
Hwang Chansung sebagai Angkasa
Setelah pesta pernikahan usai dan sekelumit acara pertemuan dengan keluarga besar dari kedua belah pihak mereka jalani, Angkasa dipersilakan membawa serta “istrinya” itu ke rumah yang telah dipersiapkan untuk dihuni mereka berdua saja.
Angkasa dan Selena sekarang tengah menata barang-barang yang mereka bawa ke rumah baru mereka kini. Jika mereka tidak cocok disebut sebagai pasangan, keduanya sekarang juga begitu aneh jika dikatakan adalah sepasang sahabat. Sebab sejak mereka mengikat hubungan sebagai suami-istri di hadapan penghulu dan Ayah Selena, hubungan keduanya sudah tak lagi sama.
Pria itu kini menatap Selena yang mengangkat kotak besar ke kamar. Saat ini ia jadi teringat dengan pembicaraannya dengan kedua orang tuanya sebelum pernikahannya dilaksanakan.
Saat itu sama seperti yang dilakukan Selena yang memohon agar pernikahan itu jangan dilakukan. Angkasa juga meminta agar wanita yang menikah dengannya bukan Selena, yang selama tujuh tahun ini menjadi sahabat terbaiknya.
“Aku tidak bisa menikahinya, Pa.” Kata Angkasa. Ia ingin kali ini Papanya bisa mengabulkan permintaannya. “Angkasa tidak ingin membuat semuanya menjadi rumit.”
“Kamulah orang yang membuat semuanya menjadi rumit. Bukankah dia sahabatmu? Itu justru membuat kalian lebih mudah menjalin hubungan karena kalian sudah lama bersama.” Sekiranya itulah yang dikatakan Papa Angkasa. “Kamu mengatakan tidak bisa menikahinya, apa alasannya?”
Angkasa terdiam. Lalu, diamnya itulah yang membuat pernikahan akhirnya dilaksanakan.
Lamunan itu buyar ketika tiba-tiba telinga Angkasa mendengar suara jatuh dari lantai atas. Ia langsung berlari menaiki anak tangga. Tanpa diberi aba-aba Angkasa langsung masuk ke kamar tempat di mana ia menemukan Selena yang tersungkur ke lantai.
“Apa yang kamu lakukan?” Tanya Angkasa begitu dingin, namun Selena masih bersyukur setidaknya pria itu menanyakan keadaannya.
__ADS_1
“Aku terjatuh sewaktu ingin menaruh buku di rak buku itu. Aku sudah baik-baik saja sekarang.” Selena berujar demikian, namun saat ia berusaha berdiri kakinya terasa sangat sakit.
“Kakimu terkilir, bagaimana mungkin kamu baik-baik saja? Harusnya kau berhati-hati, kalau kamu sampai kenapa-kenapa, maka aku harus bertanggung jawab dan disalahkan.”
Bagaimana bisa Angkasa berkata demikian kepada Selena yang juga tak menginginkan kakinya sampai terkilir. Wanita itu benar-benar tidak bisa memahami perubahan sikap sahabatnya yang dulunya sangat baik terhadapnya. Dan sekarang di hari pertama mereka pindah, ia sudah dibentak oleh Angkasa.
Walau begitu, seperti yang dikatakan Angkasa, ia harus bertanggung jawab atas apa yang terjadi dengan Selena dengan berusaha memijat kaki wanita yang terkilir itu. Ia tidak memedulikan jeritan Selena yang menahan sakit di kakinya. Sampai saat Selena mengatakan kakinya sudah lebih baik, barulah Angkasa berhenti memijat. Lalu, pergi dari kamar tanpa permisi.
Angkasa kembali membereskan barang-barang bawaannya dari rumah yang lama ke kamarnya yang baru. Tapi, bukan ke kamar tempat Selena, melainkan kamar yang di sampingnya lagi. Mereka sepakat untuk tidur di kamar yang berbeda.
Pria itu begitu dingin sekarang, bahkan Selena, sahabat sekaligus istrinya kini sudah tak mengenal siapa pria itu. Pria itu bukan Angkasa Bachtiar yang sudah tujuh tahun dikenalnya. Dia orang asing bagi Selena, bahkan bagi dirinya sendiri.
Dia menata kamarnya serapi mungkin, sampai tak ada yang mengira kalau itu adalah kamar pria. Angkasa bahkan meletakkan foto pernikahan dirinya dengan Selena di samping tempat tidur. Entah apa maksudnya dia melakukan hal itu di saat ia mengatakan tidak ingin pernikahan itu terjadi.
“Aku akan menemui rekan kerjaku hari ini, kamu di rumah saja.” Ucap Angkasa yang makannya telah selesai. Hanya itu yang ia ucapkan dan pergi tanpa mendengar jawaban dari Selena.
Ditinggalkan suaminya yang dingin, Selena hanya bicara sendirian seolah Angkasa dapat mendengarnya, “Hati-hati.”
Spontan selera makan Selena hilang. Ia kemudian membereskan sisa makan siang itu ke dapur dan mencuci piringnya. Hari ini hari pertama mereka tinggal berdua, namun yang didapatnya hanya hanyalah bentakan, diabaikan, dan ditinggalkan. Sekarang baru hari pertama, entah apa lagi ulah Angkasa yang akan menyakiti hatinya.
“Aku merindukan kamu.” Lirih wanita itu.
__ADS_1
Sosok yang ia rindukan tak lain adalah Angkasa sahabatnya yang dulu. Mengapa Angkasa sebenci itu padanya sekarang? Itulah pertanyaan yang menghantui pikiran Selena yang sekarang duduk termenung sambil menonton televisi yang sebenarnya fokusnya bukan kesana.
Di tempat lain, Angkasa sedang menemui teman lama yang akan menjadi rekan kerjanya. Mereka bicara banyak soal pekerjaan dan soal masa sekolah dahulu.
“Aku sangat terkejut mendengar kabar kemarin. Tapi, selamat ya atas pernikahan kalian kemarin. Aku baru saja baru balik dari Australia. Jadi kemarin tidak bisa datang ke pernikahan kalian. Maaf, ya.”
Orang yang bicara itu adalah Bayu, teman Angkasa dan Selena di SMA dulu. Dia juga tak menduga kalau Angkasa dan Selena menikah.
“Santai saja. Tidak apa-apa. Terima kasih juga ucapannya.” Jawab Angkasa.
“Aku doakan semoga kalian langgeng.” Ucap Bayu lagi mendoakan pernikahan mereka. Sedang Angkasa hanya tersenyum membalas ucapan temannya itu.
“Kamu pria yang beruntung bisa mendapatkan hati Selena. Kalian sudah bersahabat sejak awal kepindahannya ke sekolah kita. Kau ingat?”
“Iya, kau benar. Sejak saat itu.”
Angkasa tersenyum miris mengingat hari itu, hari pertemuan pertama mereka. Sejak saat itu, Angkasa Bachtiar dan Selena Amadhea saling mengenal. Hari yang sangat indah dan penuh dengan suasana membahagiakan. Sejak hari itu, cerita mereka di mulai.
***
Semoga suka. Salam manis, Bie.
__ADS_1
Next?