


Ruby tersenyum tipis, ia berusaha memahami situasi Angkasa. "Menuruti apa yang hati kamu inginkan, itulah jalan terbaiknya. Yang terbaik untuk kamu dan Selena. Aku yakin kamu tahu itu."


"Yang terbaik?"


***


Semoga suka. Salam manis, Bie.


Next?

__ADS_1


__ADS_2