
Malam yang telah datang pun masih tak bisa memperbaiki keadaan. Sejak tadi siang Selena masih betah duduk di sofa tempat ia merehatkan tubuhnya. Bahkan setelah selesai memasak hidangan untuk makan malam, ia kembali duduk disana. Ia menunggu kepulangan Angkasa.
Sesekali ia melirik jam dinding yang detak demi detaknya terus melangkah maju. Angkasa belum juga datang saat jam hampir mendekati angka sembilan malam.
Lima menit kemudian, deru suara mobil terdengar memasuki area rumah. Siapa lagi kalau bukan orang yang tengah ditunggu. Tidak berapa lama suara pintu terbuka lalu menutup menghantui pikiran Selena. Matanya tiga detik terpejam dan bayangan kejadian tadi pagi seolah terulang dalam ingatan. Mata itu terbuka. Pria itu semakin mendekat.
“Aku akan siapkan makan malam.” Selena kemudian berjalan ke arah dapur sebelum Angkasa mengatakan apapun. Seolah tak ada pertengkaran apapun tadi pagi, membuat Angkasa setengah heran dan setengahnya lagi tetap tidak peduli.
Lelaki itu berjalan menaiki anak tangga menuju kamar. Rasa penyesalan tentu ada di hatinya, apalagi setelah ia melihat bagaimana Selena masih menunggunya pulang dan sekarang tengah menyiapkan makan malam untuknya.
Setelah membersihkan diri, Angkasa turun ke bawah untuk makan malam. Hidangan sudah tertata di atas meja, namun orang yang telah menghidangkannya justru duduk di ruang tamu seperti tadi siang dan seperti yang saat Angkasa datang. Wanita itu matanya benar-benar fokus ke layar televisi saat Angkasa mulai menghampiri.
“Kamu tidak makan?” Tanya Angkasa. Jujur saja ini pertama kalinya Angkasa bertanya seperti itu, entah itu karena peduli atau hanya basa-basi, tapi itu benar-benar mengejutkan Selena.
Selena sama sekali tak berniat beranjak dari tempatnya. “Aku tidak lapar.”
Nada bicara itu. Mata yang sangat fokus dalam artian mengabaikan Angkasa. Sikapnya itu justru membuat Angkasa yakin kalau Selena tidak makan dari tadi siang. Mungkin sama seperti saat ini, Selena menghabiskan waktu dengan melamun di ruang tamu, pikir Angkasa.
Namun, pria itu tak mampu apa-apa. Jika Selena berujar begitu, itu artinya dia benar-benar tidak ingin diganggu. Angkasa hanya makan sendiri saja dan setelah itu dia pergi ke kamarnya, berharap setelah ia pergi ke atas Selena akan makan.
Benar saja setelah suaminya itu pergi ke kamar, Selena baru bersedia beranjak dari kursi. Sesampainya di meja makan ia heran mengapa makanan yang tersisa justru masih cukup banyak.
__ADS_1
“Kenapa dia makan sedikit sekali?” Pikir Selena dalam hati. “Ah sudahlah, dia pasti sudah makan di luar.”
Setelah makan dan mencuci piring kotor, tubuhnya baru merasa lelah. Tengkuk lehernya juga kaku. Pikirannya mengatakan ingin tidur selama mungkin, karena jika ia bangun ia sudah terlalu lelah menghadapi kenyataan ini.
Kakinya terhenti di depan pintu kamar Angkasa yang tepat berada di samping kamarnya. Ia hanya menatap pintu itu dengan nanar. “Aku iri kamu bisa tidur dengan nyenyak.”
Wanita itu selama ini berpikir bahwa Angkasa selalu tidur nyenyak setelah pernikahan mereka, walau sebenarnya dugaannya itu salah. Angkasa sebenarnya juga sama seperti dirinya, tidak bisa menjalani hidup dengan normal seperti biasanya. Bahkan Angkasa juga tak bisa tidur nyenyak dan memilih bekerja di ruang kerja rumahnya sampai ia benar-benar lelah.
Sampai hari ini dua manusia itu berusaha saling menyakiti diri mereka sendiri. Jika saja Angkasa mau sedikit bersikap baik padanya, Selena pasti akan menerimanya dan juga berbuat hal yang sama. Namun nyatanya hati Angkasa yang dulu sudah terlalu jauh pergi.
Wanita yang terlihat sangat lelah itu akhirnya masuk ke dalam kamarnya. Baru beberapa saat dia mengunci pintu, suara ketukan pintu terdengar. Jelas ia heran, di rumah hanya ada dirinya dan Angkasa. Pertanyaannya adalah mengapa Angkasa mengetuk pintunya?
Selena memutar gagang pintu tapi tak ada seseorang yang terlihat di depan sana. Ia keluar kamar dan melihat kalau pintu kamar Angkasa baru saja menutup. Memang dialah orang yang mengetuk pintu.
Selena kemudian melihat ke bawah tepat ada secarik kertas disana. Ia berjongkok mengambilnya.
“Maaf.” Tulis Angkasa disana.
Tangannya kemudian bergetar. Selena tak mengira jika akhirnya Angkasa akan meminta maaf, meski tak mengatakannya secara langsung. Air mata wanita itu perlahan jatuh. Kekesalahannya pada pria itu hari ini seakan melebur begitu saja. Bahkan ia tak peduli jika ia akan tertangkap basah oleh Angkasa kini sedang menangis.
Seutas senyum akhirnya terukir di sudut bibir Selena di tengah-tengah tangisnya. Ia hanya bahagia bahwa masih ada sedikit sikap lembut Angkasa yang tertinggal.
__ADS_1
“Aku hanya rindu.”
***
Angkasa yang meninggalkan Selena di bawah setelah makan malam hanya berharap wanita itu takkan menyiksa diri lebih lama lagi. Ia ingin bicara dan meminta Selena makan bersamanya, tapi ia paham betul itu mungkin menimbulkan penolakan.
“Sel, aku minta maaf.”
“Selena, aku tahu aku salah.”
“Soal tadi pagi,... Arrghh !”
Ketika Selena masih makan di lantai bawah, berulang kali Angkasa di kamar berlatih untuk minta maaf dan memilih kata-kata yang tepat. Mungkin Angkasa baru menyadari jika sikapnya ke Selena sudah sangat keterlaluan. Bahkan ia tak pernah melihat seorang Selena Amadhea bisa semarah itu.
“Aku tahu aku ini pengecut, Sel. Aku selalu saja menyakitimu.” Lirih pria itu. Alhasil Angkasa hanya mampu meminta maaf lewat secarik kertas, bahkan kata yang tertulis disana hanya, “Maaf.”
“Seandainya hari itu adalah hari ini, aku pasti takkan sesakit ini.”
***
Semoga suka. Salam manis, Bie.
__ADS_1
Next?