Fait Accompli

Fait Accompli
Chapter 5


__ADS_3

“Selena, tunggu !”


Selena menoleh ketika teriakan dari belakang dan suara sepatu menghampirinya. “Ada apa?”


Pria itu tersenyum ke Selena. Orang-orang di koridor itu pun menengok ke arah mereka, terlebih ketika Angkasa meraih tangan siswi pindahan itu.


“Kamu mau tidak jadi... sahabatku?”


Hening. Pertanyaan ini seperti...


Selena terkekeh setelah mendengarnya, tanpa memberikan jawaban atas permintaan Angkasa. “Kenapa kamu tertawa?”


“Oke, oke, maaf.” Ucap gadis itu mencoba menghentikan tawa. “Aku tertawa karena cara kamu mengatakannya seperti sedang menyatakan perasaan ke seseorang.”


Angkasa mengusap tengkuknya, lalu kembali tersenyum lebar. “Jadi mau atau tidak?”


“Baiklah, aku mau.” Jawaban yang singkat diterima Angkasa.


Alhasil Angkasa pun melompat kegirangan. Ia benar-benar aneh, tingkahnya benar-benar seperti seseorang yang sudah diterima cintanya. “Yes, diterima !! Terima kasih, cantik.”

__ADS_1


“Eitt... ini bukan modus kamu 'kan?” Selena menatap Angkasa curiga. Pria itu langsung menggeleng cepat. Ke kiri dan ke kanan, beberapa kali.


“Bukan ! Mana mungkin. Aku benar-benar ingin menjadi sahabatmu.” Ucapnya dengan penuh keyakinan. Angkasa lalu menarik tangan sahabat barunya itu ke arah kantin.


“Tunggu, kita mau kemana?” Tanya Selena dengan tatapan curiga, lagi.


“Ke kantin. Begini ya, kamu 'kan anak baru jadi kamu seenggaknya harus mempunyai sahabat di sini, kalau tidak ya takutnya kamu bakalan di-bully.”


Selena tercengang. Bullying? Memang masih ada?


“Kamu bercanda? Memang masih ada hal semacam itu di zaman sekarang?”


“Yaaa 'kan aku bilang ‘takutnya’.” Kilah Angkasa agar Selena tidak menanyainya yang aneh-aneh lagi. “Kita ke kantin sekarang, ya. Aku lapar sekali soalnya.”


Hari-hari semacam itu. Penuh tawa dan saling tukar senyuman, hari-hari itu tak bisa lagi dirasakan keduanya. Sulit dipahami apa yang membuat mereka begitu membenci ikatan ini. Ikatan yang suci berujung perpisahan sebenarnya pada keduanya, meski dalam benak mereka tak pernah pula terlintas untuk mengakhiri hubungan ini. Setidaknya untuk sekarang.


***


Selena pulang ke rumah dengan perasaan sangat tak mengenakkan. Langkah gontainya menunjukkan bahwa ia terlalu lelah pulang ke rumah itu jika hanya berujung akan ribut atau perang dingin dengan Angkasa.

__ADS_1


Wanita itu duduk dan menyandarkan belakang kepalanya ke sandaran sofa. Tangannya memijit tombol remote televisi. Namun, matanya terpejam seolah alunan suara televisi itu ia jadikan pengantar tidur.


Satu, dua, tiga, empat dan berhenti di detik kelima bola mata Selena terbuka. Walau nyatanya suara-suara kegaduhan di kepalanya jauh lebih kencang dari kicauan orang-orang dari alat elektronik segi empat itu.


Ia mendesah berat. Selama ia menjadi istri Angkasa Bachtiar, Selena menjadi susah tidur dan pola makannya sangat buruk. Kesehatannya bisa saja terganggu dan ditambah dengan perlakuan suaminya yang sangat menguji mental. Seperti tadi pagi. Bahkan sampai saat ini ia pun masih belum bisa mengistirahatkan otaknya barang sekedar semenit dari bayangan Angkasa.


“Kamu bahkan tidak minta maaf. Dan pergi begitu saja.” Matanya menatap kosong ke saluran televisi yang menyala. “Angkasa yang dulu benar-benar telah pergi. Hari-hari itu benar-benar tidak bisa aku miliki lagi bersamamu. Sesuatu yang paling aku rindukan, meski itu sekedar duduk di sampingmu. Yang kuinginkan adalah Angkasa sahabatku, bukan laki-laki yang ada di rumah ini.”


Di tempat yang lain, Angkasa yang sedang mengetik sesuatu di keyboard laptopnya tiba-tiba berhenti menjentikkan jemari-jemarinya. Matanya melirik ke bingkai foto di atas meja. Fotonya dan Selena saat masih SMA. Masa yang membahagiakan.


“Waktu benar-benar sulit dimengerti, seperti kamu saat itu.”


Raut wajah lelaki itu tampak murung. Tidak tahu apa maksud perkataannya, yang jelas itu adalah sesuatu yang berkaitan dengan apa yang terjadi di masa lalu mereka.


“Kamu pasti bertanya-bertanya kenapa aku sangat membenci pernikahan ini karena aku masih belum mengatakan apapun. Rasanya sangat sulit menerima kenyataan kalau aku menikah dengan sahabatku sendiri. Ya, aku tidak menginginkan ini. Maaf, Sel. Seperti keinginanmu dulu.”


Itulah yang tak mampu ia katakan, setiap kali ia ingin mengatakannya ke Selena, berbagai macam perasaan turut ikut campur merasukinya sehingga dirinya hilang kendali dan justru mengutarakan kata-kata kasar dan bersikap sedingin es. Tentulah itu bukan dirinya yang sebenarnya. Namun baginya ini lebih baik melihat Selena menaruh benci terhadap dirinya untuk sekarang.


***

__ADS_1


Semoga suka. Salam manis, Bie.


Next?


__ADS_2