Fait Accompli

Fait Accompli
Chapter 12


__ADS_3

Saat Selena akhirnya lelah lalu tertidur di pundaknya, barulah Angkasa memindahkan wanita itu ke tempat tidur dan tak lupa menyelimutinya agar tak kedinginan. Angkasa menatap wajah sembab istrinya, hatinya ikut sedih melihat Selena yang seperti ini, Selena yang benar-benar tak ingin berpisah dengan kedua orang tuanya.


Angkasa kemudian kembali ke kamarnya. Namun, bukannya pergi untuk tidur, ia justru keluar kamar setelah mengganti bajunya dengan kaos polos putih dan membawa laptop serta beberapa berkas kantor.


Angkasa pergi ke ruang tamu yang letaknya di lantai bawah. Lumayan banyak pekerjaan yang harus diselesaikan. Dilihat dari matanya yang sangat tajam menatap layar laptop, dia sama sekali belum mengantuk. Mungkin ia hanya akan tidur jika semua pekerjaan itu selesai malam ini juga.


Paginya Selena terbangun dengan sisa-sisa lelah sehabis menangis semalaman. Ia terdiam mengingat apa yang terjadi semalam ketika Angkasa datang ke kamarnya dan menenangkan ia yang sedang menangis. Bahkan ia bisa menebak bahwa Angkasa lah yang memindahkannya ke tempat tidur.


Selena terus menekankan pada dirinya sendiri bahwa itu hanya reaksi kasihan yang ia dapatkan. Bukan apa-apa dan Angkasa yang dulu belum juga kembali. Walau ia tak memungkiri bahwa ia bersyukur kalau sisi lembut Angkasa yang dulu masih bisa ia temukan.


Setelah mengumpulkan nyawanya pagi itu dan sehabis mencuci muka, barulah Selena turun ke lantai bawah. Ia masih mengenakan baju yang sama seperti saat ia pergi ke rumah orang tuanya. Hanya saja sekarang dengan wajah yang tanpa riasan apapun.


Selena jelas melihat Angkasa yang tertidur di sofa. "Kenapa dia tidur di sini?"


Selena sebenarnya tidak ingin mengganggu Angkasa yang masih tidur, namun ia harus membangunkan Angkasa yang sekarang sedang mengigau tidak jelas. Keringat dingin terlihat di wajah Angkasa.

__ADS_1


"Sa, bangun !" Ucap Selena sambil menepuk-nepuk bahu Angkasa. Angkasa terbangun. Napasnya terengah-engah seolah ia habis berlari.


"Kamu mimpi buruk?" Tanya Selena.


Angkasa menatapnya. Kemudian pria itu berdiri dan membereskan laptop dan berkas-berkasnya. Tapi Angkasa justru berjalan menuju pintu.


"Kamu mau kemana?" Cegah Selena yang mengikutinya dan mendapat tatapan tajam dari orang itu.


"Bukan urusan kamu." Namun jawaban kasar yang keluar dari mulut Angkasa. Selena tidak merasa sudah memulai pertengkaran.


"Aku harus pergi. Minggir."


Selena masih belum mengizinkan Angkasa pergi. "Pergi kemana? Kamu bahkan baru bangun tidur. Apa sebenci itu kamu sama aku sampai kamu tidak betah di sini? Kita bahkan sudah tidak bicara lagi sejak..."


"Cukup !"

__ADS_1


Akhirnya Angkasa benar-benar pergi. Ia ke kantor dengan kondisi acak-acakan dan ini masih pagi sekali.


Yang tak dimengerti Selena dari Angkasa yang sekarang ialah pria itu selalu saja menumpahkan segala kesalahan ke dirinya, kesalahan yang bahkan tak dimengerti Selena letaknya dimana. Kadang Angkasa hanya diam dan mengabaikan dirinya dan kadang juga Angkasa bisa menjadi kasar seperti pagi ini.


Selena duduk di sofa yang tadi malam suaminya tidur di sana. Kepalanya tertunduk. Pelan tapi pasti pipinya sudah basah. Air matanya seolah belum lelah sehabis menangis semalaman. Ia jatuh lagi, lalu kali ini karena Angkasa yang tadi malam justru menenangkannya.


Sikap sarkas Angkasa membuatnya belum sempat untuk berterima kasih atas pedulinya tadi malam dan kini ia bingung masih akan berterima kasih atau kecewa. Angkasa sudah terlalu banyak menyakitinya. Seakan persahabatan mereka beberapa tahun ini tak berarti apapun.


Angkasa sungguh tega terus melukai Selena. Meski Selena diam saja, bukan berarti Selena rela untuk terus dilukai, bukan berarti Selena selalu sekuat itu menahan untuk baik-baik saja dengan keadaan ini.


"Kamu masih belum bisa melihatnya? Bagaimana aku menangis dan apa artinya ini? Aku bodoh terus di sini bersama kamu." Lirihnya. "Tapi kamu jauh lebih bodoh tidak menyadari perasaanku selama ini."


***


Semoga suka. Salam manis, Bie.

__ADS_1


Next?


__ADS_2